Iran di Piala Dunia 2026: Ketika Sepak Bola Menyatukan Harapan di Tengah Bayang-Bayang Konflik

Rabu, 17 Jun 2026, 00:15 WIB

TEHERAN— Suasana haru dan kegembiraan bercampur ketika warga Iran mengikuti langkah pertama tim nasional mereka di Piala Dunia. Meski pertandingan berlangsung dini hari waktu setempat dan berada dalam bayang-bayang ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat, dukungan terhadap Team Melli tetap mengalir.

Laga Iran melawan Selandia Baru yang dimulai pukul 04.30 waktu setempat membuat sebagian besar warga Teheran masih tertidur. Namun, beberapa kafe yang membuka siaran pertandingan sudah dipenuhi puluhan pendukung yang ingin menyaksikan perjuangan tim kebanggaan mereka.

Ket. Foto: Suasana nonton bareng (nobar) timnas Iran di Teheran. — Sumber: AFP

Sekitar 40 penggemar sepak bola berkumpul, membicarakan peluang Iran di turnamen yang berlangsung di Amerika Utara tersebut. Bagi mereka, Piala Dunia kali ini memiliki makna berbeda karena digelar di tengah ketegangan akibat konflik antara Iran dan negara tuan rumah bersama, Amerika Serikat.

Di antara para penonton terdapat banyak perempuan muda dengan rambut dicat atau diputihkan, beberapa di antaranya tidak mengenakan penutup kepala.

"Saya dan teman saya yakin tim Iran bisa lolos ke babak berikutnya, dan saya berharap itu benar-benar terjadi," kata Shiva Sharifi, guru berusia 21 tahun, yang mengenakan gelang dengan warna bendera Iran.

Meski waktu masih sangat pagi, kafe tersebut tetap penuh. Para penggemar menyaksikan pertandingan sambil menikmati hidangan sederhana seperti tomat, keju, dan omelet yang disajikan untuk menemani mereka menonton.

Pertandingan itu berlangsung sehari setelah muncul kabar mengenai kesepakatan antara Teheran dan Washington untuk menghentikan konflik yang sebelumnya memicu ketegangan besar.

Namun, bagi sebagian warga, sepak bola tetap menjadi ruang berbeda.

"Hal itu tidak banyak mengubah keadaan karena sifatnya sementara," ujar Aryan Ghaee, 31 tahun, yang menyaksikan laga bersama teman-temannya.

Perhatian para penonton kemudian sepenuhnya beralih ke lapangan ketika komentator televisi Iran berseru setelah melihat bendera besar Iran berkibar di stadion.

Ribuan kilometer dari Teheran, suasana di stadion juga memperlihatkan dinamika politik. Beberapa pendukung membawa bendera Iran lama sebelum Revolusi 1979, yang menampilkan simbol singa dan matahari.

Simbol tersebut dianggap sensitif oleh pemerintah Iran. Bahkan sebelumnya muncul kekhawatiran bahwa keberadaan bendera tertentu dapat memicu masalah di stadion.

Meski demikian, para pemain tetap berusaha fokus pada pertandingan.

"Saya pikir sepak bola dan politik harus dipisahkan. Keduanya tidak seharusnya dicampur," kata Shiva.

Menurutnya, Iran sempat tampil gugup di awal laga, tetapi mulai menemukan ritme setelah mencetak gol melalui Ramin Rezaeian pada menit ke-32.

Selandia Baru sempat unggul dua kali, tetapi gol penyama kedudukan Iran dalam hasil imbang 2-2 memicu sorakan besar di kafe. Para suporter berpelukan dan mengibarkan bendera.

Di balik kegembiraan tersebut, perjalanan Iran menuju Piala Dunia tidak mudah.

Pelatih Amir Ghalenoei bahkan menyebut timnya sebagai salah satu peserta yang paling menderita di turnamen ini.

Setelah pertandingan pembuka di Los Angeles, Iran langsung diminta kembali ke pusat latihan mereka di Meksiko tanpa waktu pemulihan yang cukup.

"Kami terlambat tiba, lalu mereka meminta kami kembali lebih cepat tanpa waktu pemulihan," kata Ghalenoei.

Situasi semakin rumit karena Iran harus memindahkan kamp latihan dari Tucson, Arizona, ke Tijuana. Selain itu, Amerika Serikat juga menolak visa bagi sekitar 15 anggota staf kepelatihan Iran untuk tiga pertandingan fase grup mereka yang semuanya dimainkan di wilayah AS.

"Begitulah yang kami alami," ujar Abolfazl Kazemi, salah satu suporter, merujuk pada kebijakan pemerintah Amerika Serikat.

Namun, ketegangan tersebut tidak menghilangkan semangat para penggemar.

Pemilik kafe, Ali Sadr, mengatakan ia membuka tempatnya agar masyarakat bisa berkumpul menikmati pertandingan.

"Saya ingin mengumpulkan teman-teman dan menikmati pertandingan, terutama dalam kondisi khusus seperti sekarang, dengan adanya perang dan berbagai masalah lainnya," ujarnya.

Bagi masyarakat Iran, Piala Dunia kali ini bukan hanya tentang hasil pertandingan. Ini adalah momen ketika sepak bola menjadi ruang kebersamaan, harapan, dan identitas nasional di tengah situasi yang penuh tekanan.

  • Piala Dunia 2026
  • Timnas Iran

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.