Ketegangan Geopolitik Ubah Arah Pasar Global, Investor Perlu Lebih Selektif

Minggu, 19 Jul 2026, 06:00 WIB

Jakarta – Ketegangan geopolitik akibat konflik di Timur Tengah mulai mengubah arah pergerakan pasar global pada semester II-2026. Manulife Investment Management menilai kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi dan peluang investasi semakin tidak merata, sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih aset serta memperkuat diversifikasi portofolio.

Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, mengatakan ketidakpastian makroekonomi, tingginya harga energi, dan gangguan rantai pasok membuat sejumlah bank sentral diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat (hawkish) untuk menekan inflasi.

Ket. Foto: Produksi perhiasan logam untuk pasar ekspor. Perajin menyelesaikan proses pembuatan perhiasan berbahan logam di Studio Sweda, Kotagede, Yogyakarta, DI Yogyakarta, Jumat (10/7). — Sumber: Antara

"Pada saat yang sama, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara-negara dengan ketahanan energi domestik yang kuat atau yang terdorong langsung oleh tren besar teknologi terbukti jauh lebih resilien," kata Yuting di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia menambahkan, China mampu meredam dampak lonjakan harga minyak dunia melalui diversifikasi impor energi, pengendalian harga domestik, serta cadangan energi yang memadai.

"Dengan didukung pertumbuhan dasar yang solid, para pembuat kebijakan memiliki fleksibilitas untuk merespons secara dinamis apabila kondisi eksternal memburuk," ujarnya.

Sementara itu, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management, Luke Browne, menilai kondisi makroekonomi yang semakin beragam memperkuat pentingnya strategi investasi yang selektif dan terdiversifikasi.

Menurutnya, pasar tenaga kerja global yang masih kuat membuat pelonggaran suku bunga secara signifikan belum akan terjadi dalam waktu dekat.

"Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset," kata Luke.

Ia menilai kinerja laba perusahaan dan pertumbuhan ekonomi global masih cukup solid, namun risiko dan peluang investasi kini semakin berbeda di setiap kawasan maupun kelas aset.

"Meskipun pasar masih ditopang oleh kinerja laba yang resilien dan pertumbuhan yang stabil, risiko dan peluang menjadi semakin tidak merata antar kawasan dan kelas aset. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi dan pengelolaan investasi secara aktif," ujarnya.

Luke memperkirakan kepemimpinan pasar saham tidak lagi hanya didorong oleh saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dan sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tetapi juga aset berkualitas tinggi yang memiliki valuasi menarik.

Menurutnya, strategi investasi multi-aset yang seimbang akan menjadi kunci menghadapi volatilitas geopolitik dan dinamika valuasi, sekaligus memanfaatkan peluang investasi secara selektif, terutama di kawasan Asia yang masih didukung pertumbuhan struktural dan perkembangan industri AI.

"Kami juga melihat dukungan bagi aset riil tertentu, termasuk komoditas yang terkait dengan pengembangan infrastruktur AI, serta peluang pada instrumen kredit yang masih menawarkan imbal hasil menarik. Pada saat yang sama, kami lebih menyukai obligasi berdurasi pendek untuk membantu mengelola risiko suku bunga," ujar Luke.

Ketahanan Domestik

Di sisi lain, pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Chandra Purnama, menilai Indonesia perlu memperkuat ketahanan domestik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

"Kita harus menjaga ketahanan domestik sebagai contoh stabilitas bagi dunia. Kita perlu melihat ke dalam karena kita juga harus betul-betul mempertahankan ketahanan domestik," kata Chandra dalam webinar Global Insight Forum (GIF).

Menurutnya, salah satu langkah penting adalah menjaga stabilitas jalur pelayaran dan logistik di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), sehingga tidak ikut terdampak eskalasi konflik internasional.

"Kita tidak ikut-ikutan, dalam konteks perang, menjadikan laut kita sebagaimana yang dilakukan Iran terhadap Selat Hormuz," ujarnya.

Chandra juga menilai Indonesia perlu menghindari kebijakan yang berpotensi memicu ketegangan, termasuk wacana pemungutan bea lintas kapal dagang di Selat Malaka.

Selain menjaga stabilitas nasional, Indonesia juga dinilai perlu meningkatkan peran diplomatik dalam mendorong penyelesaian konflik global. Ia mengusulkan pembentukan aliansi negara-negara middle power sebagai wadah negara berkembang memperjuangkan perdamaian dan kepentingan bersama.

Selain itu, Indonesia dinilai dapat menginisiasi sidang darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Gerakan Non-Blok (GNB) serta mengoptimalkan diplomasi jalur belakang (backchannel diplomacy) guna membantu meredakan konflik melalui dialog nonformal.

Meski Amerika Serikat dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri permusuhan dan membuka jalan bagi perundingan damai, ketegangan kembali meningkat setelah pasukan AS melancarkan serangan baru terhadap Iran sejak 8 Juli. Washington menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas aksi Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.