Menkeu Purbaya Waspadai Lonjakan Harga Minyak Akibat Konflik Timur Tengah, APBN Diminta Tetap Tangguh

Rabu, 22 Jul 2026, 13:10 WIB

Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mewaspadai potensi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut. Kenaikan harga minyak dinilai dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam memberikan stimulus bagi perekonomian.

Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah telah menyiapkan strategi agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap mampu menghadapi dampak gejolak geopolitik global.

Ket. Foto: Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (kiri) menerima kunjungan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Pusat PBNU di Jakarta, Rabu (22/7). — Sumber: Antara

"Tadinya ketika saya berharap harga minyak turun ke 70 dolar AS per barel, sementara sebelumnya anggaran saya hitung dengan harga 100 dolar AS per barel, jadi ada ruang lebih untuk mendorong perkembangan ekonomi. Sekarang mungkin ruangnya berkurang, jadi saya harus lebih hati-hati," ujar Purbaya usai menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Rabu (22/7).

Meski menghadapi tantangan tersebut, Purbaya optimistis perekonomian Indonesia tetap memiliki daya tahan yang kuat karena didukung oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga.

Menurut dia, sekitar 90 persen aktivitas ekonomi nasional ditopang oleh permintaan dalam negeri sehingga gejolak ekonomi global tidak akan langsung mengguncang fondasi ekonomi Indonesia.

"Ekonomi Indonesia akan terus membaik ke depan meskipun ekonomi global sedang bergejolak. Sebab, sekitar 90 persen ekonomi kita didorong oleh domestic demand," katanya.

Kekhawatiran pemerintah muncul di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Menurut laporan Sputnik, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan rudal jelajah ke pusat data milik perusahaan teknologi AS, Amazon, di Bahrain sebagai balasan atas serangan militer AS terhadap lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Darkhovin di Iran.

Dalam pernyataannya pada Selasa, IRGC menyebut serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur pusat data Amazon di Bahrain.

Sebelumnya, pada Minggu (19/7), sejumlah media melaporkan militer AS menyerang lokasi pembangunan PLTN di Kota Darkhovin, Iran. Ketegangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia.

Harga Bensin AS Naik

Eskalasi konflik juga mulai tercermin pada kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat (AS).

Data terbaru menunjukkan harga rata-rata bensin jenis Regular telah kembali menembus 4 dolar AS per galon (sekitar 3,8 liter), setelah sebelumnya sempat turun ke kisaran 3,9 dolar AS per galon usai penandatanganan nota kesepahaman antara AS dan Iran pada pertengahan Juni.

Harga bensin di berbagai negara bagian juga mengalami perbedaan. California mencatat harga tertinggi sekitar 5,4 dolar AS per galon, sementara Washington dan Hawaii juga berada di atas 5 dolar AS per galon. Sebaliknya, harga bensin di Ohio masih menjadi yang terendah, yakni sekitar 3,8 dolar AS per galon.

Kenaikan harga energi tersebut terjadi seiring berlanjutnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Meski kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman pada Juni untuk meredakan konflik, situasi kembali memanas setelah AS melancarkan serangan baru sejak awal Juli.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah dan menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pada 9 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.