Piala Dunia, Laga Portugal Versus Spanyol, Salah Satu “Final Dini” Terbaik yang Patut Dipelototin
Senin, 06 Jul 2026, 12:22 WIBSLEMAN â Selasa dini hari nanti akan tersaji laga âfinal diniâ yang patut dipelototin. Ini juga akan menjadi laga terakhir Cristiano Ronaldo di Piala Dunia andai Portugal kalah dari Spanyol.
 "Ini akan menjadi Piala Dunia saya yang terakhir,â ujar Ronaldo. Dia berharap esok (7/7) tak akan menjadi laga terakhir Piala Dunia 2026 dalam laga babak 16 besar antara Portugal dan Spanyol di "Dallas Stadium," Texas, Amerika Serikat.
Ronaldo sudah sering menghadapi Spanyol dalam laga yang kerap disebut Derbi Iberia ini. Iberia adalah semenanjung di Eropa barat daya yang menjadi tempat Portugal, Spanyol, Andorra, Gibraltar, dan Prancis berada.
Tetapi semenanjung ini lebih sering diasosiasikan oleh Portugal dan Spanyol.
Kedua negara berdekatan dalam banyak hal, tak saja dari geografi, tapi juga budaya dan sejarah.
Seperti Belgia dengan Belanda atau Republik Irlandia dengan Inggris, kedua negara pernah berada dalam hubungan mengkolonisasi dan dikolonisasi.
Latar belakang di masa lalu turut membuat mereka dekat bak sahabat, tapi juga sering terlihat bersaing pada tingkat yang ekstrem.
Mereka benci tapi rindu, frenemy yang bersahabat sekaligus "bermusuhan", tapi bukan dalam suasana perang.
Mereka bersaing untuk saling menunjukkan siapa yang lebih unggul, yang meluber ke mana-mana, termasuk sepak bola sampai muncul istilah Derbi Iberia.
Derbi ini sudah terjadi sejak 19 Desember 1921, dan pertemuan kedua dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 adalah Derbi Iberia ke-41, dan ke-13 dalam pertandingan kompetitif.
Ronaldo sudah sering terlibat dalam derbi ini, sejak Euro 2004 ketika Portugal menang 1-0 dalam fase grup berkat gol Nuno Gomes.
Tetapi setelah itu, Selecao kalah dalam 16 besar Piala Dunia 2010 ketika Ronaldo sudah menjadi kapten timnas Portugal.
Kemudian, kalah lagi dalam semifinal Euro 2012, seri pada fase grup Piala Dunia 2018, seri dan kalah dalam UEFA Nations League pada 2022.
Terakhir, setahun lalu Portugal menang adu penalti dalam final UEFA Nations League pada 8 Juni 2025.
Lebih agresif
Dengan demikian, Ronaldo sudah tiga kali mengalami kekalahan dari pertemuan-pertemuan kompetitifnya dengan Spanyol, walau dia menyarangkan dua gol dari pertandingan-pertandingan kompetitif terakhir Portugal dengan Spanyol.
Kini Ronaldo berusaha memimpin Selecao untuk mengulang pencapaian Piala Dunia 2004, mengalahkan Spanyol ketika dia masih berusia 17 tahun.
CR7 tak ingin cepat-cepat mengakhiri Piala Dunia terakhirnya ini, apalagi jika dia harus mengakhiri perjalanan itu di tangan Spanyol.
Masalahnya, Ronaldo berada dalam tim yang secara individual hebat-hebat, tapi secara tim lebih retak dibandingkan Spanyol yang kompak karena bintang-bintangnya lebih bisa mengendalikan ego mereka.
Faktor kekompakan ini pula yang membuat perjalanan Portugal dalam Piala Dunia 2026Â tidak semulus Spanyol, yang tak pernah kalah dan tak pernah kebobolan sampai menjelang babak 16 besar ini.
Walau sama-sama sudah mencetak delapan gol, di mana Ronaldo dan Mikel Oyarzabal mencetak 37,5 sampai 50 persen gol-gol tim mereka, statistik pencapaian Spanyol berada di atas Portugal pada hampir semua aspek.
Jika Selecao membuat 52 umpan yang 29 persen di antaranya tepat sasaran, maka La Roja sudah membuat 78 peluang dengan 33 persen di antaranya on target.Â
Tim asuhan Luis de la Fuente jauh lebih aktif dalam menginvasi sepertiga awal permainan lawan dengan 280 sentuhan ketika tim asuhan Roberto Martinez itu membuat 268 sentuhan.
Kedua tim sama-sama lebih mengandalkan sayap kiri kala masuk ke sepertiga terakhirnya. 104 sentuhan untuk Portugal, dan 101 sentuhan di Spanyol.
Artinya, kolom kiri permainan Portugal yang ditempati bek kiri Nuno Mendes dan winger Pedro Neto atau Joao Felix atau Rafael Leao, setara berbahayanya dengan lajur kiri permainan Spanyol yang hampir selalu diisi bek kiri Marc Cucurella dan winger Alex Baena.
Sayap kiri adalah satu dari sedikit aspek yang lebih dikuasai Portugal. Tapi dalam kebanyakan aspek, Spanyol menampilkan diri sebagai tim yang lebih dominan.
Spanyol lebih agresif dalam menembus lini permainan lawan. Frekuensi Spanyol di sini adalah 842, sedangkan Portugal 748 kali.
Rodri cs juga lebih aktif dalam membuka ruang serang dan peta umpan, dengan frekuensi 2.079 kali, sedangkan Ronaldo cs 1.566 kali.
Bayang adu penalti
Konsekuensinya, akibat selalu menjadi tim yang lebih proaktif dalam setiap laga, Spanyol menjadi tim terbanyak mengalirkan umpan, 2.834 umpan yang 2.602 di antaranya akurat. Portugal melepaskan total 2.487 umpan yang 2.276 di antaranya akurat.
Satu departemen di mana Portugal boleh berbangga adalah probabilitas gol atau xG yang jauh di atas Spanyol: 8,83 banding 5,26.
Artinya, potensi gol dari peluang-peluang yang diciptakan para pemain Portugal lebih tinggi dari pada Spanyol: 15 persen lawan 12 persen.
Dalam kata lain, Portugal lebih efisien daripada Spanyol dalam mengelola peluang-peluangnya.
Dalam konteks ini, akan ada prospek menarik untuk pertarungan beda generasi di lini depan, antara Ronaldo yang sudah mencetak tiga gol untuk Portugal dan Mikel Oyarzabal yang sudah mempersembahkan 4 gol untuk Spanyol.
Adu klinis antara Ronaldo dan Oyarzabal bisa menjadi salah satu petunjuk untuk sistem bermain mana yang lebih efektif.
Apakah platform poros tunggal di belakang lima gelandang yang menekankan dominasi di sayap yang dianut de la Fuente, atau poros ganda di belakang tiga gelandang dan satu ujung tombak yang menekankan dominasi lapangan tengah yang dianut Roberto Martinez?
Tapi memang, pertandingan antara dua tim yang memuja sepak bola indah dan menyerang itu pada dasarnya merupakan kontes dua kutub yang berbeda.
Portugal mengandalkan sistem yang menekankan dominasi lini tengah dan penyelesaian akhir yang mematikan di lini depan, dengan eksekutor utamanya di Ronaldo.
Sedangkan Spanyol memainkan tiki-taka yang eksekusi para pemain muda berkemampuan teknis tinggi seperti Lamine Yamal dan Pedri, guna mendikte laga dari kedua sayap.
Sulit memperkirakan siapa yang bakal menang, tapi jika melihat riwayat pertemuan mereka dalam laga kompetitif sejak Piala Dunia 1934, kedua tim tak pernah mengakhiri laga dengan selisih lebih dari satu gol.
Jika laga ini harus dilanjutkan ke adu penalti, Portugal bisa mengimitasi epilog final Nations League 2025 melawan Spanyol ketika menang adu penalti 5-3 setelah seri 2-2 selama 120 menit.
Satu dari dua gol Selecao itu dicetak oleh Ronaldo. CR7 pastinya ingin mengulang momen indah itu agar aksinya pada pertandingan ini bukan tarian terakhirnya.
- Cristiano Ronaldo,
- Piala Dunia 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ekuador Kalah Dramatis 0-1 Lawan Pantai Gading di Grup E
-
Akhir Penantian Generasi Emas: Norwegia Siap Menggebrak Piala Dunia 2026
-
Oktober 2026 Wajib Halal! Kemenperin Gaspol Siapkan IKM Keramik Tembus Pasar Timur Tengah
-
Pep Guardiola Antar Manchester City Raih Gelar Piala FA ke-8
-
Netflix Umumkan Tur Dunia KPop Demon Hunters Segera Digelar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.