Peluang Melemah Terbuka, 16 Juli 2026

Kamis, 16 Jul 2026, 08:40 WIB

JAKARTA – Rupiah berpotensi kembali melemah pada perdagangan, hari ini (16/7) seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut mendorong investor ber­alih ke aset aman seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. 

Apabila ketegangan berlanjut dan memicu kenaikan harga energi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi semakin besar melalui meningkatnya risiko in­flasi dan pelebaran defisit transaksi berjalan.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah bakal dipengaruhi sentimen kebijakan fiskal menyusul defisit APBN 2026 diproyeksi­kan melebar menjadi 734,32 triliun rupiah. Selain itu, per­kembangan eskalasi geopolitik di Timur Tengah juga turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terha­dap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, (16/7) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di ki­saran 18.060–18.110 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (15/7) sore menguat 23 poin atau 0,13 persen dari sehari sebelumnya menjadi 18.068 ru­piah per dollar AS. “Penguatan rupiah dipengaruhi menu­runnya ekspektasi The Fed untuk menaikkan suku bunga,” ujar Analis Doo Financial Futures Lukman Leong.

Dia menambahkan rupiah ditutup menguat terhadap dollar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu menurunnya ekspektasi pada The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS melam­bat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026 yang di bawah ekspek­tasi pasar karena penurunan tajam harga energi mendorong penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Tingkat inflasi tahunan melambat dari 4,2 persen pada Mei 2026.

Indeks Harga Konsumen turun 0,4 persen pada Juni dari bulan sebelumnya pasca naik 0,5 persen pada Mei. Adapun inflasi inti, tak berubah secara bulanan dan melambat jadi 2,6 persen per tahun dari 2,9 persen pada Mei.

Karena rilis data inflasi tersebut, proyeksi baru menunjuk­kan sembilan pejabat Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga seperempat poin tahun ini, sementara sembilan lainnya memperkirakan tidak ada perubahan atau penurunan suku bunga.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.