Pakar IPB Jelaskan Penyebab Suhu Dingin Malam Hari Saat Musim Kemarau

Kamis, 23 Jul 2026, 06:25 WIB

KABUPATEN BOGOR - Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Givo Alsepan, menjelaskan bahwa lonjakan suhu udara yang terasa jauh lebih dingin pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau merupakan fenomena alamiah yang dikenal sebagai bediding. 

Givo dalam keterangannya, di Bogor, Rabu, mengatakan fenomena bediding bukan dampak langsung perubahan iklim, melainkan bagian dari dinamika iklim musiman yang hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga September.

Ket. Foto: Diskanla Indramayu saat mengenalkan produk olahan bandeng hasil kolaborasi dengan IPB University di Indramayu, Jawa Barat. — Sumber: ANTARA/HO-Pemkab Indramayu.

"Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," katanya lagi.

Dia menjelaskan, fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah kondisi atmosfer yang lazim terjadi selama musim kemarau. Salah satu penyebab utamanya ialah langit yang cenderung cerah pada malam hari, sehingga panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.

Selain itu, udara pada musim kemarau umumnya lebih kering dibandingkan musim hujan. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat panas tidak banyak tertahan sehingga proses pendinginan berlangsung semakin efektif.

"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya.

Menurut Givo, kondisi tersebut lebih terasa di daerah pegunungan dan dataran tinggi, karena dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi serta aliran udara dingin yang cenderung berkumpul di lembah. Di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi itu bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.

Ia menambahkan, angin monsun Australia turut memperkuat fenomena bediding. Pada musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin, sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa karakter udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Menurut dia, fenomena El Nino yang sedang berkembang juga berpotensi memperkuat kondisi kemarau melalui penurunan curah hujan, kelembapan udara yang lebih rendah, serta langit yang lebih sering cerah pada malam hari sehingga proses pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal.

Givo mengimbau masyarakat menjaga kesehatan selama fenomena tersebut berlangsung, terutama anak-anak, lanjut usia, dan penderita penyakit pernapasan karena udara yang dingin dan kering dapat memperburuk gejala influenza, asma, maupun infeksi saluran pernapasan.

Ia juga mengingatkan masyarakat tetap mencukupi kebutuhan cairan tubuh meski cuaca terasa dingin serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat pada musim kemarau.

Menurut dia, fenomena bediding diperkirakan masih berlangsung hingga puncak musim kemarau pada akhir Juli hingga Agustus, bahkan di beberapa wilayah dapat berlanjut hingga awal September bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer.

"Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik," katanya.

  • cuaca ekstrem
  • fenomena bediding
  • suhu dingin kemarau
  • ipb university

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

Berita Terbaru

Hasil Play Off Liga Champions: LASK Balikkan Keadaan, Sabah dan Bodo/Glimt Pastikan Tempat di Fase Grup

Kesempatan Jadi ASN! Pemkab Kudus Ajukan 400 Formasi CPNS

Hasil Liga Spanyol: Gol Pablo Garcia Bawa Real Betis Permalukan Valencia 1-0

Pemprov DKI Hadirkan Bioskop Mini 43 Kursi, Putar Film Indonesia dengan Tiket Mulai Rp15 Ribu

Bruno Fernandes Jadi Pemain Terbaik PFA 2025/2026, Performa Cemerlang Bersama Manchester United!

Bruno Fernandes Dinobatkan Jadi Pemain Terbaik PFA Musim 2025/2026

Daop Jember Catat Lonjakan Penumpang, 107.686 Orang Naik KA Saat Libur Maulid Nabi

Muktamar NU ke-35 Dikawal Ketat! PBNU Pasang 100 Lebih CCTV untuk Pengamanan

Cegah Stunting Sejak Dini, Pemkab Jayapura Salurkan Telur Ayam Lokal

Jangan Sampai Terjebak Macet! Dishub Rekayasa Lalu Lintas Jelang Peresmian LRT Jakarta, Hindari Jalan Ini

TikTok Didenda Rp500 Miliar di Brasil, Gegara Gagal Lindungi Anak dan Remaja

PLTS 100 GWp Ditargetkan Rampung Tiga Tahun untuk Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Musim Kemarau Picu Penurunan Hasil Pertanian akibat Minimnya Pasokan Air

Libur Maulid Nabi, 36.755 Penumpang Gunakan Kereta Api di Wilayah Daop 8 Surabaya

Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan 2027 dengan Fokus Meningkatkan Produktivitas Pangan Nasional

Harga Daging Ayam di Temanggung Melonjak, Ternyata Ini Penyebabnya

Berawal dari Video Viral yang Bikin Geger! Polisi Tetapkan 2 Tersangka dalam Kasus Penganiayaan Pelajar

Banten Pacu Serapan Dana Desa, Koordinasi Diperkuat agar Tak Ada Dana Mengendap

Bukan Soal Taktik! Pelatih Van Gastel Sebut Mentalitas PSIM Yogyakarta Masih Jadi Masalah

Ancaman Karhutla di Depan Mata! Gubernur Papua Minta Warga Tak Bakar Lahan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.