Sekitar 30% Perusahaan Kesulitan Rekrut Talenta Berkualitas
Selasa, 07 Jul 2026, 01:00 WIBKebutuhan tenaga kerja terampil terutama di sektor ekonomi digital diperkirakan terus meningkat hingga tahun 2030.
JAKARTA - Penguatan talenta tenaga kerja terampil dapat menutup celah kebutuhan industri yang dapat mendorong daya saing industri kreatif sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Utama Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2025, jumlah angkatan kerja mencapai 153 juta orang, dan potensi tersebut dapat dioptimalkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan, serta sertifikasi keterampilan.
âData menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 153 juta orang, namun hanya 2,66 persen yang memiliki pendidikan tinggi, dan lebih dari 30 persen perusahaan mengalami kesulitan merekrut talenta berkualitas,â kata Bhima kepada Antara di Jakarta, Senin (6/7).
Bhima mengatakan kebutuhan tenaga kerja terampil terutama di sektor ekonomi digital diperkirakan terus meningkat hingga 2030.
Dia juga menyoroti jarak antara ketersediaan pekerja terampil dengan minimnya penyerapan tenaga kerja akan memicu peralihan industri kreatif lebih banyak gunakan Artifial Intelligence (AI) atau machine learning karena kesulitan perusahaan mencari talenta dari universitas atau lulusan sekolah kejuruan.
Kondisi ini menjadi momentum bagi pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri untuk mempercepat penciptaan talenta digital agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan industri dari dalam negeri sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi berbasis teknologi.
Lebih Merata
Ia juga mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing ekonomi kreatif melalui pengembangan sumber daya manusia yang lebih merata dan sesuai dengan kebutuhan industri.
Saat ini, mayoritas tenaga kerja industri kreatif masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga penguatan pusat pendidikan dan pelatihan di Indonesia Timur dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pekerjaan berkualitas.
âMasalah yang paling krusial adalah gap karena konsentrasi geografis. Sebanyak 58 persen tenaga kerja industri kreatif masih tersedia di tiga provinsi Jawa, sementara wilayah Indonesia Timur sangat kecil,â katanya.
Bhima mengatakan penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri, termasuk penyediaan program magang dan sertifikasi profesi, diyakini akan mempercepat lahirnya tenaga kerja yang siap pakai.
Langkah ini tidak hanya mendukung subsektor digital seperti gim, animasi, perangkat lunak, dan konten digital, tetapi juga meningkatkan daya saing subsektor kuliner, fesyen, dan kriya.
Menurutnya, industri kreatif digital tumbuh lebih melesat dengan gaji kompetitif, namun subsektor tradisional seperti kuliner, fesyen, kriya cenderung terjadi informalitas tenaga kerja.
Penguatan perlindungan bagi pekerja di sektor ekonomi kreatif, terutama yang masih berada di sektor informal, juga menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan.
Dengan dukungan peningkatan kompetensi, pemerataan talenta, dan perlindungan tenaga kerja, ekonomi kreatif berpeluang menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas di berbagai daerah.
- Ekonomi Digital
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Pemkot Banjarmasin Gandeng Swasta untuk Percepat Penanganan Darurat Sampah
-
Trump dan Nigeria Klaim Telah Bunuh Wakil Komandan ISIS
-
BRIN Kenalkan Teknologi RCP untuk Tingkatkan Keselamatan Perlintasan Kereta
-
Festival Permainan Rakyat Kalbar: Merajut Keberagaman dan Perkuat Budaya dengan Tradisi Nusantara
-
Telkom Terbitkan Sustainability Report 2025, Perkuat Transisi Rendah Karbon dan ESG
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.