BPBD Yogyakarta Meningkatkan Kesiapsiagaan Menghadapi Perubahan Suhu

Sabtu, 11 Jul 2026, 22:45 WIB

Yogyakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan suhu dampak fenomena El Nino yang terjadi pada musim kemarau 2026.

Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Yogyakarta Iswari Mahendrarko di Yogyakarta, Sabtu, mengatakan kesiapsiagaan itu menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut fenomena El Nino menyebabkan musim hujan datang lebih lambat dari biasanya.

Ket. Foto: — Sumber: Antara

"BPBD meningkatkan kesiapsiagaan melalui Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat yang bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan serta mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat," katanya.

Selain antisipasi potensi kekeringan dan kebakaran, BPBD juga mengimbau masyarakat mewaspadai fenomena bediding, kondisi cuaca dengan suhu udara dingin pada malam hingga pagi hari, namun berubah menjadi sangat panas pada siang hari.

Ia mengatakan, fenomena bediding yang kini dirasakan masyarakat merupakan kondisi lazim terjadi saat puncak musim kemarau, penyebab utama adalah berkurangnya tutupan awan sehingga panas matahari siang hari masuk ke permukaan bumi.

Sebaliknya, pada malam hari panas yang tersimpan di permukaan bumi juga lebih cepat terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.

"Akibatnya, masyarakat merasakan perbedaan suhu cukup ekstrem. Pada malam hingga pagi hari udara terasa dingin dengan suhu berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius, sedangkan siang hari suhu dapat mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius," katanya.

Menurut dia, perubahan suhu yang cukup tajam tersebut dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Udara kering dan berdebu berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, serta menurunkan daya tahan tubuh.

Di sisi lain, suhu panas pada siang hari juga meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Selain dampak terhadap kesehatan, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran, sebab vegetasi yang mulai mengering, suhu udara tinggi, serta hembusan angin kencang membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kelalaian.

"Kami imbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta memastikan instalasi listrik di rumah dalam kondisi aman untuk mencegah terjadinya kebakaran," katanya

  • cuaca ekstrem

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.