Dosen ITS Kembangkan 'Lift' Pohon Kelapa untuk Bantu Petani Panen Lebih Efisien

Jumat, 26 Jun 2026, 16:18 WIB

SURABAYA - Populasi persebaran lahan kelapa di Indonesia yang terbesar di dunia belum diimbangi dengan tingkat produktivitas perkebunan yang ada, karena faktor risiko keselamatan kerja dan upah yang cenderung rendah. Menjawab keresahan tersebut, dosen Departemen Teknologi Kedokteran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Achmad Syaifudin lakukan pengembangan terbaru alat panjat kelapa yang diberi nama Moto Climber ITS (Mocits). 

Pengembangan teknologi pertanian tersebut merupakan permintaan langsung dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Peneliti yang akrab disapa Syaifudin tersebut menyampaikan bahwa alat mesin pertanian (alsintan) yang dikembangkannya memang melalui proses riset yang lebih singkat dibandingkan inovasi lainnya. “Sebab memang perancangan ini didasari oleh kebutuhan pertanian di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas panen kelapa di Indonesia,” terang dosen dari Laboratorium Mekanika Benda Padat ITS.  

Ket. Foto: Syaifudin mengungkapkan bahwa setiap segmen alat yang dirancangnya mengedepankan sisi ergonomisnya agar lebih familiar dan mudah secara perawatan oleh para kelompok masyarakat yang menggunakannya. — Sumber: Istimewa

Dalam proses risetnya, Syaifudin dan tim telah membuat tiga versi prototipe. Pada versi yang pertama terdapat keterbatasan alat, komponen, hingga bahan saat proses manufaktur dan desain awal. “Rodanya juga terlalu besar, bisa dibilang ini versi yang dibuat terburu-buru meskipun sudah melalui perhitungan,” ungkapnya. 

Setelah melewati evaluasi tersebut, lahir prototipe Beta sebagai versi kedua yang berhasil memanjat pohon, meskipun masih tergolong lambat dengan bobot yang cukup berat. “Namun, prototipe kedua ini yang menjadi wujud pertama dipesan dan dipamerkan sekaligus disaksikan oleh Pak Menteri Pertanian,” jelas Syaifudin.

Berdasarkan implementasi langsung oleh para petani kelapa, tim inovator dari ITS itu diminta untuk menambahkan beberapa fitur hingga akhirnya lahir prototipe terbaru yakni versi Alpha.  “Ini adalah versi optimasi terbaru yang kami lakukan setelah proses wawancara dengan para petani sebelumnya, versi terakhir ini sudah jauh lebih optimal dan telah diuji di Lumajang,” ungkap Syaifudin. 

Lebih lanjut, pada versi terbaru yang telah diuji coba di Lumajang itu, Syaifudin menambahkan berbagai fitur tambahan untuk meningkatkan produktivitas dan keamanan operasional. Ia mengimplementasikan sistem pengereman ganda (double brake) yang secara bawaan, posisi rem dapat mengunci alat dengan pohon kelapa. “Untuk naik, pengguna dapat menekan rem dan menarik gas, selanjutnya untuk turun cukup melepas gas dan rem perlahan,” terangnya.

Selain itu, lanjut alumnus Teknik Mesin ITS tersebut, terdapat juga sabuk pengaman (harness) untuk operator dan mesin yang diikat menggunakan sistem tali pengikat (lashing) yang kuat. Dengan sistem ini, meskipun rem tangan tidak dioperasikan, alat dan pengemudi akan tetap aman tertahan di atas pohon. 

Alat ini juga dirancang dapat disesuaikan dengan diameter pohon kelapa yang beragam (adjustable), mulai dari yang kecil hingga besar dengan kisaran 25 hingga 40 centimeter. Ke depannya, akan digunakannya sistem rack and pinion untuk mengatur diameter pohon. “Sistem ini bekerja untuk mengatur dan menyesuaikan cengkeraman kedua lengan penyeimbang alat terhadap batang pohon, jadi pelukan alat bisa lebih presisi,” papar Syaifudin terkait rencana pengembangan lanjutnya. 

Syaifudin mengungkapkan bahwa setiap segmen alat yang dirancangnya mengedepankan sisi ergonomisnya agar lebih familiar dan mudah secara perawatan oleh para kelompok masyarakat yang menggunakannya. “Oleh karena itu, penggunaan rantai dipilih untuk alat ini sebab secara mekanisme sudah familier bagi masyarakat desa dan lebih mudah dirawat,” ujarnya. 

Sejalan dengan itu, perwakilan dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur Dr Ismatul Hidayah SP MP mengapresiasi penekanan aspek kesederhanaan desain teknologi yang dibuat. Hal itu agar sejalan dengan kebutuhan para petani kelapa yang disasarkan. “Tujuannya kan untuk memudahkan petani, jadi kalau dibandingkan dengan cara manual itu harus lebih efisien, aman, dan mudah diaplikasikan,” tutur perempuan yang akrab disapa Isma ini.

Salah seorang petani lokal yang turut melakukan uji coba, Muhammad Basiran, mengungkapkan bahwa memang alat yang dirancang oleh dosen ITS itu dirasa lebih efektif dibandingkan dengan cara konvensional. “Selain itu, metode penggunaan alat juga saya rasa mudah untuk dipelajari dan diimplementasikan oleh petani seperti saya,” jelas lelaki yang akrab disapa Basiran itu.

Pada proses produksinya, teknologi yang mendapat dukungan dari Kementan RI ini turut menggandeng PT Smarttech Reborn 2007 yang merupakan sebuah perusahaan manufaktur yang dimiliki oleh salah satu alumnus Teknik Mesin ITS. Mitra tersebut bertindak sebagai produsen, yang kemudian produk dipasarkan melalui ITS Science Techno Park untuk dimasukkan ke dalam e-katalog Kementan. 

Perkembangan teknologi alsintan ini menjadi bukti bagaimana ITS mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengembangan industri, inovasi, dan infrastruktur (poin ke-9). Tidak hanya itu, kolaborasi yang mengikutsertakan mitra industri juga sejalan dengan capaian SDGs poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

Gubernur Pramono Sebut Keluarga Kuat dan Masyarakat Peduli Jadi Kunci Kerukunan Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.