Perang Iran Hantam Benua Biru, Bursa Eropa Jatuh di Tengah Ancaman Krisis Hormuz

Selasa, 14 Jul 2026, 17:24 WIB

LONDON – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar keuangan global. Bursa saham utama Eropa jatuh pada perdagangan Selasa (14/7), setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut dan Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan baru terkait pelayaran melalui Selat Hormuz.

Dari The Guardian, tekanan jual melanda hampir seluruh bursa utama Eropa. Indeks FTSE 100 di London turun 0,5 persen atau sekitar 52 poin menjadi 10.445. DAX Jerman melemah 0,55 persen, CAC 40 Prancis kehilangan 0,9 persen, sementara bursa Italia turun 0,7 persen. Tekanan paling besar terjadi di Spanyol, dengan indeks IBEX merosot 1,07 persen.

Ket. Foto: Sebuah ledakan terjadi di pangkalan angkatan laut Bandar Abbas di Iran saat drone serang AS menghantam. — Sumber: Istimewa

Investor semakin khawatir konflik AS-Iran dapat berkembang menjadi krisis yang lebih luas dan mengganggu salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.

Kekhawatiran meningkat setelah Trump mengumumkan blokade terhadap pelayaran Iran serta rencana mengenakan biaya sebesar 20 persen terhadap kargo lain yang melintasi Selat Hormuz. Presiden AS mengatakan jalur strategis tersebut akan tetap terbuka “dengan atau tanpa Iran”, tetapi kapal-kapal yang melintas akan dikenai biaya untuk mendukung pengamanan dan keselamatan pelayaran.

Ketegangan itu langsung mendorong harga energi lebih tinggi. Minyak mentah Brent melonjak hingga 3,5 persen dan menembus level 86 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi, biaya produksi, serta kemungkinan suku bunga tetap tinggi lebih lama—kombinasi yang semakin menekan sentimen di pasar saham Eropa.

Di tengah kejatuhan pasar, saham perusahaan energi justru bergerak berlawanan arah. BP menjadi salah satu saham dengan kinerja terbaik di FTSE 100 setelah melonjak sekitar 3 persen, sementara Shell naik 1,7 persen.

Kenaikan tersebut didukung lonjakan harga minyak serta pembaruan kinerja BP. Perusahaan memperkirakan utang bersih pada akhir kuartal kedua turun menjadi sekitar 22 miliar hingga 23 miliar dolar AS, dari 25,3 miliar dolar AS pada kuartal sebelumnya. Hasil perdagangan minyak juga diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama.

Namun, keuntungan bagi perusahaan energi tidak mampu meredakan tekanan terhadap pasar secara keseluruhan. Investor kini menghadapi ketidakpastian baru mengenai seberapa jauh konflik AS-Iran akan berkembang dan apakah ketegangan di sekitar Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan energi global.

Selama konflik terus meningkat, pasar saham Eropa berpotensi tetap berada di bawah tekanan. Lonjakan harga minyak memang menjadi keuntungan bagi perusahaan energi, tetapi bagi perekonomian Eropa secara luas, kenaikan biaya energi dapat kembali memicu inflasi, menekan daya beli, dan memperumit arah kebijakan suku bunga.

Dengan Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan geopolitik dunia, konflik di Timur Tengah kini tidak hanya mengguncang kawasan, tetapi juga mulai menebar tekanan langsung ke lantai bursa Eropa.

  • selat hormuz

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.