Argentina Lolos dari Tubir Kekalahan dari Mesir, Duo Lionel Jadi Penyelamat
Rabu, 08 Jul 2026, 07:28 WIBATLANTA - Juara bertahan Piala Dunia, Argentina nyaris mengikuti jejak Jerman, Belanda, Brasil, dan Portugal saat melakoni laga ketat kontra Mesir di babak 16 Besar di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Selasa (7/7) waktu setempat.Â
Bagaimana tidak, Argentina hingga menit 67-an masih tertinggal 0-2. Namun, Argentina akhirnya mampu membalikkan keadaan lewat perjuangan keras dan hebat.
Padahal sebelumnya, Mesir mencetak gol kedua mereka ke gawang Argentina. Sepakan akurat Mostafa Zico menyambut umpan tarik Haissem Hassan mengoyak gawang Argentina, membawa Mesir unggul secara meyakinkan dengan skor 2-0 atas sang juara bertahan.
Argentina sudah di ujung tanduk. Sekira 20 menit --ditambah entah berapa menit waktu tambahan-- setelah jeda turun minum babak kedua, Albiceleste terancam harus pulang lebih awal dari Piala Dunia 2026.
Namun, Lionel Messi tetaplah Lionel Messi, begitu pula Lionel Scaloni adalah Lionel Scaloni. Kehadiran 'Lionel' kedua, yakni Scaloni, seolah menjawab penantian panjang 'Lionel' pertama untuk menciptakan generasi emas baru sepak bola Argentina.
Sejak Scaloni naik dari posisi asisten pelatih resmi menggantikan Jorge Sampaoli per Oktober 2018, publik sepak bola Argentina seolah menemukan sumber kepercayaan dan keyakinan baru, tak semata bergantung pada Messi sang Lionel pertama.
Turnamen pertama Scaloni memang tak langsung berbuah prestasi memukau, tapi kemenangan atas Chile dalam perebutan tempat ketiga Copa America 2019 menuai respon positif baik bagi tim nasional Argentina maupun sang Lionel kedua.
Maka dimulailah petualangan Duo Lionel bahu membahu membawa zaman keemasan sepak bola Argentina.
Trofi Copa America 2021 sukses mereka raih dengan menundukkan Brasil di Mekkah-nya sepak bola Negeri Samba, Maracana, menyudahi paceklik gelar Argentina yang sudah berlangsung sejak 1993.
Setahun berselang, Argentina melumat Italia 3-0 di laga Finalissima 2022, edisi reinagurasi laga antarjuara UEFA dan CONMEBOL yang terakhir kali digelar pada 1993.
Dua trofi itu dilengkapi dengan kesuksesan tertinggi sepak bola, yakni menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, sebelum berhasil mempertahankan gelar Copa America pada edisi 2024 dua tahun berselang.
Praktis tiga trofi bergengsi --empat jika Anda ingin mengikuti mau UEFA serta CONMEBOL menganggap Finalissima cukup penting-- telah dihasilkan oleh Duo Lionel untuk Argentina.
Boleh jadi, rekam jejak meraih trofi-trofi itu pula yang menjadi sumber kepercayaan diri lebih La Albiceleste ketika mereka bersiap memasuki lapangan lagi selepas jeda turun minum babak kedua.
Atau mungkin, Lionel Scaloni menyampaikan pesan senada dengan pep talk Ketua Umum PSSI Erick Thohir kepada timnas Indonesia saat jeda turun minum dua tahun lalu yang kurang lebih berbunyi "Kalian mau menyerah atau fight back?"
Bila itu yang disampaikan, rasanya seluruh penikmat sepak bola di berbagai belahan dunia kemudian bisa mendapat jawaban yang gamblang dan lugas.
Hanya enam menit setelah babak kedua dimulai, Cristian Romero memanfaatkan posisinya yang bebas untuk menanduk umpan silang dari Messi, mencetak gol penyeimbang pertama Argentina. Skor sementara berubah menjadi 1-2, dengan Mesir masih unggul di menit ke-79.
Tak sampai empat menit berselang giliran Messi sendiri yang sukses menaklukkan kiper Mostafa Shobeir dengan sepakan kaki kirinya demi menghapuskan keunggulan Mesir dan mengubah kedudukan menjadi 2-2.
Fight back yang dilancarkan Argentina terus berlanjut, terbantu mentalitas para pemain Mesir yang mungkin sudah terpukul menghadapi betapa mudahnya keunggulan yang mereka miliki lenyap dalam sekejap.
Maka kemudian terjadilah, pada menit kedua waktu tambahan Lautaro Martinez mengirimkan umpan silang melambung yang disambut sundulan kepala Enzo Fernandez menyarangkan bola ke arah tiang jauh gawang Mesir.
Pasukan Putih Biru Langit tuntas membalikkan keadaan dan memenangi pertandingan, membuka kesempatan Dua Lionel melanjutkan zaman keemasan sepak bola Argentina.
Keuntungan
Lima, sepuluh, atau entah berapa tahun lagi dari sekarang sebagian besar orang hanya akan mengingat dan/atau mengenal kisah heroisme kebangkitan Argentina kontra Mesir di pertandingan 16 besar Piala Dunia 2026.
Lebih kurangnya sesederhana narasi di atas, dengan memadukan bumbu jalinan Duo Lionel dan kesuksesan yang menyertai Argentina.
Kecuali Anda ingin mendaku sebagai tactico, istilah yang kerap digunakan untuk merujuk pada sosok-sosok pandit dan ahli strategi sepak bola dadakan di media sosial dan dunia maya.
Anda tentu tidak bisa menafikkan bahwa Argentina --dan Messi khususnya-- bergelimang begitu banyak keuntungan yang menyertai, entah disengaja atau tidak.
Dari kacamata terbesar, Argentina disebut-sebut mendapat jalur yang relatif mulus dari hasil undian grup Piala Dunia 2026, sebab tidak berada satu bagan dengan tim-tim kuat --sebutlah Prancis finalis 2022 misalnya-- di babak gugur kecuali partai puncak.
Keuntungan yang dituduhkan kepada Argentina menghasilkan mereka bertemu Tanjung Verde di babak 32 besar lalu. Tapi nyatanya, tim debutan Piala Dunia itu tak hanya telentang kemudian berganti peran jadi sasaran tembak.
Tanjung Verde memberikan perlawanan kuat, tapi pada akhirnya Argentina mampu memenangi pertandingan seru lewat babak tambahan waktu.
Sebelum keuntungan itu, netizen begitu menyoroti betapa Messi mendapat pemakluman yang begitu besar ketika potongan video memperlihatkan ia menjegal betis bek Aljazair Aissa Mandi di laga pertama Grup J. Sebagian kalangan menganggap jegalan itu layak diberi kartu merah.
Namun, pada akhirnya Messi dan Argentina mendapat keuntungan tak ada hukuman apapun. Lantas Messi mencetak trigol demi memimpin Argentina menang 3-0 atas Aljazair.
Keuntungan juga masih mengikuti Messi dan Argentina di laga 16 besar melawan Mesir. Sebelum gol kedua Mesir yang diterima secara resmi, Zico sebetulnya sempat menjebol gawang Argentina pada menit ke-58 dalam situasi serangan balik.
Namun, wasit Francois Letexier menganulir gol tersebut karena memvonis Haissem Hassan lebih dulu melanggar Lisandro Martinez dalam proses awal serangan balik, setelah meninjau tayangan ulang di monitor VAR tepi lapangan.
Tayangan ulang memang memperlihatkan ada injakan dari kaki kiri Hassan ke kaki kanan Lisandro, kontak fisik yang sebetulnya jauh lebih ringan dibanding jegalan Messi ke betis Mandi, tapi yang satu dihukum dan yang lain tidak.
Keuntungan berlanjut dalam proses terjadinya gol penentu kemenangan Argentina. Gol itu menjadi penyelesaian situasi serangan balik setelah Leandro Paredes menghentikan pergerakan Mohamed Salah di kotak penalti Argentina.
Tak seperti gol "pertama" Zico yang dianulir setelah ada peninjauan proses serangan, gol ketiga Argentina kebal dari tinjauan apapun. Bahkan tayangan ulang aksi Paredes menghentikan Salah pun hanya sekali dimunculkan, sebelum adegan bergeser ke selebrasi Argentina.
Keuntungan, keberpihakan, atau mungkin berat sebelah adalah situasi yang bisa terjadi kapan saja dalam pertandingan olahraga apapun, termasuk sepak bola.
Namun, memanfaatkan keuntungan yang dimiliki tak semudah membalikkan telapak tangan, tetap membutuhkan kemampuan murni sebagai penunjang.
Jika tak percaya, lihat saja bagaimana Amerika Serikat mendapat keuntungan besar berupa pencabutan sanksi larangan tanding bagi penyerang mereka, Folarin Balogun.
Awalnya, Balogun mendapat kartu merah di laga 32 besar melawan Bosnia dan Herzegovina. Namun, berkat campur tangan Presiden AS Donald Trump, keputusan mengejutkan dari Komisi Disiplin FIFA, serta pembelaan khas Presiden FIFA Gianni Infantino, pemain AS Monaco itu akhirnya tetap bisa turun melawan Belgia di babak 16 besar.
Protes federasi sepak bola Belgia, kecaman UEFA, bahkan suara masyarakat olahraga secara umum tak mampu menembus tulinya telinga FIFA.
Namun, keuntungan yang didapatkan Amerika Serikat bertemu dengan kenyataan bahwa tim mereka "tidak jago-jago amat" main sepak bola. Belgia menyalurkan kemarahan mereka menjadi empat gol penyokong kemenangan 4-1 yang membuat Amerika jadi tuan rumah terakhir yang tersingkir di Piala Dunia 2026.
Maka, sekali lagi, jika diberi keuntungan, manfaatkanlah seperti Argentina sembari membubuhkan pernak pernik kisah heroisme sarat drama agar menjadi lebih epik.
Berita Terkait:
-
Hasil Piala Dunia: Mesir Petik Kemenangan Perdana, Tundukkan Selandia Baru 3-1
-
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Norwegia dan Argentina Kuasai Puncak Grup I & J
-
Argentina Vs Mesir: Argentina Unggul dan Menuju Babak 8 Besar
-
Tanjung Verde Siapkan Kejutan, Tak Gentar Hadapi Juara Bertahan Piala Dunia Argentina
-
Jelang Laga Argentina Kontra Mesir: Bak David Versus Goliath, Ini Panggung Pembuktian The Pharaohs
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.