Kampanye “Berani Bicara Berat” Tegaskan Obesitas Sebagai Penyakit Kronis
Sabtu, 15 Agu 2026, 11:52 WIBJAKARTA - Dunia medis modern tidak lagi memandang obesitas sekadar "masalah penampilan" atau sekadar akibat kurang olahraga dan makan berlebihan. Obesitas secara resmi diakui dan dikategorikan sebagai penyakit kronis (bukan sekadar faktor risiko) ketika penumpukan lemak tubuh yang berlebihan sudah mengganggu fungsi normal tubuh dan berdampak buruk pada kesehatan.
Pengakuan obesitas sebagai penyakit jaringan tubuh terjadi bertahap oleh lembaga kesehatan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) â Tahun 1997: WHO secara resmi mendeklarasikan obesitas sebagai penyakit kronis (chronic disease) yang menjadi ancaman kesehatan global.
Hal itu disusul oleh American Medical Association (AMA) pada tahun 2013. Asosiasi medis terbesar di AS ini memutuskan dan mengategorikan obesitas sebagai penyakit kompleks dengan faktor genetik, fisiologis, dan lingkungan.
Lembaga seperti European Association for the Study of Obesity (EASO) dan berbagai organisasi dokter spesialis di seluruh dunia (termasuk Indonesia) kini sepakat memperlakukan obesitas sebagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan klinis.
Menegaskan kembali obesitas sebagai penyakit kronis, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), perusahaan Zuellig Pharma, meluncurkan kampanye edukasi kesehatan âBerani Bicara Beratâ untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks.
Kampanye tersebut juga mendorong masyarakat yang hidup dengan obesitas untuk memperoleh informasi dan penanganan medis yang tepat melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip APL, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia mencapai 23,4 persen atau hampir satu dari empat orang dewasa. Angka prevalensi pada perempuan mencapai 31,2 persen, sedangkan pada laki-laki sebesar 15,7 persen.
Kondisi tersebut menjadi tantangan kesehatan masyarakat sekaligus berpotensi menimbulkan beban sosial dan ekonomi. Obesitas tidak hanya berkaitan dengan berat badan, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk biologis, genetik, perilaku kesehatan, kondisi medis yang mendasari, serta lingkungan. Obesitas juga berkaitan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit tidak menular, seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, stroke, dan beberapa jenis kanker.
Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dr. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan pemahaman mengenai obesitas perlu diubah karena kondisi tersebut bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup.
âObesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan terus berkembang di Indonesia,â ujar Dante di Jakarta pada konferensi pers peluncuran kampanye âBerani Bicara Beratâ di Jakarta pada hari Jumat (14/8).
Menurut dia, penanganan obesitas perlu dibarengi dengan penguatan edukasi dan perubahan perilaku masyarakat agar individu yang hidup dengan obesitas dapat memperoleh penanganan yang sesuai.
Melawan Stigma terhadap Obesitas
APL menilai salah satu tantangan dalam penanganan obesitas di Indonesia adalah masih kuatnya anggapan bahwa kondisi tersebut merupakan persoalan tanggung jawab pribadi. Obesitas kerap dikaitkan dengan kurangnya disiplin diri atau pilihan gaya hidup yang dianggap tidak sehat.
Persepsi tersebut dapat memperkuat stigma sosial dan membuat sebagian individu enggan mencari dukungan klinis maupun penanganan medis. Stigma terkait berat badan juga dapat berdampak terhadap kesejahteraan psikologis dan perilaku kesehatan seseorang.
Melalui kampanye âBerani Bicara Beratâ, APL berupaya mengubah persepsi tersebut dengan menempatkan obesitas sebagai penyakit kronis kompleks yang membutuhkan penanganan medis berkelanjutan serta dukungan dari tenaga kesehatan.
Chief Operating Officer, Commercialization, PT Anugerah Pharmindo Lestari, Ay Lie Widjaja, mengatakan kampanye tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memperluas akses terhadap informasi kesehatan berbasis sains.
âTidak seorang pun seharusnya menghadapi tantangan obesitas seorang diri,â kata Ay Lie.
Menurut dia, kampanye tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memahami obesitas secara lebih tepat sekaligus mengambil langkah berikutnya dengan mencari dukungan dan penanganan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Penanganan Membutuhkan Pendekatan Jangka Panjang
Peluncuran kampanye juga ditandai dengan diskusi panel bertajuk âBerani Bicara Berat, Awali dengan Langkah yang Tepatâ. Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah ahli, yakni Prof. Dr. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua HISOBI; Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI); serta dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI).
Para narasumber membahas obesitas dari perspektif medis, endokrinologi, gizi klinis, dan kesehatan masyarakat.
Ketua Umum PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, mengatakan penurunan berat badan bukan semata-mata persoalan kemauan individu. Menurut dia, tubuh memiliki mekanisme biologis yang secara alami mempertahankan berat badan. Kondisi tersebut membuat upaya mencapai penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan melalui perubahan gaya hidup saja dapat menjadi tantangan bagi sebagian orang.
âPenanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang, dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi, bukan semata-mata berfokus pada pencapaian angka tertentu pada timbangan,â ujar Em Yunir.
Pandangan tersebut menunjukkan pentingnya melihat keberhasilan penanganan obesitas dari aspek kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya perubahan angka berat badan.
Tidak Ada Penanganan yang Berlaku untuk Semua Orang
Kompleksitas obesitas juga membuat penanganannya tidak dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk setiap individu. Kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, perilaku, dan tujuan kesehatan seseorang dapat berbeda. Karena itu, strategi penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Ketua Pengurus Pusat PDGKI, dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, mengatakan asesmen gizi klinis dapat membantu menentukan strategi nutrisi berdasarkan kebutuhan dan kondisi kesehatan individu.
âStrategi tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis, sehingga membentuk pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mendukung kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik,â ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, penanganan obesitas tidak hanya berfokus pada pola makan atau aktivitas fisik, tetapi dapat mencakup berbagai aspek sesuai kebutuhan pasien.
Pilihan Terapi Terus Berkembang
Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, pilihan penanganan obesitas juga semakin beragam. APL menyebut terapi berbasis incretin, yang bekerja pada reseptor tunggal maupun ganda, sebagai salah satu perkembangan dalam pilihan terapi obesitas. Namun, penggunaan terapi tersebut perlu ditentukan melalui konsultasi dan berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Selain mendorong pemahaman masyarakat, APL juga menyatakan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung edukasi bagi lebih dari 21.000 tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.
Perusahaan tersebut juga meluncurkan microsite edukasi berbasis sains sebagai bagian dari kampanye âBerani Bicara Beratâ. Platform tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memahami obesitas, meluruskan berbagai miskonsepsi, serta mengenali pentingnya memperoleh penanganan yang tepat.
Melalui kampanye tersebut, pembicaraan mengenai obesitas diharapkan tidak lagi berhenti pada persoalan berat badan atau stigma, tetapi bergeser pada pemahaman bahwa obesitas merupakan kondisi kronis yang kompleks dan membutuhkan pendekatan penanganan yang berkelanjutan.
- obesitas
- Kesehatan Masyarakat
- penyakit tidak menular
- Kesehatan
- gizi
- Penyakit Kronis
- APL
- Berani Bicara Berat
- Anugerah Pharmindo Lestari
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
GAPMMI: Industri Pangan Harus Tingkatkan Standar Mutu demi Daya Saing
-
75 Menit Jalan Cepat Seminggu Bisa Mengurangi Lemak Perut, Benarkah? Ini Kata Studi Terbaru
-
Penopang IKN, Kaltim Kejar Target Swasembada Beras Akhir 2026
-
Kekeringan Hantam Subang! Kementan Salurkan 16 Pompa dan Bor Sumur Baru
-
4 Jenis Panganan Tinggi Serat yang Baik untuk Pencernaan Selain Pepaya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.