El Nino Berpotensi Sangat Kuat, RI-AS Fokus Riset Laut untuk Antisipasi Kekeringan, Karhutla hingga Banjir

Jumat, 02 Okt 2026, 18:52 WIB

Jakarta - Indonesia dan Amerika Serikat (AS) memperkuat kerja sama riset kelautan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi El Niño 2026–2027 yang diperkirakan memberikan dampak berbeda di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington, Jumat (2/10), Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo mengatakan potensi El Niño perlu diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan nyata melalui observasi laut dalam, pengembangan instrumentasi, serta riset Indonesian Throughflow (ITF) atau yang dikenal di dalam negeri sebagai Arus Lintas Indonesia.

Ket. Foto: Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo saat berbicara pada Raja Selamanya Alliance Dinner” yang digelar International Union for Conservation of Nature (IUCN) bersama Earthbar di New York, Amerika Serikat, Senin (21/9). — Sumber: Antara

“Agenda ini merupakan bagian dari kerja sama iptek dalam kerangka Comprehensive Strategic Partnership Indonesia–AS,” kata Indroyono dalam webinar yang digelar KBRI Washington, D.C., BRIN, dan Scripps Institution of Oceanography pada 28 September 2026.

Menurut dia, kerja sama tersebut didukung Kapal Riset BRIN Baruna Jaya serta alokasi hari layar untuk mendukung kegiatan observasi dan riset kelautan.

Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN Luki Subehi mengatakan kemitraan BPPT/BRIN dan Scripps yang telah berlangsung sejak dekade 1990-an telah membangun fondasi kuat bagi riset ITF dan pengamatan laut.

“Kolaborasi berikutnya diarahkan pada observasi berkelanjutan di Selat Makassar, serta perluasan ke jalur ITF lain,” ujarnya.

Kolaborasi riset tersebut juga diselaraskan dengan UN Decade of Ocean Science, UNESCO Tsunami Ready, dan Sustainable Development Goals (SDGs).

Sementara itu, Dr. Mark Merrifield dari Scripps menyebut suhu muka laut di Pasifik sepanjang khatulistiwa pada Juni–Agustus 2026 telah meningkat hingga 1,4 derajat Celsius.

Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), suhu muka laut tersebut diproyeksikan menembus lebih dari 2 derajat Celsius hingga Februari 2027.

Merrifield memperkirakan peluang El Niño berstatus sangat kuat mencapai lebih dari 90 persen hingga Januari 2027. Peluang El Niño melampaui kekuatan seluruh kejadian sejak 1950 juga diperkirakan mencapai 75 persen pada Oktober–Desember 2026.

Peneliti BRIN Erma Yulihastin mengatakan dampak El Niño di Indonesia tidak akan seragam karena dipengaruhi interaksi dengan Indian Ocean Dipole (IOD), monsun, dan topografi wilayah.

Ia mengatakan hari-hari tanpa hujan pada 2026 dinilai lebih parah dibandingkan 2023. Kalimantan dan Papua menghadapi risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan, sedangkan Jawa berisiko mengalami penurunan produksi padi.

Namun, wilayah pegunungan seperti Bogor dan Bandung tetap berpotensi mengalami hujan ekstrem, banjir, dan longsor pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Proyeksi 14 model NASA juga menunjukkan potensi kekeringan dapat berlanjut hingga 2027–2028.

Webinar tersebut diikuti perwakilan Kementerian Luar Negeri, BRIN, Pushidrosal, BNPB, BMKG, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kemenko Pangan, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku.

Forum itu juga melibatkan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia serta Scripps, U.S. Office of Naval Research, dan University of Hawaii.

Dalam pertemuan tersebut, peserta menyepakati dua prioritas riset, yakni pengoperasian underwater glider di utara Papua serta studi percampuran air laut dan internal tide di Selat Makassar.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mengubah data laut dan iklim menjadi sistem peringatan dini El Niño serta mendukung langkah konkret untuk melindungi masyarakat Indonesia dari dampaknya.

  • Darurat El Nino

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.