Kemarau Ancam Produksi Pertanian, Pemprov Sulut Bergerak Lakukan Antisipasi.
Senin, 20 Jul 2026, 17:52 WIBPemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) mulai melakukan langkah antisipasi terhadap dampak kemarau terhadap produksi pertanian di daerah setempat.
"Melihat kondisi cuaca saat ini, kami langsung melakukan antisipasi agar produksi pertanian di Sulut tetap meningkat," kata Gubernur Sulut Yulius Selvanus di Manado, Senin.
Dia mengatakan dalam menindaklanjuti Surat Menteri Pertanian tentang antisipasi dampak kemarau terhadap produksi pertanian serta antisipasi dini dampak musim kemarau 2026 yang berpotensi kekeringan itu, Pemprov Sulut langsung membuat langkah strategis.
Langkah-langkah strategis yang harus dilakukan dan diantisipasi, yakni melakukan pemetaan wilayah langganan kekeringan dan langkah sistem peringatan dini dengan memanfaatkan informasi cuaca dari BMKG untuk perencanaan tanam dan panen.
Selain itu, mengoptimalkan pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur air dangkal, dan sumber air lainnya, serta memanfaatkan pompanisasi, perpipaan, dan irigasi perpompaan.
Selain itu, melakukan percepatan tanam pada wilayah potensial dengan menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan seperti padi (inpago, Inpari, Situbagendit, Situpatenggang) dan jagung serta mewaspadai serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mungkin meningkat.
"Mengatur pola tanam sesuai kondisi iklim dan ketersediaan air pada masing-masing wilayah," katanya.
Pemerintah, katanya, meningkatkan koordinasi dan sinergi antara kabupaten/kota, perangkat serta seluruh pemangku kepentingan dalam pemantauan kondisi lahan pertanian sebagai upaya peningkatan produksi dan melaporkan produksinya kepada Gubernur Sulawesi Utara.
Petani sawah berasal dari Minahasa, Refly S, mengatakan saat ini hampir semua sawah di wilayah Langowan dan Kakas mulai kering yang pasti akan berdampak pada produksi padi.
Dia mengatakan saat ini, kondisi padi sawah masih dalam proses mengeluarkan buah, sehingga membutuhkan air yang cukup, akan tetapi saat ini aliran air sama sekali tidak ada.
Seorang petani sawah di Kakas, Welly T, mengaku kondisi sawah di wilayah setempat hanya bermodalkan air tadah hujan, akan tetapi sudah beberapa pekan terakhir ini, terjadi cuaca panas yang berdampak terhadap persediaan air.
"Kami berharap ada upaya pemerintah sehingga air bisa mengalir lagi di sawah."Â
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Neo+ Airport Jakarta Hadirkan 21 Vendor di Wedding Open House Bloom & Beyond
-
Jakarta Fair 2026 Dibuka Minggu Depan! Digelar Selama 32 Hari, Ayo Datang di Hari Pembukaan!
-
Amiruddin Minta PSSI Sumut Introspeksi Diri
-
BP3MI NTT Catat 63 Jenazah PMI telah Dipulangkan pada 2026
-
TBC Masih Mengintai Eropa, 9.000 Kematian Bayangi Warga
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.