Ini 5 Zona Rendah Emisi yang Disiapkan Pemprov DKI, Turunkan PM2,5 hingga 20 Persen

Kamis, 16 Jul 2026, 18:00 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempersiapkan penerapan Kawasan Rendah Emisi atau Low Emission Zone (LEZ) di lima lokasi prioritas sebagai langkah mengurangi pencemaran udara sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Kawasan Blok M di Jakarta Selatan ditetapkan sebagai proyek percontohan sebelum kebijakan tersebut diterapkan secara lebih luas di wilayah ibu kota.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengungkapkan bahwa selain Blok M, terdapat empat kawasan lain yang masuk dalam tahap awal implementasi program. Keempat lokasi tersebut meliputi kawasan Kota Tua, wilayah perbatasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat, kawasan Medan Merdeka–Dukuh Atas, serta kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan di Jakarta Pusat.

Ket. Foto: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempersiapkan penerapan Kawasan Rendah Emisi atau Low Emission Zone (LEZ) di lima lokasi prioritas sebagai langkah mengurangi pencemaran udara sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. — Sumber: Koran Jakarta/Paundra Zakirulloh

"Blok M menjadi kawasan pertama yang disiapkan sebagai percontohan."

Yuke menjelaskan, pengembangan Kawasan Rendah Emisi mengacu pada laporan "Kawasan Rendah Emisi Terpadu Jakarta: Dari Ambisi Menuju Aksi" yang diluncurkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Breathe Cities dalam Sidang Pleno Kelompok Kerja Mitigasi Adaptasi Bencana Iklim (Pokja MABI). Dokumen tersebut menjadi dasar penyusunan strategi penerapan LEZ secara bertahap dan berbasis data.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, laporan tersebut berfungsi sebagai peta jalan dalam pelaksanaan Kawasan Rendah Emisi. Program ini tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi dari sektor transportasi, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah, penerapan ekonomi sirkular, efisiensi bangunan dan energi, pengendalian sektor industri, hingga penataan tata guna lahan.

Menurut Dudi, Blok M dipilih sebagai lokasi pertama karena memiliki jaringan transportasi publik yang saling terhubung dengan baik serta menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Karakter kawasan dengan fungsi campuran tersebut dinilai ideal untuk menguji efektivitas kebijakan sebelum diterapkan di lokasi lainnya.

"Sebelum diterapkan lebih luas."

Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Muhammad Idris menyampaikan bahwa implementasi Kawasan Rendah Emisi dirancang berlangsung secara bertahap pada periode 2026 hingga 2029 dengan pendekatan adaptif serta berbasis data. Berdasarkan hasil kajian, sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara di Jakarta sehingga menjadi fokus utama dalam kebijakan tersebut.

"Dalam skenario paling ambisius, PM2,5 diproyeksikan turun hingga 14,3 persen di lima kawasan prioritas."

Idris menambahkan, kawasan Gelora Bung Karno diperkirakan mampu mencatat penurunan konsentrasi PM2,5 paling besar dibanding kawasan lainnya. Berdasarkan proyeksi yang disusun, kualitas udara di kawasan tersebut berpotensi membaik dengan penurunan kadar PM2,5 hingga mencapai 20,7 persen.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi menjelaskan bahwa PM2,5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan hingga aliran darah. Paparan partikel tersebut dalam jangka panjang berisiko memicu berbagai penyakit serius, termasuk kanker paru-paru.

"Paparan jangka panjang dapat memicu penyakit serius, termasuk kanker paru-paru."

Suhaimi menuturkan, sumber PM2,5 berasal dari emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik, aktivitas industri, pembakaran kayu, hingga kebakaran hutan. Ia juga menyebut peningkatan kualitas udara diperkirakan memberikan manfaat ekonomi sekitar Rp1,9 miliar setiap tahun melalui berkurangnya beban biaya kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Dudi Gardesi menegaskan bahwa keberhasilan Kawasan Rendah Emisi tidak hanya bergantung pada pembatasan penggunaan kendaraan pribadi. Menurutnya, penyediaan transportasi publik yang nyaman, terjangkau, dan terintegrasi menjadi faktor utama agar masyarakat bersedia beralih ke moda transportasi ramah lingkungan.

"Keberhasilannya bergantung pada transportasi publik yang nyaman, terjangkau, dan terintegrasi,"

Dudi menambahkan, penguatan layanan angkutan umum, integrasi antarmoda, peningkatan fasilitas pejalan kaki, serta komunikasi publik akan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut. Ia berharap keterlibatan seluruh masyarakat mampu mendukung terciptanya Jakarta yang lebih sehat, bersih, dan mudah diakses oleh semua warga.

“Tidak hanya mengurangi polusi, tetapi juga menciptakan kota yang lebih sehat, bersih, dan mudah diakses seluruh warga.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.