Menkes Ungkap Layanan Kesehatan Primer Kunci Indonesia Keluar dari “Middle Income Trap”

Selasa, 28 Jul 2026, 17:40 WIB

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, menegaskan penguatan layanan kesehatan primer menjadi kunci memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia maju. Masyarakat sehat, menurut Budi, menjadi modal utama menghindari jebakan negara berpendapatan menengah sekaligus mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Pemerintah harus memastikan masyarakat tetap sehat agar produktif. Kesempatan emas dari bonus demografi ini tidak akan datang dua kali,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin saat membuka Leimena Conference 2026 di Jakarta, Senin (27/7).

Ket. Foto: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin — Sumber: RRI/Aditya Prabowo

Menkes Budi mengatakan Indonesia memiliki waktu yang terbatas untuk memanfaatkan bonus demografi. Karena itu, pembangunan kesehatan harus diarahkan pada upaya menjaga masyarakat tetap sehat, bukan sekadar mengobati orang yang sudah sakit.

“Strategi kesehatan yang benar adalah menjaga masyarakat tetap sehat, bukan mengobati orang sakit. Karena masyarakat yang sehat akan mampu bekerja, meningkatkan produktivitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.

Pemerintah memperkuat layanan promotif dan preventif melalui imunisasi, skrining kesehatan, edukasi pola hidup sehat, serta pemeriksaan berkala. Langkah tersebut bertujuan mendeteksi penyakit tidak menular sejak dini sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Selain itu, Menkes menekankan transformasi Integrasi Layanan Primer (ILP) mengubah pendekatan pelayanan kesehatan dari berbasis penyakit menjadi berbasis siklus hidup. Menurutnya, layanan kesehatan harus menjangkau seluruh kelompok usia, mulai dari remaja, usia produktif, hingga lanjut usia.

“Pelayanan kesehatan primer tidak lagi hanya berfokus pada ibu dan balita. Tetapi harus melayani seluruh siklus kehidupan masyarakat agar tetap sehat dan produktif,” ucap dia.

Dalam kesempatan itu, Menkes juga mengingatkan Indonesia memiliki sejarah panjang dalam pengembangan pelayanan kesehatan primer. Ia menyebut gagasan Prof. Johannes Leimena pada 1951 yang kemudian diwujudkan melalui pengembangan puskesmas pada 1968 bahkan mendahului Deklarasi Alma-Ata 1978.

Ia pun mengajak akademisi dan peneliti menghasilkan inovasi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, hasil riset harus mampu menjadi solusi nyata untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

“Riset tidak boleh berhenti sebagai karya ilmiah semata. Tetapi harus menjadi solusi yang memperkuat pelayanan kesehatan dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045,” kata Menkes Budi. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.