Grebeg Suro Singkawang jadi Momentum Mempererat Persatuan

Senin, 22 Jun 2026, 16:23 WIB

SINGKAWANG -- Wakil Wali Kota Singkawang Muhammadin mengatakan, perayaan Singkawang Grebeg Suro 2026 menjadi momentum penting untuk mempererat persatuan masyarakat sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas kota tersebut.

"Grebeg Suro menjadi momentum untuk mempererat persatuan, melestarikan nilai-nilai budaya, serta memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Kota Singkawang," kata Muhammadin saat membuka Singkawang Grebeg Suro 2026 di Taman Parkir Kridasana Singkawang, Senin.

Ket. Foto: Pembukaan Singkawang Grebeg Suro 2026 di Taman Parkir Kridasana, Kota Singkawang, Senin (22/6). — Sumber: ANTARA/Narwati

Ia mengatakan, Grebeg Suro tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga wadah untuk mempertemukan berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial.

Menurut dia, tradisi Grebeg yang berasal dari budaya Mataram telah dimaknai ulang oleh masyarakat Singkawang sebagai perayaan kebersamaan.

Berbagai simbol seperti tumpeng, hasil bumi, dan gunungan yang dibagikan kepada masyarakat menjadi lambang rasa syukur sekaligus harapan agar keberkahan dapat dirasakan bersama.

"Tak ada sekat. Berbagai suku antre bersama, saling bersalaman di Kridasana, karena semua adalah warga Singkawang," ujarnya.

Prosesi Grebeg Suro diawali dengan kirab gunungan dari titik kumpul menuju panggung utama yang disambut antusias ribuan warga. Diiringi tarian kolosal yang dibawakan pelajar dan sanggar seni, gunungan berisi beras, buah-buahan, sayuran, serta aneka jajanan tradisional kemudian diperebutkan masyarakat.

Bagi sebagian warga, isi gunungan yang diperoleh dipercaya membawa berkah dan menjadi simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Selain prosesi adat, perayaan Grebeg Suro juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni lintas etnis yang menampilkan berbagai kesenian daerah seperti reog, zapin, tarian Dayak, barongsai, hingga penampilan band lokal.

Muhammadin menilai kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman budaya di Singkawang tidak menjadi pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun keharmonisan dan identitas kota.

"Para anak muda Singkawang menunjukkan kreativitasnya. Budaya tidak dilestarikan dengan disimpan, tetapi dengan dihidupkan bersama generasi baru," katanya.

Ia menambahkan, penyelenggaraan Grebeg Suro juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak kuliner maupun kerajinan di sekitar lokasi kegiatan.

Berbagai produk khas daerah seperti lemang, bubur pedas, aneka kue tradisional hingga kerajinan anyaman Dayak mendapat perhatian dan banyak diminati pengunjung.

Menurut dia, sinergi antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kerakyatan menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembangunan Kota Singkawang yang inklusif dan berkelanjutan.

"Semoga semangat kebersamaan dan gotong royong senantiasa menjadi kekuatan dalam membangun Kota Singkawang yang harmonis, maju, dan sejahtera," ujar Muhammadin.

  • Grebeg Suro Singkawang

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.