Ketika Klik di Ponsel Menggeser Ramainya Toko Seragam Sekolah di Purwokerto
Senin, 06 Jul 2026, 15:30 WIBPURWOKERTO â Di sebuah deretan toko di Purwokerto, tumpukan seragam sekolah masih tersusun rapi menanti pembeli.
Namun, suasana menjelang tahun ajaran baru yang dulu identik dengan antrean orang tua dan anak memilih ukuran baju kini tak lagi seramai sebelumnya.
Sesekali memang ada pelanggan datang, tetapi jumlahnya belum mampu mengembalikan ramainya musim belanja seperti beberapa tahun silam.
Para pedagang mulai merasakan perubahan pola belanja masyarakat. Kehadiran berbagai platform belanja daring membuat banyak orang tua memilih membeli seragam hanya lewat layar ponsel, dengan pertimbangan harga yang lebih kompetitif, pilihan yang beragam, hingga kemudahan pengiriman.
Kondisi tersebut membuat momentum yang biasanya menjadi masa panen bagi pedagang seragam kini tidak lagi memberikan lonjakan penjualan yang signifikan.
Meski begitu, para pedagang tetap bertahan dengan mengandalkan keunggulan yang sulit digantikan belanja daring, seperti kesempatan mencoba ukuran secara langsung, kualitas bahan yang bisa dilihat dan diraba, serta layanan penyesuaian seragam bila diperlukan.
Di tengah perubahan perilaku konsumen, mereka berharap musim masuk sekolah tetap membawa rezeki, meski kini harus berbagi pasar dengan derasnya arus perdagangan digital.
Salah seorang pedagang seragam sekolah di kawasan Kebondalem, Purwokerto, Banyumas, Senin (6/7), Liyanto mengakui jika pada masa menjelang tahun ajaran baru kali ini sebenarnya mengalami kenaikan omzet sekitar 50 persen dibandingkan hari biasa.
"Tetapi, kondisinya jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu karena banyak masyarakat kini memilih berbelanja secara online (daring)," katanya.
Ia mengaku telah melayani kebutuhan masyarakat sejak 1995 dengan menyediakan berbagai jenis seragam sekolah, seragam dinas aparatur sipil negara (ASN), berbagai jenis seragam lainnya, perlengkapan sekolah, hingga alat tulis kantor (ATK).
Akan tetapi, kata dia, dalam tiga tahun terakhir penjualan terus mengalami penurunan seiring semakin banyak masyarakat beralih ke platform belanja daring.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat lonjakan pembeli menjelang tahun ajaran baru tidak lagi sebesar sebelumnya.
"Dampaknya terasa sekali. Dulu kurang satu minggu sebelum masuk sekolah pembeli sudah penuh sesak di toko, tetapi sekarang kondisinya sudah tidak seperti itu lagi karena banyak yang memilih belanja online," katanya menegaskan.
Oleh karena itu, pihaknya mulai memperluas jenis dagangan dengan menjual lebih banyak alat tulis kantor (ATK) serta mencoba memasarkan produk secara daring sebagai upaya untuk menyesuaikan perubahan perilaku konsumen.
Namun, kata dia, langkah tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi persaingan dengan toko daring.
Terkait dengan hal itu, dia mengaku mengurangi jumlah barang yang didatangkan dari sentra konveksi di Solo, Jateng, dan Bandung, Jabar, karena penjualan yang melambat.
"Sekarang, memang lesu. Kulakan juga dikurangi karena penjualannya tidak sebanyak dulu," katanya.
Lebih lanjut, Liyanto mengatakan satu setel seragam sekolah dia jual dengan harga mulai Rp100 ribu.
Selain itu, pihaknya juga menyediakan layanan bordir nama untuk melengkapi kebutuhan siswa menjelang masuk sekolah.
"Kebutuhan seragam sekolah saat ini juga mengalami perubahan. Banyak sekolah memberikan keleluasaan kepada orang tua untuk membeli sendiri seragam, sedangkan yang umumnya diwajibkan hanya seragam batik sekolah dan seragam olahraga," katanya.
Salah seorang warga Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, Endang mengaku tetap memilih membeli perlengkapan sekolah secara langsung di toko karena dapat melihat kualitas barang sekaligus memastikan ukuran pakaian sesuai untuk anaknya yang akan masuk sekolah menengah pertama (SMP).
"Kalau beli online enggak bisa lihat sendiri dan enggak bisa mencoba karena kadang kebesaran atau kekecilan. Kalau di sini harganya murah dan bisa memilih," katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi mengatakan kebutuhan seragam sekolah saat ini lebih banyak dipenuhi oleh toko yang menyediakan pakaian jadi dibandingkan melalui jasa penjahit atau konveksi skala kecil.
"Masyarakat cenderung memilih produk siap pakai karena lebih praktis dan harganya lebih kompetitif," katanya.
Kendati demikian, dia mengakui DPKUKM selama ini belum memiliki data mengenai peningkatan atau penurunan permintaan seragam sekolah yang berdampak langsung terhadap pelaku usaha konveksi lokal.
Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan penelitian terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sektor konveksi dan tekstil guna mengetahui seberapa besar peningkatan atau penurunan omzet UMKM sektor tersebut.
"Kami akan mencoba memantau apakah setiap tahun ajaran baru memang ada tambahan omzet untuk pelaku usaha. Selama ini teman-teman pelaku usaha juga tidak pernah melaporkan apakah ada peningkatan pesanan atau tidak," katanya.
Gatot mengharapkan penelitian tersebut dapat memberikan gambaran mengenai peluang dan kendala yang dihadapi pelaku UMKM konveksi menjelang tahun ajaran baru.
- Penjualan Seragam Sekolah
- belanja daring (online)
- musim masuk sekolah
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.