Merawat Jembatan Ampera sebagai Tempat Wisata Ramah Wisatawan

Minggu, 14 Jun 2026, 16:15 WIB

PALEMBANG -- Bagi siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di Bumi Sriwijaya, Jembatan Ampera bukan sekadar konstruksi baja yang menyambung dua sisi Sungai Musi.

Ia adalah urat nadi, saksi sejarah, sekaligus ruang rindu bagi setiap perantau dan pelancong. Namun, keelokan sang ikon tempat pelesiran itu, belakangan sempat terusik oleh tangan-tangan jahil dari hilangnya besi pembatas trotoar, hingga keluhan akibat parkir liar.

Ket. Foto: Jembatan Ampera Palembang, Sumatera Selatan. — Sumber: ANTARA/M Imam Pramana

​Bergerak cepat dari keresahan itu, Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan, kini merajut kembali kenyamanan di atas jembatan merah tersebut.

Wajah Ampera sedang bersolek, bertransformasi menjadi objek wisata yang jauh lebih ramah, aman, dan hangat bagi siapa saja yang datang berkunjung.

​"Palembang adalah kota yang kaya sejarah dan budaya. Karena itu, keamanan pengunjung adalah prioritas. Kami ingin setiap orang yang datang merasa nyaman dan membawa pengalaman positif," ujar Wali Kota Palembang Ratu Dewa.

​"Mata" yang menjaga

​Menikmati angin sepoi-sepoi Sungai Musi dari atas trotoar Ampera, kini terasa lebih tenang. Langkah Pemkot Palembang memasang enam titik kamera pengintai (CCTV) di sepanjang jembatan menjadi jawaban atas kecemasan warga.

​Jika dulu kamera hanya menyorot bagian tengah, kini sudut-sudut rawan di areal hulu dan hilir jembatan tak luput dari pengawasan digital selama 24 jam penuh. Langkah ini terbukti ampuh mempersempit ruang gerak pelaku kriminalitas dan aksi vandalisme yang sempat merusak estetika jembatan.

​Rasa aman ini kian lengkap dengan hadirnya personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bersiaga secara bergantian. Menariknya, pendekatan yang dilakukan pemerintah daerah itu lebih humanis. Salah satunya terlihat dari cara petugas menertibkan para konten kreator yang kerap melakukan siaran langsung pada malam hari.

​Pemerintah tidak melarang kreativitas mereka yang turut mempromosikan keindahan Ampera di media sosial. Sambil mengedukasi, petugas hanya mengarahkan agar mereka memarkir kendaraan di kantong parkir resmi berbasis barcode yang aman, sehingga jalur trotoar dan jalan tetap lengang bagi pejalan kaki serta pengendara lain.

​Minggu berbeda

​Upaya mengembalikan Ampera sebagai ruang publik yang humanis mencapai puncaknya melalui program hari bebas kendaraan bermotor (CFD) Jembatan Ampera.

Setelah melalui serangkaian uji coba, sejak April lalu, kawasan ini bersiap menyambut peresmian besarnya pada Minggu, 14 Juni 2026, setelah fasilitas fisik yang sempat rusak, selesai diperbaiki oleh balai jalan nasional.

​Bayangkan, Minggu pagi tanpa bising knalpot dan kepulan asap polusi di atas Ampera. Mulai pukul 05.30 hingga 09.00 WIB, jalur dari depan Masjid Al-Fathul Akbar Jakabaring, hingga Simpang Charitas, berubah menjadi panggung kegembiraan warga.

​Kawasan bebas kendaraan ini dengan apik dibagi menjadi dua zona, yakni ​zona kebugaran yang menjadi ruang bagi mereka yang ingin berlari, jalan santai, atau sekadar menghirup udara segar pagi hari di atas sungai.

​Zona ekonomi kreatif, yakni area khusus yang menghadirkan denyut nadi UMKM lokal. Di sini, wisatawan bisa berolahraga, sekaligus memanjakan lidah dengan kuliner khas Palembang atau berburu kerajinan tangan lokal.

​Melalui harmoni antara ketegasan menjaga keamanan dan kelembutan dalam menata ruang publik, Jembatan Ampera, kini bukan lagi sekadar tempat melintas yang nyaman. Ia telah kembali menjadi rumah yang ramah, tempat di mana senyum wisatawan dan geliat ekonomi warga lokal menyatu di bawah langit Kota Palembang.

London Bridge

"Saya sangat bangga menjadi warga Sumatera Selatan, bisa menikmati kemegahan Jembatan Ampera, karena memang lagi ramai disebut netizen mirip dengan London Bridge," ujar Iqbal Khoir (26), wisatawan lokal asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel.

Dengan hadirnya negara lewat pemerintah daerah, kemegahan Jembatan Ampera lebih terasa saat malam hari. Jembatan ikonik itu menyuguhkan cahaya lampu yang bisa berubah-ubah, dari merah, ungu, hingga hijau.

Pengamat kebijakan publik Bagindo Togar menyebutkan upaya Pemkot Palembang menjadikan Ampera sebagai objek wisata yang lebih menarik bisa dilakukan dengan menjadikannya sebagai landmark, seperti di Malioboro, Yogyakarta.

Konsekuensinya, jembatan itu ditutup, dan benar-benar menjadi kawasan wisata, hanya diperbolehkan dilintasi kendaraan ramah lingkungan, seperti becak, pejalan kaki, dan pesepeda, hingga sentra usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Jembatan Ampera memang sudah menjadi idola sejak dahulu pertama kali dibangun, dengan nama awal Jembatan Bung Karno.

Sementara dengan kebijakan Pemkot Palembang membuat CFD setiap Minggu pagi, perlu dicarikan solusi dari kecenderungan timbulnya kepadatan lalu lintas di luar wilayah itu.

Hal itu karena Kota Palembang, tidak banyak memiliki jalan utama yang besar, seperti Jalan Sudirman, Basuki Rahmat, Kertapati, Arivai.

Sejarah Ampera

Sementara itu sejarah pembangunan Jembatan Ampera dimulai pada April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

Pada awalnya, sarana untuk transportasi itu, dinamai Jembatan Bung Karno. Pemberian nama proklamator tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden pertama RI itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian Jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Jembatan Ampera adalah sejarah panjang yang tidak hanya menghubungkan dua sisi Sungai Musi, melainkan juga menjembatani masa lalu dan masa kini untuk kesejahteraan masyarakat.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.