- Home
-
- Megapolitan
-
- Mitigasi Banjir, Warga Pon...
Mitigasi Banjir, Warga Pondok Labu Pasang Smart Flood Warning System Buatan Sendiri di Lingkungan Permukiman
Senin, 20 Jul 2026, 08:21 WIBJAKARTA - Warga Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan memasang Smart Flood Warning System sebagai sistem peringatan dini untuk membantu mitigasi bencana banjir di lingkungan permukiman.
Lurah Pondok Labu, Nachnoer Vernier Atom mengatakan, inovasi tersebut merupakan gagasan salah seorang anggota Karang Taruna RT 02/10, Muhammad Azzuhri Ramdhani yang muncul setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Setelah mengikuti diklat BPBD, beliau memiliki gagasan membuat alat pendeteksi banjir karena juga tinggal di lokasi yang rawan banjir," ujarnya, Senin (20/7) dikutip dari Beritajakarta.
Vernier menjelaskan, Kelurahan Pondok Labu menjadi salah satu wilayah di Jakarta Selatan yang cukup rentan terhadap banjir. Banjir terbesar terjadi pada 2020 dengan ketinggian genangan mencapai hampir dua meter.
Menurutnya, posisi wilayah yang diapit Kali Grogol dan Kali Krukut menyebabkan sejumlah permukiman kerap terdampak luapan air ketika debit sungai meningkat.
"Tercatat sebanyak 158 kepala keluarga (KK) atau 540 jiwa di RT 01/10 terdampak banjir. Sementara, di RT 02/10 terdapat 120 KK atau 386 jiwa yang berpotensi terdampak," ungkapnya.
Sebagai tahap awal, ia memuturkan, dua unit Smart Flood Warning System telah dipasang di RT 01 dan RT 02/10. Kedua lokasi tersebut dipilih karena menjadi kawasan yang paling sering terdampak luapan Kali Grogol sekaligus menjadi tempat tinggal penggagas inovasi.
"Kami berencana memperluas pemasangan alat serupa di titik-titik rawan banjir lainnya melalui dukungan program CSR dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan," ucapnya.
Sementara itu, penggagas Smart Flood Warning System, Muhammad Azzuhri Ramdhani (23) memaparkan, ide tersebut lahir dari diskusi bersama rekan-rekan Karang Taruna yang memiliki kemampuan di bidang teknologi setelah mengikuti pelatihan kebencanaan BPBD.
"Setelah mengikuti diklat, kami mulai merancang alat ini hingga akhirnya dipasang di RT 02 RW 10 sebagai proyek percontohan di Kelurahan Pondok Labu," bebernya.
Ia menyampaikan, sebelum alat tersebut tersedia, penyampaian informasi mengenai potensi banjir masih dilakukan secara manual menggunakan kentongan, pengeras suara masjid, maupun memukul tiang listrik.
"Cara ini dinilai kurang efektif, terutama saat hujan turun pada malam hari karena informasi tidak dapat diterima secara cepat oleh seluruh warga," imbuhnya.
Azzuhri menyebutkan, alat pendeteksi banjir itu dirakit dengan memanfaatkan berbagai komponen bekas yang berasal dari swadaya masyarakat. Pemasangan unit pertama di RT 02 dilakukan menggunakan dana kas RT, dukungan warga, serta bantuan Karang Taruna pada akhir 2024. Sementara itu, pemasangan alat di RT 01 mendapat dukungan melalui program CSR FIF Group.
Ia menambahkan, tinggi genangan di kawasan tersebut sangat dipengaruhi intensitas hujan. Curah hujan deras selama sekitar 30 menit saja dapat mengakibatkan genangan setinggi sekitar 50 sentimeter.
"Alat ini dibuat agar masyarakat memperoleh informasi lebih awal. Banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini," tandasnya.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.