Evaluasi Timnas Jangan Sekadar Janji
Selasa, 11 Agu 2026, 06:23 WIBJAKARTA -Kegagalan Timnas Indonesia menembus semifinal Piala AFF 2026 kembali memperlihatkan satu persoalan lama yang belum terselesaikan. Pelatih berganti, wajah skuad berubah, tetapi hasil akhirnya masih sama. Skuad Garuda kembali tersingkir sebelum mencapai fase penentuan.
Indonesia memastikan kegagalan itu setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada pertandingan terakhir Grup A di Stadion Jalan Besar, Singapura, Jumat (7/8). Tambahan satu poin membuat Indonesia mengoleksi tujuh angka dan harus puas finis di posisi ketiga.
Hasil tersebut tentu mengecewakan. Terlebih, Timnas Indonesia datang ke turnamen dengan harapan besar setelah pergantian pelatih. John Herdman dipercaya menggantikan Shin Tae-yong dengan harapan membawa perubahan sekaligus mengangkat prestasi Garuda di level Asia Tenggara.
Namun, harapan itu belum terwujud. Indonesia kembali gagal melangkah jauh. Kegagalan tersebut juga memperpanjang penantian Indonesia untuk merebut gelar Piala AFF.
Pada era Shin Tae-yong, Indonesia sebenarnya sudah menunjukkan perkembangan dengan mencapai final Piala AFF 2020. Sayangnya, Garuda harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Thailand. Setelah era pelatih asal Korea Selatan itu berakhir, John Herdman datang membawa ekspektasi baru.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi memastikan kegagalan tersebut akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Evaluasi akan melibatkan PSSI, Badan Tim Nasional (BTN), Komite Eksekutif (Exco), dan jajaran pelatih.
Menurut Yunus, evaluasi merupakan prosedur rutin yang dilakukan setelah Timnas mengikuti sebuah turnamen. Evaluasi tidak hanya dilakukan ketika Indonesia gagal, tetapi juga setelah meraih kemenangan dan prestasi. âEvaluasi dan diskusi selalu dilakukan oleh Ketua Umum bersama BTN, Exco, dan pelatih,â ujar Yunus.
PSSI juga minta masyarakat tidak melampiaskan kekecewaan kepada pemain dan pelatih. Yunus bahkan membuka ruang kritik terhadap PSSI dan Ketua Umum, tetapi minta para pemain tetap mendapat apresiasi atas perjuangan mereka. âTimnas yang telah berjuang harus tetap kita apresiasi. Silakan mengkritisi PSSI atau Ketua Umum, kami menerima,â ujarnya.
âNamun, yang terpenting adalah jangan menghujat pemain dan pelatih. Mereka adalah aset masa depan,â lanjut Yunus. Persoalannya, evaluasi kali ini tidak boleh berhenti hanya pada rapat dan pernyataan. Kegagalan berulang harus mendorong PSSI melihat persoalan secara lebih luas, mulai dari pemilihan pelatih, kualitas dan komposisi pemain, strategi permainan, hingga arah pembinaan Timnas dalam jangka panjang.
Setelah tersingkir dari Piala AFF, Garuda kini harus segera mengalihkan perhatian ke FIFA ASEAN Cup 2026. Turnamen yang digagas FIFA bersama negara-negara ASEAN tersebut akan berlangsung pada kalender FIFA Matchday periode September-Oktober. Anggota Exco PSSI Achmad Riyadh membenarkan Indonesia menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026. Berdasarkan informasi yang telah berkembang, turnamen ini terbagi dalam Divisi Premier dan Divisi Challenge.
Divisi Premier akan dimainkan di Indonesia dengan peserta Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Pakistan. Sementara Hong Kong, Myanmar, Kamboja, Brunei Darussalam, Laos, dan Timor Leste berada di Divisi Challenge yang berlangsung di Hong Kong.
Kesempatan tampil sebagai tuan rumah dan berlangsung dalam kalender FIFA membuat Indonesia berpeluang menurunkan kekuatan terbaik. Hadiah juara sebesar 1 juta dollar AS atau sekitar 17,8 miliar rupiah juga menambah gengsi turnamen tersebut. ben/G-1
- berita timnas terbaru
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.