GIHES 2026: Pesantren Jadi Model Pendidikan Holistik untuk Menjawab Tantangan Zaman
Selasa, 18 Agu 2026, 05:00 WIBJakarta - Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 diharapkan mampu merumuskan arah masa depan pendidikan holistik yang mampu menjawab tantangan zaman, termasuk krisis kesehatan mental, perubahan kebutuhan keterampilan, serta lemahnya karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Forum internasional yang merupakan bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5â6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.
Ketua Peringatan 100 Tahun Gontor sekaligus Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan GIHES 2026 menjadi ruang untuk merumuskan konsep pendidikan yang mampu menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan moral.
âGIHES hadir untuk merumuskan masa depan pendidikan yang holistik, menyeimbangkan intelektual, spiritual, dan moral,â kata Hamid di Jakarta, Senin (17/8).
Menurut dia, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Berdasarkan data WHO dan UNICEF 2024, satu dari tujuh remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental. Sementara itu, World Economic Forum memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan inti yang dibutuhkan saat ini akan mengalami perubahan atau menjadi usang pada 2030.
Kondisi tersebut membuat pendidikan berada di persimpangan jalan. Selain kemampuan akademik dan teknis, generasi masa depan membutuhkan kemampuan berpikir analitis, resiliensi, kepemimpinan, kolaborasi, serta empati yang berakar pada pendidikan karakter.
âGIHES adalah respons strategis terhadap krisis pendidikan modern yang kian mengkhawatirkan,â ujarnya.
Hamid berharap dunia internasional dan institusi pendidikan di Indonesia dapat mempelajari model pendidikan pesantren yang menurut dia tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter melalui kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut pesantren sebagai school of life atau sekolah kehidupan karena santri mendapatkan pembinaan selama 24 jam melalui disiplin, organisasi, kepemimpinan, pengabdian masyarakat, serta integrasi ilmu, adab, dan spiritualitas.
âDi saat dunia Barat baru sibuk mendiskusikan konsep well-being dan pembentukan karakter untuk mengatasi krisis mental remaja, pesantren di Indonesia sudah mempraktikkannya selama berabad-abad melalui integrasi ilmu, adab, dan spiritualitas,â katanya.
Pesantren sebagai Model Pendidikan Global
Hamid menjelaskan GIHES 2026 mengusung tema âExploring and Revealing the Pesantren Education Systemâ. Forum tersebut dirancang untuk mengangkat pengalaman pendidikan pesantren menjadi pengetahuan yang terdokumentasi dan dapat dipelajari secara ilmiah oleh masyarakat internasional.
Ia berharap forum tersebut menghasilkan âDeklarasi GIHESâ sebagai warisan intelektual sekaligus komitmen bersama untuk mengembangkan pendidikan Islam dan pendidikan holistik pada masa mendatang.
Ketua Panitia GIHES 2026 KH Hadiyanto Arief mengatakan ratusan pemimpin pendidikan lintas negara akan hadir dalam forum tersebut. Peserta berasal dari kalangan pimpinan pondok pesantren, lembaga pendidikan, akademisi, hingga pemangku kebijakan.
GIHES merupakan hasil kolaborasi Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor), dan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG).
Forum ini juga menghadirkan pembicara dari lima benua untuk membahas penguatan pendidikan holistik dan relevansinya dengan kebutuhan generasi mendatang.
Dari Asia dan Timur Tengah, sejumlah pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain Prof. Nuri Tinaz dari Marmara University, Turki; Dr. Mahamood Shihab dari Anshar Training College for Women, India; Prof. Datoâ Ts. Dr. Norazah Mohd. Nordin dari Universitas Kebangsaan Malaysia; serta Prof. Ryoko Tsuneyoshi dari Bunkyo Gakuin University, Jepang.
Ryoko akan membahas dan membandingkan konsep Tokkatsu di Jepang dengan sistem pendidikan asrama Islam.
Dari Indonesia, forum tersebut juga didukung sejumlah tokoh pemerintahan dan akademisi, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muâti, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Prof. Amin Abdullah dari UIN Sunan Kalijaga.
Para pembicara diharapkan membawa perspektif yang berbeda untuk memperkuat gagasan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk manusia secara utuh.
Jusuf Kalla Dukung GIHES 2026
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla turut menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan GIHES 2026. Ia mengapresiasi Gontor yang mulai menyusun peta jalan pendidikan untuk 100 tahun ke depan.
âSaya mendukung acara GIHES. Gontor berpikir untuk ke depan, 100 tahun ke depan,â kata Jusuf Kalla di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan terobosan karena lembaga pendidikan di Indonesia mulai memikirkan arah pendidikan bukan hanya untuk beberapa tahun ke depan, tetapi hingga satu abad mendatang.
Dukungan Jusuf Kalla juga tidak terlepas dari hubungan panjang keluarganya dengan Gontor. Ia mengatakan ayahnya, Haji Kalla, sejak era 1970-an memiliki kepercayaan besar terhadap sistem pendidikan pesantren tersebut.
âBagi saya dan keluarga, terutama almarhum ayah saya, Gontor selalu menjadi harapan. Tahun 70-an, waktu ayah saya masih hidup, beliau meyakini bahwa sekolah terbaik itu cuma satu, yaitu Gontor,â ujarnya.
Jawab Krisis Karakter Generasi Muda
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Badan Wakaf Gontor Hidayat Nur Wahid mengatakan salah satu fokus GIHES 2026 adalah merespons fenomena kerapuhan mental yang semakin banyak dihadapi generasi muda dunia.
Menurut dia, kemajuan teknologi informasi yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan karakter, mental, dan kepemimpinan yang kuat. Ia menilai sebagian generasi muda menghadapi persoalan dalam hal kolaborasi, etos kerja, dan leadership.
âKami melihat bahwa pendidikan holistik yang sejati itu ada di pesantren, di mana selama 24 jam penuh santri dibina mental, moral, dan soft skill-nya,â kata Hidayat.
Ketua Panitia GIHES 2026 KH Adrian Mafatihallah menambahkan bahwa forum tersebut menjadi upaya Gontor memperkenalkan model pendidikan pesantren sebagai salah satu alternatif solusi global dalam mencetak pemimpin masa depan yang berintegritas.
Ia mengatakan kehadiran tokoh pendidikan dari berbagai negara diharapkan dapat mempertemukan nilai-nilai pendidikan pesantren dengan inovasi pendidikan modern.
âKehadiran para tokoh global ini diharapkan mampu menciptakan sinergi antara nilai-nilai luhur pesantren dengan inovasi pendidikan modern, guna menciptakan ekosistem pendidikan dan kesehatan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,â katanya.
- 100 Tahun Gontor
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.