- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Batalkan Rencana Tar...
Trump Batalkan Rencana Tarif Tol Selat Hormuz, tetapi Blokade Iran Tetap Berlanjut
Rabu, 15 Jul 2026, 06:27 WIBWASHINGTON DC â Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana kontroversial untuk mengenakan biaya hingga 20 persen kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, perubahan kebijakan itu tidak berarti tekanan terhadap Iran berakhir. Washington menegaskan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap dilanjutkan, sementara serangan militer kedua negara terus berkobar.
Dari The Guardian, Trump mengumumkan pembatalan rencana pungutan tersebut hanya sekitar lima jam sebelum kebijakan itu dijadwalkan berlaku. Keputusan diambil setelah apa yang disebutnya sebagai pembicaraan âsangat produktifâ dengan sejumlah pemimpin Timur Tengah.
Sebagai gantinya, Trump mengklaim telah memperoleh komitmen investasi dan perdagangan dalam jumlah besar dari negara-negara Arab Teluk.
Saat menerima Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi di Gedung Putih, Trump mengatakan dirinya pada dasarnya tidak percaya kapal-kapal seharusnya dikenai biaya untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, ia juga menilai tidak adil jika Amerika Serikat harus menanggung sendiri biaya untuk menjaga keamanan salah satu jalur pelayaran terpenting dunia tersebut.
Meski ancaman âtolâ dicabut, Trump menegaskan AS akan tetap menjalankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Perubahan sikap itu terjadi di tengah eskalasi militer yang semakin tajam. Selama tiga hari terakhir, Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan dalam salah satu pertukaran paling sengit dalam beberapa pekan terakhir. Situasi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa kawasan Timur Tengah dapat terseret ke dalam perang berskala lebih luas.
Pada Selasa pagi, militer AS melancarkan operasi selama sekitar lima jam terhadap sejumlah sasaran di Iran. Target serangan tersebar di berbagai wilayah, termasuk kota pelabuhan Bushehr dan Bandar Abbas.
Washington menyatakan serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial. Ledakan kemudian dilaporkan terdengar di sekitar Bandar Abbas, Bushehr, Choghadak, hingga Pulau Qeshm yang berada dekat Selat Hormuz.
Iran membalas dengan menargetkan sejumlah negara yang menjadi lokasi kehadiran militer AS. Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, dan Yordania, yang menampung aset Angkatan Udara AS, menjadi sasaran serangan.
Bahrain menyatakan berhasil mencegat sejumlah serangan setelah ledakan terdengar di ibu kota Manama. Pemerintah negara itu menuduh Iran telah menargetkan warga sipil. Sementara itu, Yordania mengklaim berhasil mencegat empat rudal Iran.
Dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab di Selat Hormuz juga menjadi sasaran. Kuwait pada Selasa malam turut melaporkan berhasil mencegat proyektil yang disebut berasal dari pihak musuh.
Gelombang serangan terbaru semakin mempersulit upaya membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut praktis terganggu selama perang empat bulan antara AS dan Iran. Sebagai respons terhadap tindakan Teheran, Washington memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal Iran.
Sebelumnya, nota kesepahaman antara kedua negara diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Namun, meningkatnya kekerasan dan mandeknya negosiasi membuat kebebasan navigasi di Selat Hormuz belum dapat dipulihkan.
AS dan Iran kini hampir memasuki pertengahan periode 60 hari yang ditetapkan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen. Namun, kemajuan dalam sejumlah isu utama masih sangat terbatas, termasuk status Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan berbagai konflik regional.
Sehari sebelumnya, Trump bahkan mengancam AS akan mengambil kendali atas Selat Hormuz dan mengenakan biaya hingga 20 persen kepada kapal-kapal yang menginginkan jaminan perjalanan aman. Gagasan tersebut bertolak belakang dengan posisi lama Washington yang mendukung kebebasan navigasi di perairan internasional.
Para analis memperingatkan bahwa membuka Selat Hormuz secara paksa melalui operasi militer dapat membutuhkan pengerahan puluhan ribu tentara AS. Sejak pekan lalu, serangan Amerika terhadap Iran dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 28 orang.
Iran sendiri menolak keras keterlibatan AS dalam pengelolaan selat tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran akan tetap menjadi penjaga Selat Hormuz âselamanyaâ.
Ketegangan juga mulai menimbulkan korban dari negara lain. India melayangkan protes keras kepada Iran setelah seorang pelautnya tewas dan 10 warga India lainnya terluka parah dalam serangan terhadap dua kapal tanker.
Ancaman konflik yang semakin luas turut memengaruhi penerbangan sipil. Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa memperingatkan maskapai untuk menghindari wilayah udara Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, serta Teluk Oman karena perkembangan militer yang dinilai semakin sulit diprediksi.
Gejolak juga terasa di pasar energi. Harga minyak mentah pada Selasa naik ke level tertinggi dalam empat pekan, menembus 86 dolar AS per barel. Angka tersebut masih berada di bawah puncak hampir 120 dolar ASÂ per barel yang sempat tercatat selama perang.
Di tengah eskalasi AS-Iran, jalur diplomasi lain di kawasan tetap berjalan. Delegasi Lebanon dan Israel dijadwalkan bertemu di Roma untuk melanjutkan perundingan yang dimediasi Amerika Serikat mengenai penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Namun, dengan serangan AS dan Iran yang terus berlangsung serta Selat Hormuz tetap menjadi pusat perebutan kendali, prospek tercapainya stabilitas di Timur Tengah kembali menghadapi ujian berat.
- Blokade Selat Hormuz
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
PBB: Puluhan Juta Orang Berisiko Kelaparan karena Blokade Selat Hormuz Hambat Pengiriman Pupuk
-
Microsoft dan Alunjiva Perluas Literasi AI Inklusif untuk Disabilitas dan Pemuda
-
Pembagian daging kurban di Masjid Cut Meutia Jakarta
-
Iran Menarget Kapal-kapal Angkatan Laut AS setelah Kapal Tanker Diserang
-
Menhan AS Tegaskan Gencatan Senjata AS-Iran Belum Berakhir Meskipun Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.