PBB: Puluhan Juta Orang Berisiko Kelaparan karena Blokade Selat Hormuz Hambat Pengiriman Pupuk

Selasa, 12 Mei 2026, 01:40 WIB

PARIS - Puluhan juta orang bisa menghadapi kelaparan dan kekurangan gizi jika pupuk tidak segera diizinkan melewati Selat Hormuz, kata kepala gugus tugas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk mencegah krisis kemanusiaan yang mengancam kepada AFP pada Senin (11/5).

Iran telah mencekik jalur air strategis tersebut yang biasanya dilalui sepertiga pupuk dunia, selama berbulan-bulan sebagai balasan atas perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, mengganggu perdagangan yang sangat penting bagi petani di seluruh dunia dalam perlombaan melawan akhir musim tanam.

Ket. Foto: Direktur Eksekutif UNOPS, Jorge Moreira da Silva — Sumber: unops.org

"Kita punya waktu beberapa minggu ke depan untuk mencegah apa yang kemungkinan akan menjadi krisis kemanusiaan besar-besaran," kata Jorge Moreira da Silva, Direktur Eksekutif Kantor Layanan Proyek Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOPS) dan pemimpin gugus tugas, kepada AFP dalam sebuah sesi wawancara di Paris.

"Kita mungkin akan menyaksikan krisis yang akan memaksa 45 juta orang lagi mengalami kelaparan dan kekurangan gizi," imbuh dia.

Sekretaris Jenderal PBB membentuk gugus tugas pada bulan Maret untuk memelopori mekanisme yang memungkinkan pupuk dan bahan baku terkait seperti amonia, belerang, dan urea melewati selat tersebut.

Selama berminggu-minggu, Moreira da Silva telah berupaya meyakinkan pihak-pihak yang bertikai untuk mengizinkan beberapa kapal pun lewat, dan telah bertemu dengan lebih dari 100 negara untuk menggalang dukungan negara-negara anggota PBB di sekitar mekanisme tersebut.

Semakin banyak negara yang menunjukkan dukungan terhadap rencana tersebut, kata dia, tetapi Amerika Serikat dan Iran, serta negara-negara Teluk yang merupakan produsen pupuk utama, belum sepenuhnya mendukung.

“Meskipun harapan utama adalah kesepakatan perdamaian abadi di kawasan itu dan kebebasan navigasi untuk semua komoditas melalui selat tersebut, masalahnya adalah musim tanam tidak bisa menunggu," kata Moreira da Silva, dengan beberapa negara Afrika akan berakhir dalam beberapa minggu.

Perhatian global tertuju pada dampak ekonomi dari terhambatnya perdagangan minyak dan gas, tetapi Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyuarakan kekhawatiran tentang ancaman yang ditimbulkan oleh blokade tersebut terhadap ketahanan pangan dunia, dengan negara-negara di Afrika dan Asia kemungkinan akan terkena dampak yang sangat parah.

Kemauan Politik

Moreira da Silva mengatakan PBB dapat mengaktifkan mekanisme tersebut dalam tujuh hari, tetapi bahkan jika selat itu dibuka kembali sekarang, akan membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan untuk kembali normal.

"Ini hanya masalah waktu. Jika kita tidak segera menghentikan sumber krisis ini, kita harus mengatasi konsekuensinya melalui bantuan kemanusiaan," ucap dia.

Meskipun harga pangan belum melonjak drastis, kata Moreira da Silva, telah terjadi peningkatan besar-besaran dalam biaya pupuk, yang menurut para ahli kemungkinan akan menyebabkan penurunan produktivitas pertanian dan membuat harga pangan meroket.

Moreira da Silva mengatakan bahwa dengan hanya memindahkan rata-rata lima kapal per hari yang membawa pupuk dan bahan baku terkait melalui selat tersebut, krisis bagi para petani dapat dihindari.

Yang kurang, kata dia, adalah kemauan politik.

"Kita tidak bisa menunda-nunda apa yang mungkin dilakukan, dan apa yang mendesak untuk dilakukan - yaitu membiarkan pupuk melewati selat dan, melalui itu, meminimalkan risiko kerawanan pangan besar-besaran di tingkat global." AFP/I-1

  • PBB
  • Blokade Selat Hormuz

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.