Sejak 2 Juli, Gunung Anak Krakatau Terpantau PVMBG Sudah Meletus 18 Kali!

Minggu, 12 Jul 2026, 18:37 WIB

SERANG, BANTEN - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sedikitnya terjadi 18 kali letusan pada Gunung Api Anak Krakatau di Selat Sunda terhitung sejak 2 Juli 2026.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau PVMBG, Rio Bonik Situmorang, di Serang, Minggu (12/7), mengatakan, meski dalam beberapa hari terakhir aktivitasnya cukup tinggi, status gunung api tersebut hingga saat ini masih dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Ket. Foto: Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau PVMBG, Rio Bonik Situmorang, melakukan pemantauan di Serang, Banten, Minggu. — Sumber: ANTARA/Desi Purnama Sari.

"Untuk hari ini belum ada letusan. Namun, beberapa hari sebelumnya mulai dari tanggal 2 Juli, tercatat ada sekitar 18 kali letusan sampai kemarin," katanya.

Rio menjelaskan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini masih sangat fluktuatif, di mana tingkat kegempaannya terkadang meningkat tinggi namun di waktu lain dapat menurun.

"Adapun letusan terakhir yang berhasil terekam instrumen terjadi pada malam hari sebelumnya sekitar pukul 23.34 WIB," paparnya.

Ia menyebutkan saat ini kondisi visual Gunung Anak Krakatau tidak dapat teramati karena tertutup kabut dari Pos Pengamatan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Guna mengantisipasi perkembangan aktivitas magma, PVMBG terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh melalui Pos Pengamatan yang didukung oleh berbagai peralatan pemantauan vulkanik di lapangan.

"Hasil evaluasi berkala dari tim ahli vulkanologi ini menjadi acuan utama dalam menentukan langkah mitigasi," ujarnya.

Seiring dengan status Siaga tersebut, PVMBG menegaskan bahwa rekomendasi zona aman belum berubah. Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan dilarang keras mendekat atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang, mematuhi semua arahan dari pihak berwenang, serta tidak terpancing oleh informasi atau isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya terkait aktivitas gunung api tersebut. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.