- Home
-
- Luar Negeri
-
- Analis Intelejen Sebut Str...
Analis Intelejen Sebut Strategi Baru AS Lewat NATO Bidik 'Poros Otokratis' dan Gerus Kekuatan Russia–Tiongkok dan Iran
Sabtu, 18 Jul 2026, 00:00 WIBANKARA â Dukungan NATO terhadap Ukraina kini dinilai bukan lagi sekadar upaya membantu Kyiv menghadapi invasi Russia. Sejumlah analis menilai strategi tersebut telah berkembang menjadi bagian dari langkah geopolitik yang lebih luas untuk melemahkan poros otokratis yang dipimpin Russia, Tiongkok, dan Iran.
Analisis yang dipublikasikan Solid Info, platform intelijen strategis yang berfokus pada isu politik dan keamanan global, menyebut perubahan sikap pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan pergeseran besar dalam strategi Washington.
Dari Militarnyi, dalam KTT NATO di Ankara pada 8 Juli 2026, Trump secara terbuka menyatakan bahwa serangan Ukraina menggunakan senjata Barat ke wilayah Russia merupakan eskalasi yang diperlukan untuk mengakhiri perang. Ia juga mengumumkan bahwa Ukraina akan memperoleh lisensi memproduksi rudal pencegat Patriot di dalam negeri, sesuatu yang sebelumnya belum pernah disetujui Washington.
Saat ditanya mengenai kemungkinan penggunaan senjata jarak jauh terhadap Russia, Trump menyerahkan penjelasan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Rubio menegaskan bahwa tekanan militer terhadap Moskow bertujuan menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi proses negosiasi.
Menurut Solid Info, retorika tersebut sangat berbeda dibanding pendekatan sebelumnya yang berusaha mengakhiri perang melalui berbagai konsesi kepada Moskow. Kini, dukungan kepada Kyiv dipandang sebagai instrumen untuk melemahkan basis ekonomi, logistik, dan militer poros otokratis.
Dalam deklarasi penutup KTT, negara-negara anggota NATO berkomitmen memberikan bantuan militer sebesar 70 miliar euro kepada Ukraina sepanjang 2026 dan mempertahankan tingkat dukungan yang sama pada 2027.
Washington menilai investasi tersebut juga menguntungkan negara-negara Eropa karena keberhasilan Ukraina menahan laju Russia akan mengurangi kebutuhan belanja pertahanan negara-negara NATO di kawasan.
Infrastruktur Russia Jadi Sasaran Strategis
Laporan tersebut menyebut serangan jarak jauh Ukraina telah memberikan dampak signifikan terhadap sektor energi Russia. Hingga awal Juli 2026, sekitar 42,74 persen kapasitas penyulingan minyak Russia dilaporkan lumpuh setelah sedikitnya 194 serangan terhadap fasilitas energi sejak Agustus 2025.
Kerugian sektor energi Russia diperkirakan mencapai 13,5 miliar dolar AS, sementara produksi bahan bakar nasional turun sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Akibatnya, Moskow terpaksa melarang ekspor bensin dan bahan bakar jet, meningkatkan impor energi dari negara lain, serta semakin bergantung pada Tiongkok sebagai pembeli utama minyak dan gasnya.
Solid Info menilai kondisi ini justru melemahkan posisi Russia sebagai "mitra junior" yang efektif bagi Beijing.
Pada akhir 2025, sekitar 47 persen ekspor minyak mentah Russia mengalir ke Tiongkok. Selain itu, Russia juga meningkatkan porsi mata uang yuan menjadi 60 persen dalam Dana Kekayaan Nasionalnya, memperbesar ketergantungan terhadap sistem keuangan Tiongkok.
Tiongkok Ikut Menanggung Beban
Laporan tersebut juga menyebut meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi Russia berdampak langsung pada kepentingan ekonomi Tiongkok.
Beijing kini harus menghadapi risiko terganggunya pasokan energi dan bahan baku strategis, termasuk dari Pabrik Pengolahan Gas Amur, salah satu produsen helium terbesar dunia yang memasok kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan Tiongkok.
Selain itu, Beijing juga diperkirakan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menopang perekonomian Russia melalui sistem pembayaran yuan, mempertahankan kontrak energi, hingga melobi kepentingan Moskow di berbagai forum internasional.
Iran Dinilai Semakin Terisolasi
Analisis tersebut juga menghubungkan strategi baru Washington dengan meningkatnya tekanan terhadap Iran.
Menurut laporan itu, kerusakan infrastruktur Russia mengurangi kemampuan Moskow membantu Teheran, sementara serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah jalur logistik utama Iran semakin mempersempit ruang gerak negara tersebut.
Salah satu yang disorot adalah penghancuran jembatan rel Ak-Takeh-Khan di Provinsi Golestan yang memutus koridor logistik utama Iran menuju Russia dan Tiongkok melalui Asia Tengah.
Dengan melemahnya jalur pasokan tersebut, kemampuan Russia dan Tiongkok mendukung Iran disebut ikut berkurang.
Pergeseran Strategi Gedung Putih
Solid Info menyimpulkan pemerintahan Trump kini meninggalkan pendekatan diplomasi transaksional yang sebelumnya mencoba menarik Moskow menjauh dari Beijing melalui berbagai konsesi.
Sebagai gantinya, Washington memilih strategi yang berfokus pada pelemahan kemampuan ekonomi dan logistik Russia sehingga secara tidak langsung juga mengurangi kekuatan seluruh poros otokratis.
Analis menilai perkembangan perang Ukraina sepanjang 2026 justru menghasilkan dampak yang berlawanan dengan harapan Russia dan Tiongkok. Jika sebelumnya konflik diperkirakan akan menguras sumber daya negara-negara Barat, kini justru Russia mengalami tekanan ekonomi yang semakin besar, Iran menghadapi keterisolasian yang meningkat, sementara Tiongkok harus menanggung beban lebih besar untuk mempertahankan dua sekutu utamanya.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Ukraina, yang semula dipandang sebagai titik lemah blok demokrasi, kini telah berubah menjadi faktor yang secara signifikan melemahkan poros otokratis dalam persaingan geopolitik global.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Tata Kelola Ekspor SDA Mulai Berlaku 1 Juni, Airlangga Hartarto Laporkan ke Presiden
-
Trump Klaim "Menang" Saat NATO Setujui Kenaikan Anggaran Pertahanan Besar-besaran
-
Perkuat Transformasi Digital Perusahaan, Patra Drilling Contractor Gelar QT-PIE 9
-
Masyarakat Diminta tidak Mendekati Kawasan Bahaya Gunung Lokon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.