BI Catat Uang Beredar Naik 8,7 Persen, Momentum Kredit dan Konsumsi Kian Menguat

Kamis, 23 Jul 2026, 13:25 WIB

JAKARTA – Likuiditas perekonomian menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah aktivitas ekonomi karena mencerminkan ketersediaan dana yang dapat digunakan masyarakat, dunia usaha, dan perbankan.

Likuiditas yang terjaga umumnya mendukung penyaluran kredit, konsumsi, dan investasi, sedangkan likuiditas yang terlalu ketat berpotensi menahan ekspansi usaha dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Ket. Foto: Arsip Foto - Petugas mengecek uang tunai sebelum didistribusikan melalui kantor cabang dan mesin ATM di Pooling Cash Plaza Mandiri, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ M Risyal Hidayat.

Karena itu, dinamika likuiditas perlu dijaga tetap seimbang agar mampu menopang stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juni 2026, dengan pertumbuhan sebesar 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), sehingga mencapai Rp10.432,8 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (23/7), menyampaikan bahwa pertumbuhan M2 tersebut melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 yang sebesar 10,8 persen (yoy).

Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,9 persen (yoy).

Lebih lanjut, perkembangan M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).

Penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,1 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 10,8 persen (yoy) pada Mei 2026.

Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans) dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.

Kredit yang diberikan juga tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.

Sementara itu, tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 10,1 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan sebesar 37,4 persen (yoy) pada Mei 2026.

BI juga melaporkan perkembangan uang primer (M0) adjusted yang pada Juni 2026 tumbuh 13,8 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 14,2 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.228,0 triliun.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,0 persen (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 12,7 persen (yoy).

Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.