• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Konektivitas Digital Jakar...

Konektivitas Digital Jakarta hingga Karawang Diperkuat dengan Jalur Fiber Optik Baru

Rabu, 08 Jul 2026, 21:03 WIB

JAKARTA — Indonet resmi mengoperasikan jalur fiber optik bawah tanah ketiga yang menghubungkan Jakarta dengan kawasan industri dan pusat data (data center) di Bekasi hingga Karawang. Infrastruktur baru tersebut menjadi bagian dari pengembangan koridor timur (East Route) yang ditujukan untuk memperkuat konektivitas digital nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem data center di Indonesia.

Jalur terbaru ini memiliki panjang lebih dari 80 kilometer dengan kapasitas 2 × 576 core fiber. Sebelumnya, dua jalur pertama telah beroperasi sejak 2025. Dengan beroperasinya jalur ketiga tersebut, total jaringan fiber optik Indonet kini mencapai sekitar 850 kilometer atau meningkat 141 persen dibandingkan sebelum 2024.

Ket. Foto: Manajemen Indonet. Perusahaan ini meresmikan jalur fiber optik bawah tanah baru sepanjang lebih dari 80 kilometer untuk memperkuat konektivitas data center dan kawasan industri dari Jakarta hingga Karawang serta mendukung pertumbuhan AI dan cloud di Indonesia. — Sumber: Indonet

Penambahan jaringan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas layanan sekaligus memperkuat interkoneksi antar data center bagi pelanggan yang membutuhkan tingkat ketersediaan layanan (high availability) dan kontinuitas bisnis yang tinggi.

Indonet juga mengklaim menjadi salah satu penyedia infrastruktur digital pertama di Indonesia yang membangun koridor fiber optik sepenuhnya di bawah tanah untuk menghubungkan pusat Jakarta dengan kawasan industri dan data center di Bekasi hingga Karawang.

Selain memperluas jaringan, perusahaan turut meningkatkan kapasitas backbone network menjadi 100 Gbps guna memenuhi kebutuhan konektivitas di kawasan industri yang terus berkembang, termasuk hingga Kawasan Industri Mitra Karawang (KIM).

Presiden Direktur Indonet, Donauly Situmorang, mengatakan pembangunan infrastruktur konektivitas menjadi elemen penting di tengah meningkatnya investasi pada data center, komputasi awan (cloud), dan kecerdasan buatan (AI).

"Indonesia sedang memasuki fase baru pembangunan infrastruktur digital. Investasi pada data center, cloud, dan AI akan terus meningkat, namun nilai dari investasi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh konektivitas yang sama kuatnya. Karena itu, kami terus berinvestasi membangun jaringan fiber optik bawah tanah dan infrastruktur interkoneksi data center yang andal," ujar Donauly dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7).

Menurutnya, jaringan tersebut memungkinkan pelanggan mengembangkan bisnis dengan lebih pasti tanpa terkendala keterbatasan infrastruktur digital.

Tingkatkan Keandalan Jaringan

Direktur Operasional Indonet, Agus Ariyanto, menjelaskan penggunaan jaringan fiber optik bawah tanah dipilih karena memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi dibandingkan jaringan udara.

Seluruh kabel ditanam pada kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter sehingga lebih terlindungi dari berbagai risiko eksternal, seperti cuaca ekstrem maupun aktivitas konstruksi.

"Infrastruktur ini memungkinkan kami menghadirkan konektivitas yang lebih stabil, memperkuat redundansi jaringan, dan memastikan layanan tetap andal untuk mendukung kebutuhan konektivitas yang bersifat mission-critical," kata Agus.

Menurut perusahaan, karakteristik tersebut sangat penting untuk mendukung kebutuhan bisnis seperti sistem disaster recovery maupun beban kerja AI (AI workloads) yang membutuhkan performa jaringan secara konsisten.

Pertumbuhan Data Center Dorong Kebutuhan Interkoneksi

Pesatnya pertumbuhan industri data center di Indonesia turut meningkatkan kebutuhan akan infrastruktur interkoneksi berkapasitas tinggi.

Mengacu pada laporan Indonesia Data Center - Market Share Analysis, Industry Trends & Statistics, Growth Forecasts (2026–2031) yang dipublikasikan Globe Newswire, nilai pasar data center Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar 1,83 miliar dolar AS pada 2026 menjadi 3,48 miliar dolar AS pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 13,71 persen.

Direktur Sales & Marketing Indonet, Yudie Haryanto, mengatakan pertumbuhan tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas komputasi, tetapi juga kebutuhan terhadap konektivitas yang mampu menghubungkan berbagai data center secara cepat, aman, dan berkelanjutan.

"Kualitas interkoneksi menjadi faktor penting untuk menjaga performa aplikasi, memastikan kontinuitas layanan, serta mendukung pertukaran data dengan latensi yang rendah. Melalui pengembangan jaringan fiber optik bawah tanah dan peningkatan kapasitas backbone network, kami menghadirkan infrastruktur konektivitas yang andal, scalable, dan siap mendukung pertumbuhan bisnis pelanggan," ujar Yudie.

Penguatan jaringan tersebut juga disebut akan mendukung pengembangan ekosistem data center nasional, termasuk kampus data center berkapasitas 500 MW di Bekasi yang tengah dikembangkan Digital Edge Indonesia. Integrasi antara infrastruktur konektivitas dan fasilitas data center diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan layanan berbasis AI, cloud, serta ekonomi digital di Indonesia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.