Pedagang Seragam Sekolah di Purwokerto Merana Disaingi Belanja Online

Selasa, 07 Jul 2026, 16:36 WIB

PURWOKERTO -- Pedagang seragam sekolah di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mulai merasakan dampak meningkatnya tren belanja daring, sehingga penjualan pada momentum tahun ajaran baru tidak lagi seramai beberapa tahun sebelumnya.

Salah seorang pedagang seragam sekolah di kawasan Kebondalem, Purwokerto, Banyumas, Senin, Liyanto mengakui jika pada masa menjelang tahun ajaran baru kali ini sebenarnya mengalami kenaikan omzet sekitar 50 persen dibandingkan hari biasa.

Ket. Foto: Suasana salah satu toko penjualan seragam sekolah di kawasan Kebondalem, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (6/7). — Sumber: ANTARA/Sumarwoto

"Tetapi, kondisinya jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu karena banyak masyarakat kini memilih berbelanja secara online (daring)," katanya.

Ia mengaku telah melayani kebutuhan masyarakat sejak 1995 dengan menyediakan berbagai jenis seragam sekolah, seragam dinas aparatur sipil negara (ASN), berbagai jenis seragam lainnya, perlengkapan sekolah, hingga alat tulis kantor (ATK).

Akan tetapi, kata dia, dalam tiga tahun terakhir penjualan terus mengalami penurunan seiring semakin banyak masyarakat beralih ke platform belanja daring.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat lonjakan pembeli menjelang tahun ajaran baru tidak lagi sebesar sebelumnya.

"Dampaknya terasa sekali. Dulu kurang satu minggu sebelum masuk sekolah pembeli sudah penuh sesak di toko, tetapi sekarang kondisinya sudah tidak seperti itu lagi karena banyak yang memilih belanja online," katanya menegaskan.

Oleh karena itu, pihaknya mulai memperluas jenis dagangan dengan menjual lebih banyak alat tulis kantor (ATK) serta mencoba memasarkan produk secara daring sebagai upaya untuk menyesuaikan perubahan perilaku konsumen.

Namun, kata dia, langkah tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi persaingan dengan toko daring.

Terkait dengan hal itu, dia mengaku mengurangi jumlah barang yang didatangkan dari sentra konveksi di Solo, Jateng, dan Bandung, Jabar, karena penjualan yang melambat.

"Sekarang, memang lesu. Kulakan juga dikurangi karena penjualannya tidak sebanyak dulu," katanya.

Lebih lanjut, Liyanto mengatakan satu setel seragam sekolah dia jual dengan harga mulai Rp100 ribu.

Selain itu, pihaknya juga menyediakan layanan bordir nama untuk melengkapi kebutuhan siswa menjelang masuk sekolah.

"Kebutuhan seragam sekolah saat ini juga mengalami perubahan. Banyak sekolah memberikan keleluasaan kepada orang tua untuk membeli sendiri seragam, sedangkan yang umumnya diwajibkan hanya seragam batik sekolah dan seragam olahraga," katanya.

Salah seorang warga Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Endang mengaku tetap memilih membeli perlengkapan sekolah secara langsung di toko karena dapat melihat kualitas barang sekaligus memastikan ukuran pakaian sesuai untuk anaknya yang akan masuk sekolah menengah pertama (SMP).

"Kalau beli online enggak bisa lihat sendiri dan enggak bisa mencoba karena kadang kebesaran atau kekecilan. Kalau di sini harganya murah dan bisa memilih," katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi mengatakan kebutuhan seragam sekolah saat ini lebih banyak dipenuhi oleh toko yang menyediakan pakaian jadi dibandingkan melalui jasa penjahit atau konveksi skala kecil.

"Masyarakat cenderung memilih produk siap pakai karena lebih praktis dan harganya lebih kompetitif," katanya.

Kendati demikian, dia mengakui DPKUKM selama ini belum memiliki data mengenai peningkatan atau penurunan permintaan seragam sekolah yang berdampak langsung terhadap pelaku usaha konveksi lokal.

Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan penelitian terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sektor konveksi dan tekstil guna mengetahui seberapa besar peningkatan atau penurunan omzet UMKM sektor tersebut.

"Kami akan mencoba memantau apakah setiap tahun ajaran baru memang ada tambahan omzet untuk pelaku usaha. Selama ini teman-teman pelaku usaha juga tidak pernah melaporkan apakah ada peningkatan pesanan atau tidak," katanya.

Gatot mengharapkan penelitian tersebut dapat memberikan gambaran mengenai peluang dan kendala yang dihadapi pelaku UMKM konveksi menjelang tahun ajaran baru.

  • Penjualan Seragam Sekolah

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

Berita Terbaru

Hebat Prestasi Mendunia! Lima Mahasiswa UI Tembus Program Geosains di Houston

Jalan layang Bomang Buka Akses Warga Bojonggede dan Parung Langsung ke Cibinong

Pemkot Pariaman dan KKP Koordinasi Realisasikan Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih

Beras Indonesia Surplus 3,67 Juta Ton, Kok Harga di Daerah Masih Bisa Rp30 Ribu?

Inter Milan Rekrut Curtis Jones dari Liverpool, Kontrak hingga 2031

Kirab Ancak Agung Jember Kembali Bikin Sejarah, Rekor MURI Berhasil Dipecahkan!

Pemprov Gorontalo Perkuat Sektor Agro Maritim

Sungai Musi Bersih, Kota Palembang Asri! Wali Kota Dorong Aksi Peduli Lingkungan

Pemkot Palu Sasar 31.316 Penerima Manfaat Bantuan Pangan

Hasil Liga Spanyol: Mourinho Awali Periode Kedua di Madrid dengan Kemenangan 2-1 Atas Espanyol

Dari yang Paling Horor Hingga yang Mengecewakan: Ranking Enam Film Insidious

Kabut Asap Makin Pekat, Dinkes Palembang Imbau Warga Gunakan Masker

Karang Taruna Nasional Kerahkan Personel Turut Tangani karhutla di Kalbar

Pemain Timnas Indonesia Ole Romeny Kena Kartu Merah, Fortuna Sittard Harus Akui Keunggulan AZ Alkmaar

Pemprov Sumut Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Transformasi Digital

Gelar Bazar Harkop Harnas, Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM ‎

Produk UMKM Lebak Makin Laris! Pemkab Bantu Pasarkan Lewat Bazar

Pacu Daya Saing sebagai Kota Global, Pemprov DKI Dorong Penguatan Ekosistem Musik

12 Film Horor dengan Penggambaran Dunia Paling Mengerikan dan Memikat

Kapal Korea Selatan Tembus Jalur Arktik, Rute Baru Asia-Eropa Pangkas 7.000 Km

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.