UNAND Kaji Sistem Parak Minangkabau, Solusi Kearifan Lokal Hadapi Perubahan Iklim Global

Minggu, 21 Jun 2026, 06:00 WIB

Padang - Universitas Andalas (UNAND) Sumatera Barat (Sumbar) melakukan kajian terhadap sistem pertanian tradisional Minangkabau yang dikenal sebagai parak untuk dipadukan dengan konsep pertanian cerdas iklim sebagai upaya menghadapi perubahan iklim.

Peneliti Fakultas Pertanian UNAND Yulinda di Padang, Sabtu (20/6), mengatakan bahwa kearifan lokal Minangkabau tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan.

Ket. Foto: Petani menunjukkan asam kandis yang merupakan hasil hutan Nagari Salibutan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. — Sumber: Antara

“Kearifan lokal Minangkabau berupa sistem parak memiliki potensi besar untuk menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kajian ini dilatarbelakangi meningkatnya ancaman perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, banjir, dan longsor di berbagai wilayah Sumatera Barat. Salah satu upaya yang dilakukan UNAND adalah melalui riset pengembangan agroforestri cerdas iklim di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

Yulinda menjelaskan, Hutan Nagari Salibutan merupakan kawasan penting sebagai penyangga lingkungan di daerah aliran Sungai Batang Anai yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi masyarakat di wilayah hilir. Namun, perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu udara, serta tingginya risiko bencana hidrometeorologi membuat kawasan tersebut rentan terhadap degradasi lingkungan.

“UNAND tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mendorong penerapan hasil riset secara langsung bersama masyarakat,” ujarnya.

Dalam implementasinya, masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengembangkan pola agroforestri berlapis. Pohon-pohon seperti asam kandis, durian, manggis, petai, dan pinang dipertahankan sebagai pelindung kawasan sekaligus penyerap karbon.

Pada lapisan berikutnya ditanam kakao, sementara tanaman rempah seperti jahe, kunyit, dan serai tumbuh di lantai hutan sebagai sumber pendapatan tambahan masyarakat.

Hasil penelitian UNAND menunjukkan bahwa model tersebut mampu menjawab tiga tujuan utama pertanian cerdas iklim, yakni meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui diversifikasi usaha, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

“Selain memberikan manfaat ekologis, sistem agroforestri juga membuka peluang ekonomi baru termasuk potensi pengembangan perdagangan karbon berbasis masyarakat yang saat ini mulai menjadi perhatian dunia,” kata Yulinda.

  • Riset Pertanian

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.