Kenali Gejala Sejak Awal Agar Penderita Penyakit Ginjal Tak Harus Cuci Darah
Rabu, 29 Jul 2026, 15:07 WIBJAKARTA - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH., FINASIM mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala awal penyakit ginjal, terutama batu ginjal.
Menurutnya, keterlambatan penanganan gejala awal penyakit ginjal dapat memicu komplikasi serius hingga gagal ginjal yang memerlukan terapi cuci darah.
âKalau batunya kita diamkan, bisa menyebabkan infeksi, aliran urine menjadi tersumbat sehingga terjadi hidronefrosis atau pembengkakan ginjal. Kalau terlambat ditangani, akhirnya bisa menjadi gagal ginjal," kata Mutalib dalam peluncuran Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong di Auditorium Bethsaida Hospital, Tangerang, Rabu (29/7).
Ia mengatakan batu ginjal masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dijumpai pada layanan urologi di Indonesia. Kondisi tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran kemih berulang, penyumbatan aliran urine, penurunan fungsi ginjal, hingga gagal ginjal terminal apabila tidak segera ditangani.
Menurut Mutalib, masyarakat perlu mengenali gejala awal seperti nyeri pada pinggang atau punggung bagian bawah, nyeri saat buang air kecil, urine bercampur darah, maupun gangguan berkemih. Pemeriksaan medis sejak munculnya keluhan dinilai penting untuk mencegah kerusakan ginjal yang bersifat permanen.
Ia menjelaskan kurangnya asupan cairan menjadi salah satu faktor risiko utama pembentukan batu ginjal, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.
"Kalau kurang minum, tubuh cenderung mengalami dehidrasi. Kristal hasil metabolisme makanan akan berkumpul di ginjal dan lama-kelamaan membentuk batu," ujarnya.
Selain dehidrasi, konsumsi makanan, minuman, obat-obatan maupun jamu yang berpotensi merusak ginjal jika dikonsumsi berlebihan juga perlu diwaspadai. Karena itu, edukasi mengenai pola hidup sehat dan penggunaan obat secara bijak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit ginjal.
Mutalib mengatakan penyakit ginjal tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Kelompok usia produktif juga memiliki risiko cukup tinggi akibat kebiasaan kurang minum dan jarang menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.
Ia menyebutkan kasus batu ginjal banyak ditemukan pada kelompok usia 25 hingga 35 tahun. Pemeriksaan kesehatan, termasuk urinalisis, disarankan mulai dilakukan sejak usia muda, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga.
Selain itu, anak-anak juga perlu mendapat perhatian karena konsumsi minuman tinggi gula dan pewarna secara berlebihan berpotensi meningkatkan risiko gangguan ginjal. Orang tua diimbau mengawasi pola makan dan minum anak sejak dini.
Untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, Mutalib menyarankan masyarakat membiasakan minum air putih sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari, rutin berolahraga, serta menerapkan pola makan seimbang guna menjaga kesehatan ginjal dan metabolisme tubuh.
Sementara itu, Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan layanan terpadu Urology & Nephrology Clinic yang menggabungkan penanganan penyakit saluran kemih dan ginjal dengan teknologi minimal invasif guna mendukung deteksi dini dan penanganan yang lebih komprehensif.
- Cuci Darah
- Penderita Penyakit Ginjal
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.