Duel Langit F-35 AS vs Su-57 Russia, Siapa Pemenangnya?

Minggu, 05 Jul 2026, 00:07 WIB

WASHINGTON/MOSKOW – Selama bertahun-tahun, perdebatan mengenai jet tempur siluman paling canggih di dunia tak pernah berhenti. Di satu sisi ada F-35 Lightning II buatan Amerika Serikat yang telah diproduksi lebih dari seribu unit dan digunakan banyak negara sekutu. Di sisi lain berdiri Su-57 Felon, jet tempur generasi kelima andalan Russia yang dirancang untuk menggabungkan kemampuan siluman dengan kelincahan ekstrem di udara.

Karena keduanya belum pernah saling berhadapan dalam pertempuran nyata, berbagai lembaga pertahanan dan analis militer hanya bisa mengandalkan simulasi komputer serta analisis spesifikasi teknis. Hasilnya pun menunjukkan tidak ada pemenang mutlak, karena kemenangan sangat bergantung pada skenario pertempuran.

Ket. Foto: F-35 unggul dalam melihat dan menembak lebih dulu dari jarak jauh, sedangkan Su-57 lebih berbahaya jika berhasil memaksa lawannya bertarung dalam jarak dekat. — Sumber: Istimewa

Siluman: F-35 Masih Memegang Keunggulan

Dalam aspek Radar Cross Section (RCS) atau jejak radar, F-35 secara umum dinilai lebih unggul. Berbagai analisis independen memperkirakan RCS F-35 berada di kisaran 0,001–0,005 meter persegi, membuatnya sangat sulit dideteksi radar musuh dari arah depan.

Sementara itu, Su-57 memang menggunakan desain siluman, tetapi lebih mengutamakan keseimbangan antara stealth dan manuver. Berbagai perkiraan menyebut RCS Su-57 berada pada kisaran 0,1–0,5 meter persegi, meski Russia tidak pernah mengungkap angka resminya.

Artinya, dalam duel Beyond Visual Range (BVR) atau tembak jarak jauh, F-35 berpotensi menemukan lawan lebih dulu sebelum dirinya terdeteksi.

Kecepatan dan Manuver: Su-57 Membalas

Jika pertempuran berubah menjadi duel jarak dekat (dogfight), Su-57 justru memiliki peluang lebih besar.

Jet Russia ini mampu melesat hingga sekitar Mach 2 dengan kemampuan supercruise (terbang supersonik tanpa afterburner) serta menggunakan mesin dengan thrust vectoring tiga dimensi yang membuatnya sangat lincah.

Sebaliknya, F-35 memiliki kecepatan maksimum sekitar Mach 1,6 dan tidak dirancang sebagai spesialis dogfight, melainkan sebagai pesawat penyerang multirole yang mengandalkan sensor dan rudal jarak jauh.

Sensor dan Kesadaran Situasional

Inilah salah satu keunggulan terbesar F-35.

Pesawat ini dilengkapi radar AESA AN/APG-81, sistem Electro-Optical Targeting System (EOTS), Distributed Aperture System (DAS), serta kemampuan sensor fusion yang menggabungkan seluruh informasi menjadi satu tampilan bagi pilot.

Banyak analis menyebut pilot F-35 dapat "melihat lebih dulu dan menembak lebih dulu" dibanding lawannya.

Su-57 juga memiliki radar AESA N036 Byelka dan sensor inframerah canggih yang efektif mendeteksi target siluman melalui panas mesin. Namun, tingkat integrasi data dan jaringan tempurnya dinilai masih berada di bawah F-35.

Jarak Tempur

Dalam hal daya jangkau, Su-57 memiliki keunggulan.

Tanpa pengisian bahan bakar, Su-57 diperkirakan memiliki radius tempur sekitar 1.500–1.900 kilometer.

F-35A memiliki radius tempur sekitar 1.100 kilometer, meski dapat diperpanjang melalui pengisian bahan bakar di udara.

Muatan Senjata

Su-57 juga unggul dalam kapasitas angkut.

Total muatan senjatanya mencapai sekitar 10 ton, baik di ruang senjata internal maupun cantelan eksternal.

F-35 mampu membawa sekitar 8 ton persenjataan. Namun, jika ingin mempertahankan karakteristik siluman, sebagian besar senjata harus ditempatkan di ruang senjata internal sehingga jumlahnya menjadi lebih terbatas.

Harga

F-35 telah diproduksi massal sehingga harga terus turun.

Versi F-35A kini diperkirakan berada pada kisaran 80–90 juta dolar AS per unit.

Sebaliknya, Su-57 diperkirakan berharga sekitar 35–50 juta dolar AS, meski angka pastinya tidak pernah dipublikasikan Russia dan dapat berbeda tergantung kontrak serta perlengkapannya.

Era Drone Wingman

Pertempuran udara masa depan diperkirakan tidak lagi hanya melibatkan satu lawan satu.

Amerika Serikat tengah mengembangkan konsep Collaborative Combat Aircraft (CCA), yakni drone tempur siluman seperti YFQ-42A dan YFQ-44A yang dapat terbang bersama F-35 maupun F-47. Drone ini nantinya dapat membawa rudal, melakukan pengintaian, hingga menjadi umpan tanpa mempertaruhkan nyawa pilot.

Rusia juga mengembangkan drone siluman S-70 Okhotnik-B yang dirancang bekerja sama dengan Su-57. Drone berbobot sekitar 20 ton itu mampu membawa bom dan rudal di ruang senjata internal, serta bertindak sebagai "loyal wingman" untuk memperluas jangkauan serangan maupun misi pengintaian.

Lalu, Siapa Lebih Unggul?

Sebagian besar simulasi menyimpulkan F-35 lebih berpeluang menang dalam pertempuran jarak jauh berkat kemampuan siluman, sensor, dan jaringan data yang sangat maju.

Namun apabila pertempuran berubah menjadi duel jarak dekat yang mengandalkan kelincahan dan manuver ekstrem, Su-57 dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mendominasi.

Dengan kata lain, F-35 unggul dalam "melihat dan menembak lebih dulu", sedangkan Su-57 lebih berbahaya jika berhasil memaksa lawannya bertarung dalam jarak dekat.

Seiring berkembangnya teknologi drone wingman berbasis kecerdasan buatan, duel jet tempur generasi kelima di masa depan kemungkinan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan satu pesawat, melainkan oleh kemampuan satu ekosistem tempur yang terdiri dari pilot, drone, sensor, dan jaringan data yang saling terhubung.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.