PSEL Bali Resmi Dimulai, Danantara Jamin Pakai Teknologi yang Sudah Terbukti

Rabu, 08 Jul 2026, 14:25 WIB

DENPASAR – Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan langkah strategis untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus memperkuat bauran energi nasional.

Dengan mengubah limbah menjadi sumber energi, PSEL tidak hanya mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga berpotensi menekan emisi gas rumah kaca dan menciptakan nilai tambah ekonomi.

Ket. Foto: Ilustrasi - Uji coba PLTSa TPA. — Sumber: Antara.

Meski demikian, keberhasilannya sangat bergantung pada kepastian regulasi, skema pembiayaan yang menarik, serta pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir yang terintegrasi.

Danantara Indonesia memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali dengan memastikan bahwa teknologi yang akan digunakan sudah teruji.

“Pagi hari ini adalah hari yang menurut kami sangat bersejarah, inilah pertama kali di dalam program Danantara Waste-to-Energy atau PSEL ini dilakukan groundbreaking pertama di Bali,” ucap CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani di Denpasar, Rabu (8/7).

Rosan menjelaskan kebutuhan terhadap teknologi ini muncul berangkat dari PR Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan masalah sampah dengan cepat.

Untuk menghilangkan sampah tersebut, pemerintah tidak ingin ada dampak negatif terhadap lingkungan, sehingga muncul solusi mengolah sampah menjadi energi.

Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) kemudian bergerak cepat mencari mitra dan menemukan teknologi proven teruji di 50 negara dalam menyelesaikan masalah sampah.

“Mau sampah baru, mau sampah lama, bisa diserap, bisa diambil karena kebetulan waktu saya mengunjungi beberapa tempat, baik di China, Jepang, dengan program ini sangat bersih, malah di China di tengah pemukiman elit PSEL-nya, karena bersih tidak ada bau sama sekali bahkan di belakangnya dibuat taman baca dan rekreasi untuk anak-anak,” ujar Rosan.

Untuk itu ia berharap masyarakat menunggu, ketika PSEL Bali rampung akan mengubah cara pandang melihat pengolahan sampah.

“Saya yakin ini akan bersih, tidak bau, dan juga justru akan menjadi salah satu tempat untuk bisa dipelajari, dikunjungi, dan bisa menjadi tempat berguna lainnya untuk taman baca atau berekreasi,” sambungnya.

CEO PT DIM Pandu Patria Sjahrir menambahkan perjalanan PSEL Bali dilakukan secara profesional, didukung oleh keahlian teknis operasional, hukum, finansial, dan lingkungan, mulai dari memilih mitra.

Kini pembangunannya dimulai di Desa Pedungan, Denpasar, yang merupakan aglomerasi Denpasar dan Badung, dengan pada awal 2028 nanti mulai operasional mengolah 1.500 ton sampah per hari.

Pandu menjelaskan PSEL Bali dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah, energi hijau, dan ekonomi lokal dengan mengacu pada standar lingkungan Europe Industrial Emission Directive atau EU IED.

Proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun atau lebih dari 40 persen timbulan sampah Bali akan terolah.

Dari sisi lingkungan, PSEL Bali juga diproyeksikan dapat menurunkan emisi sampah dari tempat pembuangan akhir hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton CO2 per tahun.

“Dari sisi energi, inisiatif ini akan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai kebutuhan sekitar 100.000 rumah masyarakat Bali, dan inisiatif ini bernilai Rp3 triliun, diperkirakan menciptakan 1.200 tenaga kerja hijau serta mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 80 persen,” tuturnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.