• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Homo floresiensis Berasal...

Homo floresiensis Berasal dari Evolusi yang Lebih Purba?

Rabu, 08 Jul 2026, 07:22 WIB

SEJAK fosil Homo floresiensis ditemukan di Gua Liang Bua, Flores, pada tahun 2003, salah satu pertanyaan terbesar yang dihadapi para ilmuwan adalah: di mana posisi spesies ini dalam pohon evolusi manusia? Hingga kini, belum ada kesepakatan mutlak mengenai asal-usul “manusia hobbit” tersebut. Akibatnya, setiap temuan baru selalu berpotensi mengubah pemahaman kita tentang sejarah evolusi manusia.

Pada awal penemuannya, banyak ilmuwan menganggap Homo floresiensis merupakan keturunan Homo erectus—spesies manusia purba yang diketahui telah menyebar dari Afrika ke Asia sekitar 1,8 juta tahun lalu. Fosil Homo erectus sendiri telah lama ditemukan di Pulau Jawa, sehingga muncul dugaan bahwa sebagian dari populasi mereka kemudian bermigrasi ke Flores.

Ket. Foto: Fragmen tulang terpilih yang menunjukkan bekas yang dibuat oleh H. floresiensis (a–f) dan komodo (g–l). — Sumber: Science Advances

Hipotesis ini didukung oleh fenomena island dwarfism (kerdilisasi pulau). Proses evolusi ini terjadi ketika hewan berukuran besar yang hidup dalam waktu lama di pulau terpencil berkembang menjadi jauh lebih kecil akibat keterbatasan sumber makanan dan minimnya predator. Contoh paling terkenal di Flores adalah Stegodon, kerabat gajah purba yang ukurannya menyusut drastis dibandingkan gajah purba di daratan Asia.

Bila teori tersebut benar, Homo floresiensis diperkirakan merupakan Homo erectus yang mengalami penyusutan ukuran tubuh dan otak selama ratusan ribu tahun demi beradaptasi dengan lingkungan Pulau Flores.

Memiliki Ciri yang Sangat Primitif

Penelitian anatomi menunjukkan bahwa meskipun Homo floresiensis sudah berjalan tegak seperti manusia modern, banyak bagian tubuhnya justru mengingatkan pada spesies manusia yang jauh lebih tua:

Dari sisi volume Otak, ukurannya hanya sekitar 426 cc (sentimeter kubik), hampir setara dengan simpanse dan hanya sepertiga dari ukuran otak manusia modern. sedangkan struktur tubuhnya dengan bentuk pergelangan tangan, bahu, panggul, kaki, serta proporsi lengannya menunjukkan karakteristik yang jauh lebih primitif dibandingkan Homo erectus.

Beberapa ciri fisik tersebut dinilai lebih mirip dengan Homo habilis, salah satu anggota paling awal dari genus Homo yang hidup di Afrika sekitar 2,4–1,5 juta tahun lalu. Sebagian ilmuwan bahkan melihat kemiripan dengan Australopithecus afarensis, kelompok hominin yang hidup lebih dari tiga juta tahun lalu.

Australopithecus telah mampu berjalan tegak, tetapi masih memiliki otak yang relatif kecil dan sejumlah karakter mirip kera. Karena kemiripan inilah, sejumlah peneliti mulai mengusulkan bahwa Homo floresiensis bukanlah Homo erectus yang mengecil, melainkan keturunan dari garis evolusi manusia yang jauh lebih tua. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menambah bobot pada hipotesis garis evolusi tua tersebut. Selama bertahun-tahun, keberadaan alat batu, dugaan kemampuan berburu Stegodon, dan penguasaan api dianggap sebagai bukti bahwa Homo floresiensis memiliki kemampuan kognitif.

Namun, studi terbaru justru menyimpulkan bahwa manusia hobbit kemungkinan tidak berburu Stegodon, melainkan hanya memanfaatkan sisa mangsa yang ditinggalkan oleh komodo. Penelitian itu juga tidak menemukan bukti kuat bahwa mereka menggunakan api ­untuk memasak. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

Dugaan Jual Beli Kursi Jalur Mandiri Unsoed Terjadi di Masa Rektor Akhmad Sodiq.

Gempa NTT, Pelni Cabang Ambon Siapkan Layanan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan.

Relawan Medis UMI Makassar Tembus Pegunungan Manggarai, Bantu Warga Terdampak Bencana.

Baznas Salurkan 1.000 Mushaf Al Quran kepada Masyarakat Kampung Baduy.

Hujan Kalsel Diprakirakan Meningkat Oktober, BMKG Sebut Bisa Bantu Atasi Karhutla.

Karhutla Tanah Bumbu, Polisi Bagikan Masker untuk Lindungi Warga dari Asap.

Karhutla Jadi Perhatian, Papua Tengah Bentuk Satgas untuk 8 Kabupaten.

Kementerian PU Turun Tangani Karhutla di Tanjung Selor, Kaltara.

Kabut Asap Karhutla Muncul, Pelayaran Speedboat Tanjung Selor-Tarakan Tetap Normal.

Sungai Musi Dipenuhi Sampah, Wali Kota Palembang Ajak Warga Bergerak.

Pemerintah Luruskan Istilah “Emas di Bawah Bantal”, Ternyata Ada 1.800 Ton Senilai Rp4.000 Triliun

Mau Selamatkan Harimau? Rantai Makanan Harus Dijaga.

Rayakan 5 Abad Banjarmasin, Festival Tari Daerah Jadi Upaya Lestarikan Tradisi.

Polisi Buru Pemodal Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar di Tangsel

Gempa M4,8 Guncang Perairan 84 Km Timur Laut Ruteng Manggarai NTT.

Rumah Adat di Kawasan Wisata Sade Lombok Terbakar.

Karhutla Jambi Meningkat, Wakapolda Cek Titik Panas dan Evaluasi Penanganan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.