Militer AS Lancarkan Serangan Baru untuk 'Menghukum Iran' atas Kematian Tentara AS

Minggu, 19 Jul 2026, 08:55 WIB

DUBAI — Militer AS mengatakan mereka melakukan serangan udara baru terhadap Iran pada hari Minggu (19/7) untuk "menghukum dengan cepat" Garda Revolusi negara itu atas serangan di Yordania yang menewaskan dua anggota militer Amerika, menyebabkan satu orang hilang dan empat lainnya membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Menurut Associated Press, Serangan-serangan itu dirancang untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam membatasi lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, kata Komando Pusat AS (Centcom). Jalur air tersebut menyumbang sekitar 20% dari pasokan minyak global sebelum perang.

Ket. Foto: Komando Pusat AS mengatakan pada Sabtu pagi bahwa serangan malam ketujuh berturut-turut mereka telah menghantam "situs pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim." — Sumber: AP

Serangan baru ini terjadi setelah militer AS mengumumkan kematian pasukan mereka akibat tembakan langsung Iran sejak hari-hari awal perang, menyusul serangan pesawat tak berawak dan rudal terhadap sebuah pangkalan di Yordania pada hari Jumat. Para korban tewas tidak diidentifikasi, dan Komando Pusat tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kematian tersebut.

Sejak perang dimulai, 16 anggota militer AS telah tewas dan lebih dari 430 terluka.

Menurut kantor berita IRNA milik pemerintah Iran, yang mengutip otoritas lokal di provinsi Hormozgan selatan, area dekat Sirik, di Selat Hormuz, menjadi sasaran serangan sekitar pukul 1:30 dini hari waktu setempat.

Sebuah lokasi di dekat Hajiabad, di provinsi yang sama, juga menjadi sasaran, dan ledakan terdengar di Bandar Abbas, menurut IRNA. Sebuah area di dekat Pulau Qeshm, di dalam selat, juga menjadi sasaran, menurut lembaga penyiaran milik negara Iran, IRIB.

Di negara tetangga, Irak, sebuah pangkalan Partai Kebebasan Kurdistan, kelompok pembangkang Kurdi Iran, di dekat Irbil dihantam oleh pesawat tak berawak pada Minggu pagi, melukai delapan anggotanya, menurut Rebaz Sharifi, seorang pejabat militer dari kelompok tersebut.

Warga Irbil, ibu kota wilayah Kurdi semi-otonom di Irak utara, juga mendengar ledakan dari pertahanan udara pada Minggu pagi.

Irbil telah menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak beberapa kali selama empat hari terakhir, yang bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Irak yang baru, Ali al-Zaidi, ke Washington pekan lalu dan eskalasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, tetapi di masa lalu baik Iran maupun milisi Irak yang didukung Iran telah melancarkan serangan di wilayah Kurdi, tempat pasukan AS dan kelompok pembangkang Kurdi Iran bersenjata berada.

Peringatan Pemimpin Tertinggi Iran 

Beberapa menit sebelum AS mengumumkan kematian pasukannya pada Sabtu pagi, pemimpin tertinggi Iran memperingatkan akan adanya “pelajaran yang tak terlupakan” jika AS terus menyerang Republik Islam tersebut.

Pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah dan dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei, yang masih belum terlihat sejak perang dimulai, juga menyebut tanda tangan Presiden Donald Trump "tidak berharga dan tidak sah." Seorang negosiator Iran mengatakan Teheran menangguhkan komitmennya terhadap kesepakatan sementara yang ditandatangani sekitar sebulan lalu dan bertujuan untuk mengakhiri pertempuran secara permanen.

Pernyataan Teheran memutus benang rapuh lainnya karena perang tampaknya belum akan berakhir. Kini Khamenei memperingatkan tentang "pelajaran" bukan hanya dari Iran tetapi juga dari proksi bersenjatanya di kawasan itu, menyebut mereka sebagai "Poros Perlawanan". AS mengeluarkan peringatan perjalanan atas meningkatnya ketegangan.

Pertempuran telah berfokus pada penguasaan Selat Hormuz. Serangan yang meluas kini mengancam warga sipil dan infrastruktur, termasuk pabrik desalinasi untuk air minum, sementara ekonomi global kembali dalam keadaan siaga.

AS telah melanggar komitmennya berdasarkan kesepakatan tersebut dan sekarang Iran "tidak lagi melaksanakannya," kata Kazem Gharibabadi, wakil menteri luar negeri Iran, kepada televisi pemerintah.

Tidak ada kabar terbaru mengenai upaya mediasi.

Tentara AS Hadapi Risiko Besar

Kematian anggota militer AS yang tercatat sebelumnya adalah seorang pilot helikopter yang jatuh di Laut Arab awal bulan ini. Di awal perang, serangan pesawat tak berawak Iran terhadap pusat komando di Kuwait menewaskan enam tentara. Satu tentara tewas setelah serangan terhadap pangkalan di Arab Saudi. Enam orang tewas ketika pesawat pengisian bahan bakar jatuh di Irak.

Pada hari Sabtu, kerusakan paling signifikan akibat serangan Iran terjadi di Kuwait, di mana sebuah pabrik desalinasi air dan fasilitas minyak terkena serangan, menurut pihak berwenang Kuwait dan Perusahaan Minyak Kuwait. Keduanya menolak untuk memberikan lokasi kejadian.

Ini adalah serangan kedua terhadap pabrik desalinasi dalam dua haridi negara gurun kecil yang bergantung pada desalinasi untuk 90% air minumnya. Serangan tersebut melukai beberapa orang di fasilitas minyak dan menyebabkan kebakaran di pabrik desalinasi, memaksa beberapa unit pembangkit listrik untuk berhenti beroperasi.

Beberapa petugas pemadam kebakaran dan seorang pekerja terluka saat memadamkan dua kebakaran lain yang dipicu oleh serangan Iran, menurut Dinas Pemadam Kebakaran Kuwait. Kuwait sempat menutup wilayah udaranya karena ancaman rudal, dan Kuwait Airways mengatakan akan menjadwal ulang sebagian besar penerbangan ke dan dari ibu kota.

  • Perang AS-Iran

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.