Pelabuhan Kilo Diproyeksikan Jadi Simpul Strategis Logistik Sumbawa

Selasa, 16 Jun 2026, 19:00 WIB

DOMPU – Pembangunan infrastruktur yang mendukung kelancaran logistik menjadi faktor krusial dalam meningkatkan efisiensi distribusi barang dan daya saing ekonomi.

Ketersediaan jalan, pelabuhan, bandara, serta jaringan transportasi yang terintegrasi dapat menekan biaya logistik, mempercepat arus barang, dan memperlancar konektivitas antarwilayah.

Ket. Foto: Pekerja mengoperasikan alat berat untuk menimbun serta meratakan lahan Pelabuhan Kilo di Desa Mbuju, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (16/6/2026). — Sumber: ANTARA/Ady Ardiansah

Semakin efisien sistem logistik yang dibangun, semakin besar peluang mendorong pertumbuhan investasi, memperkuat rantai pasok, serta meningkatkan akses pasar bagi pelaku usaha di berbagai daerah.

Pemerintah bersama pelaksana proyek terus mempercepat pembangunan Pelabuhan Kilo di Kabupaten Dompu untuk menjadikan simpul logistik baru yang mendukung distribusi barang dan jasa bagi Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Saat ini progres pekerjaan sudah di atas 20 persen," kata pelaksana proyek pembangunan Pelabuhan Kilo Peter P dalam keterangan di Dompu, Selasa (16/6).

Peter optimistis kemajuan pembangunan bisa terus meningkat seiring dimulainya kembali pekerjaan timbunan yang berfokus pada akses menuju pelabuhan, kawasan fasilitas carat dan area causeway yang menghubungkan fasilitas pelabuhan dengan daratan.

Tahapan pekerjaan timbunan menjadi fondasi penting sebelum pembangunan konstruksi berikutnya di Pelabuhan Kilo.

Menurut dia, fasilitas darat diprioritaskan karena menjadi penunjang utama untuk operasional pelabuhan sekaligus mendukung pelaksanaan pekerjaan fasilitas laut.

Sejumlah fasilitas yang sedang dibangun meliputi terminal penumpang, kantor pelabuhan, gudang, lapangan penumpukan barang, area parkir, jalan lingkungan pelabuhan, jalan penghubung, mushala, pos jaga, ruang genset, pagar kawasan, serta berbagai sarana pendukung.

Pelaksana proyek juga mengerjakan pembuatan kubus beton untuk perlindungan lereng causeway, pembesian struktur bangunan laut, pekerjaan bekisting, pembangunan direksi keet, gudang material, dan bedeng pekerja.

Peter mengakui proyek sempat menghadapi kendala eksternal berupa gangguan sosial di lapangan dan proses perizinan material galian. Berbagai persoalan itu berangsur terselesaikan, sehingga pekerjaan dapat kembali berjalan sesuai rencana.

Proses pengadaan tiang pancang sebagai material utama telah selesai diproduksi dan dijadwalkan segera didatangkan ke lokasi proyek untuk mendukung pembangunan fasilitas laut di Pelabuhan Kilo.

"Kedatangan tiang pancang menjadi tahapan penting karena menandai dimulainya pekerjaan konstruksi fasilitas laut yang diperkirakan dapat mempercepat peningkatan progres pembangunan secara keseluruhan," kata Peter.

Proyek pembangunan Pelabuhan Kilo yang menelan anggaran sekitar Rp85,1 miliar tersebut berada dalam pengawasan pemerintah pusat karena merupakan bagian dari program strategis nasional untuk memperkuat konektivitas dan sistem logistik di kawasan timur Indonesia.

Peter menegaskan perkembangan pekerjaan dilaporkan secara berkala kepada kementerian terkait guna memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai target waktu, spesifikasi teknis, dan standar mutu yang telah ditetapkan.

Proyek pembangunan Pelabuhan Kilo melibatkan 27 tenaga kerja yang terdiri atas sembilan staf lapangan, satu operator alat berat, tujuh helper, dan 10 pekerja sipil.

"Sebanyak 10 orang di antaranya merupakan tenaga kerja lokal dan kebutuhan tenaga kerja lokal akan terus bertambah seiring meningkatnya volume pekerjaan pada fasilitas darat maupun fasilitas laut," ujar Peter.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.