Novelis Perantau di Jogja Ruhaeni Intan Raih Dua Penghargaan Sastra Nasional

Senin, 29 Jun 2026, 15:40 WIB

JAKARTA — Novelis yang kini bermukim di Yogyakarta, Ruhaeni Intan, mencatatkan dua capaian penting dalam dunia sastra Indonesia pada Juni 2026. Novela Seakan Bisa Dipisahkan masuk dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026 sekaligus meraih Juara II Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula "Rasa" #5. Kusala Sastra Khatulistiwa merupakan salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di Indonesia. Tahun ini, daftar panjang diseleksi oleh kurator Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria.

Bagi Intan, capaian tersebut merupakan hasil dari strategi yang sejak awal ia bangun sebagai penulis. Perempuan kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu mengaku berupaya menerbitkan buku secara rutin sekaligus mengikuti berbagai sayembara sastra agar karya-karyanya semakin dikenal pembaca.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pribadi Ruhaeni Intan

"Aku memang menyikapi karier menulisku dengan lumayan praktikal. Strateginya, aku kayaknya setiap tahun harus menerbitkan buku supaya orang notice dengan kekaryaanku, dan orang bisa melihat perkembangan karyaku. Selain menerbitkan buku tiap tahun dan menulis sebagus mungkin, ada juga rencana untuk bisa dapat penghargaan," kata Intan, kepada wartawan di Yogya awal pekan ini. 

Perjalanan Intan sebagai penulis dimulai sejak merantau pada usia 18 tahun. Setelah kuliah di Semarang dan bekerja di Jakarta, ia memutuskan menetap di Yogyakarta karena menilai kota tersebut memiliki ekosistem literasi yang mendukung perkembangan penulis.

"Aku tuh pengen kerja sambil nulis. Pokoknya nulis, nulis, nulis. Aku memandang Jogja itu kota yang tepat karena informasi sepintas yang aku ketahui ya dia kota pelajar. Dari cerita teman-temanku, di sana juga banyak diskusi, banyak acara," ujarnya.

Namun, menjadi perantau justru menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses kreatifnya. Intan mengaku tidak lagi merasa sepenuhnya terhubung dengan kampung halamannya di Pati, sementara di Jogja ia juga belum merasa benar-benar menjadi bagian dari kota tersebut. Kondisi itu membuatnya kesulitan membangun latar tempat yang kuat dalam karya-karyanya.

"Sebagai perantau tuh nggak benar-benar berpijak. Kita jauh dari kampung halaman, tapi di tempat baru juga masih merasa liyan," katanya.

Menurut Intan, tantangan tersebut semakin terasa ketika membaca karya-karya penulis seperti Pramoedya Ananta Toer maupun Ahmad Tohari yang mampu menghadirkan latar dengan sangat kuat. Karena itu, saat menulis Seakan Bisa Dipisahkan, ia memilih membatasi ruang cerita di sekitar rumah sehingga konflik lebih berpusat pada hubungan antartokoh dibandingkan identitas geografis suatu kota.

Novela Seakan Bisa Dipisahkan mengisahkan Sofia, anak perempuan sulung yang memiliki hubungan rumit dengan ibunya akibat sikap sang ayah yang perlahan merusak kehidupan keluarga. Tema keluarga disfungsional itu lahir dari gabungan pengalaman pribadi, pengamatan masa kecil di Pati, pengalaman bekerja di media parenting The Asian Parent, serta pengaruh film-film sutradara Jepang Hirokazu Kore-eda.

"Waktu kerja di media parenting, aku jadi menyadari bahwa sebenarnya kalau di Indonesia kayaknya lebih banyak keluarga disfungsional daripada keluarga harmonis," kata Intan.

Novel tersebut diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 2025. Menurut Intan, penghargaan sastra memiliki arti penting karena dapat meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap karya seorang penulis, terutama bagi penulis yang masih membangun karier.

"Di luar pro-kontranya, penghargaan itu semacam bentuk pengakuan. Bukan untuk urusan narsistik, tapi membuat orang yakin untuk mencoba membaca karya kita," ujarnya.

Masuknya Seakan Bisa Dipisahkan dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa menjadi pengalaman pertama Intan memperoleh pengakuan di tingkat nasional. Ia mengaku tidak menyangka novelnya dapat sejajar dengan karya-karya penulis senior seperti Nukila Amal dan Ratih Kumala.

"Sama sekali nggak mengira. Apalagi lihat daftar longlist-nya namanya keren-keren. Ada Nukila Amal, Ratih Kumala. Buset, novelku masuk nih?" katanya.

Pada bulan yang sama, Intan kembali menerima kabar bahwa novelnya meraih Juara II Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula "Rasa" #5.

"Aku kayak, buset, ini ada apa ya di bulan Juni ya?" ujarnya sambil tertawa.

Kini Intan terus menetap di Yogyakarta dan menulis karya-karya fiksi yang banyak berangkat dari pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari, relasi antarmanusia, dan pengalaman perempuan. Ia mengatakan karya berikutnya kemungkinan masih akan mengangkat tema perempuan, sembari mengeksplorasi tema-tema baru agar proses kreatifnya tetap berkembang.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.