Kasus DBD Mengintai, Dinkes Bandarlampung Ajak Warga Cegah dari Lingkungan Rumah.
Minggu, 28 Jun 2026, 17:12 WIBDinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandarlampung menyatakan bahwa upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) paling efektif dimulai dari lingkungan rumah masing-masing.
"Kalau misalnya setiap rumah menjadi jumantik bagi keluarganya sendiri, diharapkan tempat perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD, aedes aegypti, bisa kita putus. Karena itu, masyarakat diharapkan berperan sebagai juru pemantau jentik (jumantik) secara mandiri," kata Kepala Dinkes Bandarlampung Muhtadi Arsyad Tumenggung di Bandarlampung, Minggu.
Ia mengatakan nyamuk aedes aegypti berkembang biak di air bersih yang tergenang, termasuk pada wadah-wadah kecil yang kerap luput dari perhatian, seperti botol atau gelas plastik bekas yang terisi air hujan.
"Walaupun hanya bekas botol atau gelas plastik yang terisi air, itu bisa menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk. Karena itu, rantai kehidupannya harus kita putus dengan menghilangkan tempat perindukannya," katanya.
Selain itu, lanjut dia, masyarakat juga harus menerapkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air.
"Setelah itu upaya terakhir, yakni penggunaan larvasida atau abate yang diberikan pada penampungan air yang memang tidak bisa dikuras. Kalau airnya bisa dibuang, ya sebaiknya dibuang dan dibersihkan," ujarnya.
Ia menerangkan bahwa penularan DBD terjadi ketika nyamuk menggigit penderita yang membawa virus dengue, kemudian menggigit orang lain, sehingga virus berpindah melalui perantara nyamuk.
"Terkait pengendalian kasus, Dinas Kesehatan menerapkan fogging fokus, yakni pengasapan yang dilakukan setelah ditemukan kasus DBD yang telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium," kata dia.
Ia menegaskan fogging bukanlah solusi utama dalam pencegahan DBD. Cara paling efektif tetap dengan memberantas sarang nyamuk, sehingga siklus hidup aedes aegypti dapat diputus.
"Jadi, kami harap warga juga ikut waspada terhadap DBD terlebih saat ini cuaca sulit diprediksi atau memasuki masa pancaroba," kata dia.
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Festival Literasi Bantul 2025 Hadirkan Inovasi dan Ekspresi Budaya
-
BRIN Kembangkan Riset Monitoring Real Time Cegah Kecelakaan Kereta
-
Liga Champions: Arsenal ke Final Usai Taklukkan Atletico Madrid 1-0 di Emirates
-
Perbaiki Kualitas MBG, BGN Tugaskan 5.000 Chef Dampingi SPPG di Seluruh Indonesia
-
Musim Hujan, Pemprov DKI Jakarta Waspadai Kasus Superflu dan DBD
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.