• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Manusia Hobbit Flores Hidu...

Manusia Hobbit Flores Hidup dari Sisa Mangsa Komodo?

Rabu, 08 Jul 2026, 07:37 WIB

STUDI yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances menyimpulkan bahwa manusia purba bertubuh kecil itu kemungkinan besar bukan pemburu hewan besar. Sebaliknya, mereka diduga memanfaatkan sisa-sisa mangsa yang telah lebih dahulu dibunuh oleh komodo, predator terbesar di Pulau Flores pada masa itu.

Temuan tersebut sekaligus memperkuat dugaan bahwa kemampuan teknologi dan perilaku Homo floresiensis jauh lebih sederhana dibandingkan kerabat manusia purba lain seperti Homo erectus, Neanderthal, maupun Homo sapiens.

Ket. Foto: Rekonstruksi wajah Homo floresiensis. — Sumber: Wikimedia Commons

Homo floresiensis pertama kali menggemparkan dunia setelah fosilnya ditemukan pada tahun 2003 di Gua Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Makhluk ini memiliki tinggi sekitar satu meter dengan ukuran tengkorak hanya sebesar buah jeruk bali, serta volume otak yang sedikit lebih besar daripada ­simpanse.

Di sekitar fosil tersebut, para arkeolog menemukan ribuan alat batu serta tulang-tulang Stegodon florensis insularis (kerabat gajah purba berukuran kecil). Selama bertahun-tahun, keberadaan alat batu di dekat tulang Stegodon dan penemuan sejumlah tulang yang terbakar dianggap sebagai bukti kuat bahwa mereka mampu berburu gajah dan menggunakan api untuk memasak. Namun, interpretasi ini sekarang dipertanyakan.

“Kami ingin menguji apakah benar Homo floresiensis adalah pemburu seperti yang selama ini diyakini,” kata paleoantropolog Dr. Elizabeth Grace Veatch, penulis utama penelitian sekaligus peneliti Program Human Origins di Smithsonian Institution National Museum of Natural ­History.

Bekas Gigitan Komodo

Untuk menguji hipotesis tersebut, Veatch bersama timnya menganalisis berbagai bekas sayatan dan gigitan yang tertinggal pada tulang Stegodon dari Liang Bua setelah hewan itu mati.

Salah satu bagian paling unik dari penelitian ini dilakukan di Zoo Atlanta, Amerika Serikat. Para peneliti mengamati seekor komodo bernama Rinca saat melahap bangkai kambing. Setelah komodo selesai makan, tulang-tulang kambing dipindai menggunakan teknologi pemindaian tiga dimensi (3D) untuk mendokumentasikan pola bekas gigitan yang ditinggalkan reptil raksasa tersebut.

Hasil pemindaian kemudian dibandingkan dengan tulang Stegodon dari Liang Bua. Temuan utama dari penelitian itu adalah, sebagian besar bekas pada tulang Stegodon ternyata jauh lebih mirip dengan bekas gigitan komodo dibandingkan bekas potongan alat batu.

Sedangkan dari sisi pola makan, bekas gigitan komodo banyak ditemukan pada bagian tubuh Stegodon yang paling kaya daging. Sementara itu, bekas sayatan alat batu justru berada di bagian tubuh sisa yang memiliki nilai gizi lebih rendah.

Temuan ini mengindikasikan bahwa komodo kemungkinan lebih dahulu membunuh Stegodon menggunakan gigitannya. Setelah predator tersebut pergi, Homo floresiensis baru datang untuk mengambil sisa-sisa daging yang masih menempel pada tulang.

Menurut para peneliti, manusia hobbit tidak berisiko mengalami keracunan karena racun komodo berupa protein yang akan diuraikan oleh enzim pencernaan manusia.

Tidak Menemukan Bukti Penggunaan Api

Dalam kajian evolusi, kemampuan mengendalikan api dianggap sebagai salah satu lompatan terbesar. Api mengubah pola kehidupan manusia purba: menghangatkan tubuh, mengusir predator, memperpanjang aktivitas sosial di malam hari, hingga melunakkan makanan. Menurut Richard Wrangham, antropolog dari Harvard University yang mengembangkan cooking hypothesis, kebiasaan memasak inilah yang memicu otak manusia berevolusi menjadi lebih besar karena pasokan energi yang lebih efisien.

Selama ini, bukti penggunaan api umumnya dikaitkan dengan spesies berotak besar seperti Homo erectus, Neanderthal, dan Homo sapiens. Dugaan bahwa Homo floresiensis mampu menggunakan api sempat dijadikan dasar bahwa mereka memiliki kecerdasan yang relatif maju.

Namun, tim peneliti membantah hal tersebut setelah menganalisis sekitar 4.500 tulang tikus (hewan pengerat) yang selama ribuan tahun tertimbun di lantai Gua Liang Bua akibat aktivitas burung hantu.

Apabila manusia hobbit secara rutin membuat perapian di dalam gua, tulang-tulang tikus dan Stegodon di lapisan tanah tersebut seharusnya memperlihatkan bekas hangus akibat panas. Nyatanya, hasil analisis tidak menemukan satu pun tulang yang menunjukkan tanda terbakar.

Para peneliti menyimpulkan bahwa sejumlah kecil tulang yang terbakar di Gua Liang Bua berasal dari lapisan sedimen yang lebih muda. Tulang-tulang tersebut merupakan hasil aktivitas Homo sapiens yang baru mulai menghuni gua sekitar 46.000 tahun lalu—jauh setelah Homo floresiensis dan Stegodon punah dari Flores.

Berdampingan dengan Komodo

Jika kesimpulan ini benar, maka Homo floresiensis menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari kerabat manusia lainnya. Mereka kemungkinan bertahan hidup dengan mengonsumsi kombinasi daging mentah hasil memulung sisa komodo, tumbuhan, serta serangga, tanpa memasaknya terlebih dahulu.

Meski hidup berdampingan dengan komodo selama puluhan ribu tahun, mereka tampaknya mampu menghindari serangan predator tersebut. Paleoantropolog Briana Pobiner, rekan penulis penelitian dari Smithsonian Institution, menjelaskan bahwa komodo modern jarang menyerang manusia tanpa alasan. Hidup secara berkelompok dan selalu waspada kemungkinan sudah cukup bagi Homo floresiensis untuk mengurangi risiko menjadi mangsa.

Bagi para ilmuwan, temuan baru ini sangat krusial karena membuka kemungkinan bahwa jalur evolusi Homo floresiensis terpisah lebih awal dari garis keturunan manusia ­modern.

Penelitian ini membuktikan bahwa berbagai spesies manusia purba yang hidup pada periode yang sama ternyata memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan adaptasi, dan organisasi sosial yang sangat ­berbeda.hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

Dugaan Jual Beli Kursi Jalur Mandiri Unsoed Terjadi di Masa Rektor Akhmad Sodiq.

Gempa NTT, Pelni Cabang Ambon Siapkan Layanan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan.

Relawan Medis UMI Makassar Tembus Pegunungan Manggarai, Bantu Warga Terdampak Bencana.

Baznas Salurkan 1.000 Mushaf Al Quran kepada Masyarakat Kampung Baduy.

Hujan Kalsel Diprakirakan Meningkat Oktober, BMKG Sebut Bisa Bantu Atasi Karhutla.

Karhutla Tanah Bumbu, Polisi Bagikan Masker untuk Lindungi Warga dari Asap.

Karhutla Jadi Perhatian, Papua Tengah Bentuk Satgas untuk 8 Kabupaten.

Kementerian PU Turun Tangani Karhutla di Tanjung Selor, Kaltara.

Kabut Asap Karhutla Muncul, Pelayaran Speedboat Tanjung Selor-Tarakan Tetap Normal.

Sungai Musi Dipenuhi Sampah, Wali Kota Palembang Ajak Warga Bergerak.

Pemerintah Luruskan Istilah “Emas di Bawah Bantal”, Ternyata Ada 1.800 Ton Senilai Rp4.000 Triliun

Mau Selamatkan Harimau? Rantai Makanan Harus Dijaga.

Rayakan 5 Abad Banjarmasin, Festival Tari Daerah Jadi Upaya Lestarikan Tradisi.

Polisi Buru Pemodal Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar di Tangsel

Gempa M4,8 Guncang Perairan 84 Km Timur Laut Ruteng Manggarai NTT.

Rumah Adat di Kawasan Wisata Sade Lombok Terbakar.

Karhutla Jambi Meningkat, Wakapolda Cek Titik Panas dan Evaluasi Penanganan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.