Viral Turun Salju di Ciwidey? Begini Penjelasan BMKG
Minggu, 12 Jul 2026, 18:05 WIBJAKARTA - Viral video di medsos memperlihatkan, kawasan perbukitan di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat diselimuti lapisan putih. Banyak warganet menduga, lapisan tersebut merupakan salju karena jalan setapak dan vegetasi tampak berwarna putih.
Merespons hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, dugaan warganet tersebut tidak benar. Fenomena di kawasan Ciwidey itu, merupakan embun upas (frost) yang muncul di wilayah dataran tinggi saat puncak musim kemarau.
"Pada puncak musim kemarau, suhu udara di dataran tinggi Bandung dapat turun drastis hingga mencapai belasan derajat Celsius. Bahkan mendekati 0 derajat Celsius pada malam hingga dini hari," kata Plt Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, dalam keterangannya persnya, di Jawa Barat, dikutip Minggu (12/7).
Kondisi tersebut, Edi mengungkapkan, lazim terjadi pada periode Juli hingga Agustus di kawasan dataran tinggi. Embun upas itu, merupakan embun yang membeku di permukaan tanah, daun, maupun benda lain sehingga membentuk kristal es tipis.
Ia menegaskan, embun upas berbeda dengan salju. Salju terbentuk dari uap air di dalam awan yang membeku sebelum jatuh ke permukaan bumi.
Menurut BMKG, fenomena embun upas bukanlah hal baru di wilayah Bandung Raya. Selain Ciwidey, kondisi serupa juga pernah terjadi di kawasan dataran tinggi lainnya seperti Pangalengan.
"Fenomena ini lazim pada saat musim kemarau seperti sekarang, terutama di dataran tinggi seperti Ciwidey. Hal serupa juga pernah terjadi di Pangalengan," ujar Edi.
BMKG menjelaskan, suhu dingin pada musim kemarau dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap panas matahari secara maksimal.
Tetapi pada malam hari, ia menuturkan, panas tersebut cepat dilepaskan kembali ke atmosfer sehingga suhu udara turun drastis. Selain itu, suhu dingin juga dipengaruhi oleh angin monsun Australia.
Massa udara dingin dari Australia, ia menyebutkan, bergerak menuju Indonesia akibat perbedaan tekanan udara. Hal ini, menjadi salah satu penyebab utama musim kemarau di wilayah selatan khatulistiwa.
"Penyebab tambahan mengapa suhu udara menjadi dingin pada musim kemarau adalah karena adanya musim dingin di wilayah Australia," kata Edi.
BMKG mengimbau, masyarakat agar tidak panik maupun menyebarkan informasi yang keliru mengenai fenomena tersebut.
"Oleh karena itu masyarakat diharapkan tidak panik melihat fenomena ini. Karena, suhu dingin pada musim kemarau merupakan fenomena yang wajar, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa," ucap Edi. ils/I-1
- Ciwidey
- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Pemerintah Kota Tangerang Imbau Panitia Siapkan Kemasan Kurban Ramah Lingkungan
-
Setiap Tahunnya Lebih dari 408.000 Kasus Kanker Baru Terjadi, Indonesia Butuh Perkuatan Kolaborasi Global
-
BMKG Prakirakan Seluruh DKI Jakarta Berawan pada Selasa Siang hingga Sore
-
Konser Musik Mahabbah Allah Pakem 9 Ajak Kita Sadari Kesalahan dan Bertaubat
-
Prabowo Sebut Kebocoran Kekayaan Negara yang Mengalir Keluar Negeri Sebabkan Kecilnya Gaji Guru dan ASN
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.