Ketika Statistik Ramalkan Umat Manusia Punah 17.000 Tahun Lagi
Senin, 22 Jun 2026, 07:12 WIBKAPAN umat manusia akan berakhir? Pertanyaan tersebut telah lama menjadi bahan diskusi para filsuf, ilmuwan, hingga penulis fiksi ilmiah. Berbagai skenario kiamat kerap dikaitkan dengan ancaman perubahan iklim, perang nuklir, pandemi global, tumbukan asteroid, hingga keruntuhan ekosistem Bumi.
Namun, sekelompok matematikawan menawarkan pendekatan yang berbeda. Mereka mencoba memperkirakan umur peradaban manusia bukan berdasarkan ancaman fisik yang mungkin terjadi, melainkan melalui pendekatan statistik dan probabilitas. Hasilnya cukup mengejutkan: manusia diperkirakan memiliki peluang 95 persen untuk tidak bertahan lebih dari sekitar 17.100 tahun lagi.
Prediksi tersebut berasal dari sebuah konsep yang dikenal sebagai Doomsday Argument atau Argumen Kiamat, teori yang pertama kali dikembangkan berdasarkan gagasan astrofisikawan Brandon Carter pada 1983. Meski menuai banyak kritik dan belum diterima secara luas oleh komunitas ilmiah, teori ini tetap menjadi salah satu eksperimen pemikiran paling menarik dalam matematika dan filsafat sains.
Prinsip Copernican
Dasar utama Argumen Kiamat adalah Prinsip Copernican, sebuah gagasan yang lahir dari revolusi ilmiah pada abad ke-16. Astronom Nicolaus Copernicus mengubah cara manusia memandang alam semesta ketika ia menunjukkan bahwa Bumi bukanlah pusat tata surya.
Dari pemikiran tersebut berkembang sebuah prinsip yang menyatakan bahwa manusia tidak berada pada posisi yang istimewa di alam semesta. Apa yang dilihat dan alami dianggap tidak memiliki keunikan khusus dibandingkan pengamat lain di tempat dan waktu berbeda.
Dalam ilmu kosmologi modern, prinsip ini sering digunakan untuk menjelaskan bahwa tata surya ini kemungkinan hanyalah salah satu dari banyak sistem serupa di alam semesta. Para pendukung Argumen Kiamat kemudian menerapkan logika yang sama pada sejarah manusia.
Mereka berpendapat bahwa manusia yang hidup saat ini tidak memiliki posisi khusus dalam perjalanan panjang spesies Homo sapiens. Dengan kata lain, setiap individu dianggap memiliki peluang yang sama untuk lahir di bagian awal, tengah, maupun akhir sejarah umat manusia.
Jumlah Manusia yang ÂPernah Hidup
Untuk memahami teori ini, para matematikawan membayangkan seluruh manusia yang pernah hidup disusun dalam sebuah urutan berdasarkan waktu kelahiran.
Manusia pertama menempati posisi nomor satu. Manusia kedua berada pada posisi nomor dua, dan seterusnya hingga manusia terakhir yang suatu hari nanti akan lahir sebelum spesies kita punah.
Menurut berbagai estimasi demografi global, sekitar 117 miliar manusia telah lahir dan hidup di Bumi sejak kemunculan Homo sapiens hingga saat ini. Angka tersebut menjadi titik awal perhitungan Argumen Kiamat.
Jika posisi manusia saat ini berada pada urutan sekitar 117 miliar, maka pertanyaannya adalah: seberapa jauh lagi garis sejarah manusia akan berlanjut? Para pendukung teori berargumen bahwa jika seseorang dipilih secara acak dari seluruh manusia yang pernah hidup, maka kemungkinan besar ia tidak akan berada di bagian yang sangat awal dari garis tersebut.
Secara statistik, mereka memperkirakan dengan tingkat keyakinan 95 persen bahwa posisi manusia saat ini berada dalam rentang 5 persen hingga 100 persen dari keseluruhan populasi manusia yang akan pernah ada.
Dari asumsi itulah muncul kesimpulan bahwa jumlah total manusia yang akan pernah hidup kemungkinan tidak melebihi sekitar 20 kali jumlah manusia yang sudah pernah lahir hingga sekarang. Jika angka 117 miliar dikalikan 20, maka diperoleh estimasi sekitar 2,34 triliun manusia sebagai batas atas jumlah manusia yang akan pernah ada.
Analogi Bola Pingpong
Karena konsep ini cukup abstrak, para matematikawan sering menggunakan ilustrasi sederhana berupa dua kotak berisi bola pingpong. Kotak pertama berisi 10 bola bernomor 1 hingga 10. Kotak kedua berisi 100.000 bola dengan nomor berurutan Seseorang kemudian mengambil sebuah bola bernomor 4 dari salah satu kotak tanpa mengetahui isi masing-masing kotak.
Secara intuitif, kebanyakan orang akan menganggap bola tersebut lebih mungkin berasal dari kotak yang hanya berisi 10 bola. Peluang mendapatkan nomor 4 dari kotak kecil jauh lebih besar dibandingkan dari kotak yang berisi 100.000 bola.
Menurut Argumen Kiamat, sejarah manusia bekerja dengan cara serupa. Jika manusia hidup setelah sekitar 117 miliar manusia lahir, maka lebih masuk akal secara statistik bahwa jumlah total manusia tidak akan mencapai angka yang sangat besar dibandingkan skenario di mana peradaban manusia bertahan jutaan tahun dan menghasilkan jumlah manusia yang nyaris tak terbatas.
Dengan kata lain, teori ini tidak mencoba memprediksi penyebab kepunahan manusia. Ia hanya memperkirakan kemungkinan panjang umur spesies manusia berdasarkan posisi kita dalam urutan sejarah.
Mengapa Angka 17.100 Tahun Muncul?
Setelah memperkirakan jumlah maksimum manusia yang akan pernah hidup sekitar 2,34 triliun orang, matematikawan mencoba menerjemahkannya ke dalam skala waktu.
Data demografi menunjukkan bahwa selama sekitar 40 tahun terakhir, rata-rata terdapat sekitar 130 juta kelahiran setiap tahun di seluruh dunia. Meskipun tingkat fertilitas menurun di banyak negara, jumlah penduduk global secara keseluruhan masih terus bertambah.
Jika angka kelahiran tahunan tersebut diasumsikan relatif stabil, maka dibutuhkan sekitar 17.100 tahun bagi umat manusia untuk mencapai total 2,34 triliun manusia yang pernah hidup. Perhitungan inilah yang kemudian melahirkan klaim bahwa manusia kemungkinan besar akan punah.
Namun para ahli menegaskan bahwa angka itu bukanlah tanggal kiamat. Angka tersebut hanya merupakan hasil dari model probabilitas yang dibangun di atas sejumlah asumsi statistik. hay
- Jejak Peradaban
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
PWI Pusat dan Ditjenpas Kolaborasi Kembangkan Komunikasi Publik di Lapas Cipinang
-
Kemenkes Imbau Jamaah Calon Haji Batasi Aktivitas di Luar Hotel untuk Jaga Kesehatan
-
Sawah 21.014 Hektare Dipanen, Lebak Unjuk Gigi Jaga Ketersediaan Pangan
-
Kiandra Ramadhipa Ungkap Kunci Kemenangannya di GP Spanyol
-
UNGA: Piagam PBB Jadi Landasan untuk Menjaga Perdamaian Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.