Pemerintah Didesak Percepat Migrasi ke Kompor Listrik
Rabu, 17 Jun 2026, 06:05 WIBTransisi Energi
JAKARTA â Pemerintah perlu mempercepat program transisi dari kompor gas LPG (Liquefied Petroleum Gas) ke kompor listrik. Dorongan ini muncul di tengah ketidakpasÂtian harga energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam jangka panjang, perÂcepatan elektrifikasi rumah tangga dapat memperkuat ketahanÂan energi nasional, meÂngurangi tekanan fiskal, serta mendukung peÂmanfaatan pasokan lisÂtrik domestik yang lebih stabil dan terdiversifiÂkasi.
Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno menilai langkah konversi ke kompor listrik jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan beban subsidi impor LPG (Liquefied Petroleum Gas) yang terus membengkak. Harga LPG di dalam negeri sangat diÂpengaruhi fluktuasi harga miÂnyak dunia.
âSebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75â80 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah,â ujar Eddy dalam raker dengan Menteri ESDM di DPR, Senin (15/6).
Menurut Eddy, percepatÂan transisi energi rumah tangÂga perlu dilakukan segera agar beban APBN terhadap subsidi energi impor bisa ditekan. Ia menekankan bahwa stabilitas energi nasional harus dibangun dengan memperkuat pemanfaÂatan energi domestik yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya MineÂral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyiapkan kompor listrik dengan daya di bawah 900 kiÂlovolt ampere (kVA) untuk ruÂmah tangga, sebagai langkah konversi kompor LPG menjadi kompor listrik.
Akan tetapi, dia mengataÂkan belum menentukan berapa unit kompor listrik yang akan disiapkan. Dirinya memperÂkirakan kepastian jumlah unit kompor listriknya baru bisa diÂumumkan pada Agustus mendatang.
Dia menjelaskan saat ini Indonesia mengimÂpor 80 persen dari keÂbutuhan LPG-nya. SeÂtiap tahun, lanjut dia, devisa negara yang dikeÂluarkan untuk keperluÂan mengimpor LPG sebesar 120 triliun rupiah.
Subsisi Membengkak
Dengan harga minyak duÂnia yang seperti saat ini, dia mengatakan devisa yang dikeÂluarkan untuk mengimpor LPG mencapai 130 triliun ruÂpiah. âSubsidinya sudah di atas 80 triliun rupiah. Kalau konÂdisi ini terus dibiarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi maÂsalah. Maka, alternatifnya adaÂlah kompor listrik,â kata Bahlil, awal pekan ini.
Dia mengusulkan anggaran sebesar 815,56 miliar rupiah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja NeÂgara (RAPBN) 2027 untuk proÂgram kompor listrik dalam rangka mengurangi keterganÂtungan impor LPG.
Wacana transisi dari komÂpor LPG menjadi kompor listrik pernah bergulir pada masa keÂpresidenan Joko Widodo. NaÂmun, pada September 2022, PT PLN membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kg ke kompor listrik
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
KKP Rapikan Data Laut demi Pembangunan Tanggul Pantura yang Lebih Aman
-
Manga Jepang "Chiikawa" Buka Toko Merchandise Pertama di Hong Kong
-
Tak Sekadar EV, Bahlil Klaim Proyek Baterai Huayou Jadi Penopang 100 GW PLTS
-
AS dan Iran Mau Duduk Bareng di Oman, Negosiasi Nuklir Digelar Jumat Ini
-
Kadin Indonesia Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2026 Sekitar 5,4-5,5 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.