Senyum Petani Badui Mengembang, Harga Kencur Kini Tembus Rp20 Ribu per Kilo
Minggu, 14 Jun 2026, 18:35 WIBLEBAK â Senyum sumringah terlihat di wajah para petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten. Setelah berbulan-bulan merawat tanaman di ladang, mereka kini menikmati kabar baik dari hasil panen kencur.
Harga komoditas rempah tersebut yang ditampung pengepul setempat naik menjadi Rp20 ribu per kilogram, meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp15 ribu per kilogram.
Kenaikan harga ini membawa angin segar bagi masyarakat Badui yang selama ini mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan.
Bagi mereka, selisih harga Rp5 ribu per kilogram bukan sekadar angka, melainkan tambahan pendapatan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan mendukung aktivitas bercocok tanam pada musim berikutnya.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi petani, mulai dari cuaca hingga fluktuasi harga hasil pertanian, membaiknya nilai jual kencur menjadi harapan baru.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa komoditas rempah lokal masih memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan jika didukung pasar yang stabil dan rantai distribusi yang berjalan baik.
Bagi petani Badui, panen kali ini bukan hanya tentang hasil yang dipetik dari tanah, tetapi juga tentang optimisme yang kembali tumbuh bersama meningkatnya harga jual kencur.
"Kita panen kencur tahun ini menguntungkan, karena harganya relatif bagus ditampung pengepul Rp20 ribu per kilogram. Kita hari ini menghasilkan Rp10 juta dari panen 500 kilogram kencur," kata Santa, seorang petani kencur Badui saat dihubungi di Lebak, Sabtu (13/6).
Panen kencur secara serentak di kawasan kebun warga Badui tahun ini cukup membantu ekonomi keluarga, walau harus bersabar dengan pemelihara tanaman sampai waktu 12 bulan setelah tanam.
Budidaya kencur yang dikembangkan petani Badui di lahan darat sudah dilakukan turun temurun sebagai andalan ekonomi keluarga.
Masyarakat Badui mengembangkan pertanian kencur dengan pola tumpang sari bersama tanaman lainnya, seperti tanaman pangan, hortikultura, palawija dan tanaman keras.
Dalam satu hamparan kebun biasanya ditanami berbagai tanaman sehingga ada yang dipanen setiap tiga bulan seperti jagung, enam bulan seperti ubi jalar, bahkan setahun seperti kencur.
Begitu juga petani Badui lainnya, Sangsang yang mengaku panen sekitar 400 kg kencur dan menghasilkan pendapatan kotor Rp8 juta.
Saman, seorang pengepul komoditas hasil bumi di perbatasan perkampungan masyarakat Badui mengatakan sejak sepekan terakhir mulaimenampung panen kencur dari petani Badui.
"Sudah sekitar empat ton yang ditampung dan nanti dipasok ke Pasar Rangkasbitung," katanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan, selama ini tanaman kencur andalan ekonomi masyarakat Badui dan jumlahnya mencapai puluhan ton per musim panen.
"Selama ini, kualitas kencur Badui terbaik karena tanpa menggunakan pupuk kimia," katanya.
- Petani Badui
- kencur
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.