Ekspor Tak Boleh Mandek, RI Putar Otak Hadapi Aturan Bea Masuk Baru Arab Saudi
Minggu, 19 Jul 2026, 23:59 WIBJAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag RI) mendorong pelaku usaha Indonesia untuk tetap menjaga daya saing produk di pasar Arab Saudi, menyusul perubahan tarif bea masuk yang ditetapkan pemerintah setempat terhadap sejumlah komoditas impor.
Kebijakan baru tersebut memang memengaruhi komoditas impor Arab Saudi dari berbagai negara. Namun peluang untuk memperluas pasar di Arab Saudi bagi produk Indonesia dinilai masih terbuka lebar. Hal itu disampaikan Atase Perdagangan RI Riyadh, Zulvri Yenni, di Riyadh kemarin.
"Perubahan tarif oleh Pemerintah Arab Saudi perlu kita sikapi sebagai upaya membuka peluang baru. Indonesia masih memiliki peluang memperluas ekspor produk pangan dan perikanan bernilai tambah, khususnya produk yang belum diproduksi secara memadai oleh industri domestik Arab Saudi seperti kerupuk udang," ujar Zulvri.
Menurut Zulvri, perubahan tarif tersebut diterbitkan pemerintah Arab Saudi untuk melindungi dan mendorong perkembangan produk pertanian lokal. Kebijakan ini juga tetap sesuai dengan komitmen Arab Saudi pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Pemerintah Arab Saudi menetapkan perubahan tarif bea masuk terhadap sejumlah komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan produk pangan. Penetapan disampaikan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1447-88-10 tertanggal 15 Juni 2026 dan berlaku mulai 26 Juni 2026.
Perubahan tarif mengatur 51 komoditas, termasuk ternak hidup, daging, ikan, udang, produk susu, telur, buah-buahan, bunga, serta produk olahan pertanian.
Zulvri menilai penguatan sektor pertanian dan akuakultur Arab Saudi justru berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap produk dan jasa pendukung dari Indonesia.
"Penguatan sektor pertanian dan akuakultur Arab Saudi juga berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi budidaya, sistem rantai dingin, pakan, benih, serta berbagai jasa pendukung yang Indonesia miliki," katanya.
"Berbagai kebutuhan yang akan mengiringi kebijakan ini dapat menjadi peluang kerja sama antara pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi," tambah Zulvri.
Dirinya menekankan, produk Indonesia tetap mampu bersaing di pasar Arab Saudi selama memenuhi tiga kunci: kualitas, efisiensi biaya, dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.
"Selain itu, pelaku usaha Indonesia perlu memperhatikan pengembangan produk bernilai tambah agar tetap dapat berkompetisi di pasar Arab Saudi," ujar Zulvri.
Kemendag berkomitmen terus berkoordinasi dan memantau perkembangan kebijakan tarif Arab Saudi. Bersama Kedutaan Besar RI Riyadh, Kemendag akan mengidentifikasi dampak kebijakan terhadap ekspor Indonesia dan menyampaikan informasi berkala kepada pelaku usaha dan pemangku kepentingan.
Perdagangan Indonesia - Arab Saudi
Sepanjang JanuariâMei 2026, total perdagangan Indonesia dan Arab Saudi tercatat sebesar 2,19 miliar dolar AS dengan ekspor Indonesia ke Arab Saudi sebesar 843 juta dolar AS. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai 6,53 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia ke Arab Saudi sebesar 2,88 miliar dolar AS.
Komoditas ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi antara lain kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, berbagai makanan olahan, serta kayu dan barang dari kayu.
- Arab Saudi
- Ekspor
- bea masuk
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Singapura Perangi Kecanduan Gawai Anak, Luncurkan Gerakan Nasional Kurangi Waktu Layar
-
Kunjungan wisman periode Januari-April 2026 di Indonesia
-
Baru Setahun Beroperasi, Bus Transjakarta Rute PIK2-Blok M Sudah Melayani 1,4 Juta Penumpang
-
Uruguay Tertahan Perlawanan Gigih Arab Saudi, Persaingan Grup H Piala Dunia 2026 Makin Terbuka
-
Pemanfaatan lahan tidur untuk ketahanan pangan
-
Setelah 8 Bulan Ditutup, Ekspor Udang RI ke Arab Saudi Kembali Dibuka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.