• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Alergi Susu Sapi Bisa Picu...

Alergi Susu Sapi Bisa Picu Stunting, Sarihusada Ajak Orang Tua SADAR Lewat Edukasi Ini

Kamis, 11 Jun 2026, 16:25 WIB

JAKARTA - Menyambut World Allergy Week 2026 yang mengusung tema "Allergy Care is Essential Care", Sarihusada melalui inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) mengajak para orang tua untuk lebih waspada terhadap alergi protein susu sapi (APSS) pada anak. Edukasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya deteksi dini, konsultasi medis, dan dukungan nutrisi yang tepat agar tumbuh kembang anak tetap optimal.

Alergi protein susu sapi merupakan salah satu bentuk alergi yang cukup sering ditemukan pada anak usia dini. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition pada 2025, prevalensi alergi susu sapi secara global berkisar antara 2 hingga 7,5 persen. Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian alergi susu sapi di Indonesia dapat mencapai 7,5 persen.

Ket. Foto: Menyambut World Allergy Week 2026 yang mengusung tema "Allergy Care is Essential Care", Sarihusada melalui inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi) mengajak para orang tua untuk lebih waspada terhadap alergi protein susu sapi (APSS) pada anak. — Sumber: Istimewa

Meski cukup umum terjadi, kondisi tersebut kerap tidak dikenali sejak awal karena gejalanya sering menyerupai gangguan kesehatan lain yang umum dialami anak. Ruam kulit, gangguan pencernaan, hingga perubahan perilaku setelah mengonsumsi susu sering kali dianggap sebagai kondisi biasa sehingga orang tua terlambat menyadari adanya alergi protein susu sapi.

Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, mengatakan masih banyak orang tua yang menghadapi tantangan dalam mengenali gejala alergi susu sapi pada anak. Menurutnya, keterlambatan penanganan dapat berdampak pada kenyamanan maupun tumbuh kembang anak.

"Sebagai perusahaan yang berfokus pada pemenuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak, Sarihusada melihat bahwa alergi susu sapi masih menjadi tantangan yang cukup banyak dihadapi orang tua, terutama karena gejalanya sering disalahartikan sebagai kondisi umum, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan dalam penanganan yang berpengaruh pada kenyamanan dan tumbuh kembang anak," ujar Vera Saw.

Ia menambahkan bahwa melalui inisiatif SADAR Alergi, perusahaan berupaya menghadirkan akses terhadap informasi yang kredibel dan berbasis sains. Selain itu, program tersebut juga mendorong orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak sebelum mengambil keputusan terkait diagnosis maupun penanganan alergi.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina, menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kondisi alergi yang berbeda sehingga penanganannya tidak dapat disamaratakan. Ia menegaskan bahwa diagnosis dan pemilihan nutrisi harus dilakukan berdasarkan evaluasi medis yang tepat.

"Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan. Karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, maka seluruh proses mulai dari diagnosis serta pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter anak agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga," kata dr. Molly.

Menurutnya, pada anak dengan alergi ringan hingga sedang, dokter dapat merekomendasikan formula terhidrolisa ekstensif atau extensively hydrolyzed formula (EHF). Sementara untuk kondisi yang lebih berat, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan amino acid formula (AAF). Formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif pada kondisi tertentu sesuai rekomendasi dokter.

Pengalaman menghadapi alergi susu sapi juga dibagikan oleh momfluencer Sandra Devita yang memiliki anak dengan alergi susu sapi. Ia mengaku sempat merasa cemas dan kebingungan saat anaknya menunjukkan reaksi tertentu setelah mengonsumsi susu sapi.

"Dari pengalaman ini saya belajar bahwa menjadi orang tua tidak cukup hanya SADAR alergi saja, tetapi juga perlu mengambil langkah nyata seperti berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai kondisi anak, bukan langsung mengambil kesimpulan sendiri," ujar Sandra Devita.

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan dampak alergi susu sapi tidak hanya berkaitan dengan gejala fisik. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat memengaruhi kecukupan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal.

"Tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting," kata Ray Wagiu Basrowi.

Sebagai bagian dari peringatan World Allergy Week 2026, Sarihusada juga bekerja sama dengan Alodokter untuk menghadirkan layanan konsultasi gratis dengan dokter anak. Melalui program tersebut, orang tua dapat memperoleh informasi dan arahan terpercaya mengenai alergi protein susu sapi sehingga dapat mengambil langkah penanganan yang sesuai sejak dini.

Selain itu, masyarakat juga dapat mengakses berbagai materi edukasi melalui media sosial dengan tagar #SADARAlergi. Melalui pendekatan edukasi berbasis sains dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan, Sarihusada berharap semakin banyak orang tua memahami pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap alergi protein susu sapi agar anak tetap dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.