Survei BI Ungkap Lonjakan Kredit Baru, Mesin Ekonomi Menggeliat
Senin, 20 Jul 2026, 16:57 WIBJAKARTA â Penyaluran kredit baru menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur denyut aktivitas ekonomi. Peningkatan kredit menunjukkan optimisme pelaku usaha dan rumah tangga terhadap prospek ekonomi, sekaligus mencerminkan keberanian sektor perbankan dalam menyalurkan pembiayaan.
Namun, pertumbuhan kredit yang berkualitas tetap menjadi kunci, sehingga ekspansi pembiayaan tidak hanya mendorong konsumsi dan investasi dalam jangka pendek, tetapi juga menjaga stabilitas sistem keuangan melalui pengelolaan risiko yang prudent.
Bank Indonesia (BI) melalui hasil Survei Perbankan mencatat penyaluran kredit baru pada triwulan II 2026 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang mengalami peningkatan.
Nilai SBT kredit baru triwulan II 2026 tercatat sebesar 93,08 persen, lebih tinggi dibandingkan SBT 38,74 persen pada triwulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/7), menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit baru terjadi pada seluruh jenis penggunaan.
Lebih lanjut, berdasarkan hasil survei, nilai SBT tercatat meningkat pada kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi masing-masing sebesar 94,34 persen, 93,51 persen, dan 83,67 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Peningkatan kredit konsumsi bersumber dari peningkatan permintaan pada kredit pemilikan rumah (KPR)/kredit pemilikan apartemen (KPA) dengan SBT 78,20 persen, kredit kendaraan bermotor (SBT 67,95 persen), kredit multiguna (SBT 69,71 persen), dan kredit tanpa agunan (SBT 49,70 persen).
Sementara itu, permintaan kartu kredit (SBT 30,18 persen) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Adapun pada triwulan III 2026, penyaluran kredit baru diprakirakan tetap tumbuh dengan SBT sebesar 84,65 persen.
Prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru pada triwulan III 2026 diprakirakan masih sama dengan periode sebelumnya, yaitu kredit modal kerja, diikuti kredit investasi dan kredit konsumsi.
Mengenai kebijakan penyaluran kredit, perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru di triwulan II 2026 dibandingkan triwulan I 2026. Hal ini tecermin dari Indeks Lending Standard (ILS) positif sebesar 1,03.
Kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati tersebut, antara lain pada aspek suku bunga kredit, plafon kredit, perjanjian kredit, jangka waktu kredit, dan biaya persetujuan kredit.
Pada triwulan III 2026, standar penyaluran kredit diprakirakan lebih longgar, dengan ILS negatif sebesar 2,25.
Responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 terus tumbuh. Kondisi ini didukung prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap positif serta risiko dalam penyaluran kredit yang terjaga.
- Bank Indonesia (BI)
- kredit perbankan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Cara Unik Nelayan Berau Rawat Tradisi Sobat agar Tetap Hidup
-
Pendaki AS Pecahkan Rekor Kecepatan Mendaki Gunung Everest
-
IHSG Longsor Pagi Ini: Dari Rebalancing MSCI hingga Warning FTSE Russell
-
Konate Tinggalkan Liverpool Secara Bebas Transfer, Akhiri Kebersamaan Lima Tahun di Anfield
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
PT KAI Daop 7 Madiun Tutup Perlintasan Liar di Blitar
-
Minat Membludak! 85 Investor Incar Proyek Sampah Jadi Listrik di Semarang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.