- Home
-
- Luar Negeri
-
- Studi: Pengeluaran Global ...
Studi: Pengeluaran Global untuk Senjata Nuklir Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Perlombaan Senjata Baru
Selasa, 09 Jun 2026, 08:42 WIBJENEWA - Pengeluaran global untuk senjata nuklir melonjak ke rekor tertinggi tahun lalu karena negara-negara yang memiliki senjata nuklir memindahkan lebih banyak hulu ledak dari penyimpanan ke sistem pengiriman, kata para ahli, Selasa (9/6).
Sembilan negara bersenjata nuklir secara bersama-sama menghabiskan hampir $119 miliar untuk persenjataan mereka tahun lalu, meningkat 19 persen dari tahun 2024, menurut Kampanye Internasional untuk Menghapus Senjata Nuklir (ICAN).
"Perlombaan senjata nuklir baru telah tiba," demikian peringatan dalam laporan tersebut.
ICAN, dan sebuah studi terpisah oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis pada hari Senin, menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya risiko nuklir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Peningkatan drastis pengeluaran untuk senjata nuklir terjadi ketika negara-negara bergegas memodernisasi persenjataan mereka dan mengerahkan lebih banyak persediaan mereka, demikian hasil studi tersebut menunjukkan.
Direktur Program ICAN, Susi Snyder, dan salah satu penulis laporan tersebut, mengatakan, peningkatan skala tersebut, ditambah dengan kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat meningkatkan risiko penggunaan senjata nuklir, sangat mengkhawatirkan.
"Sejujurnya, saya sangat takut," katanya kepada AFP.
Studi tersebut menunjukkan bahwa semua negara yang memiliki senjata nuklir -- Inggris, Tiongkok, Prancis, India, Israel, Korea Utara, Pakistan, Russia, dan Amerika Serikat -- meningkatkan pengeluaran mereka tahun lalu.
Laporan SIPRI menyoroti total perkiraan jumlah hulu ledak nuklir telah menurun selama beberapa dekade, turun menjadi 12.187 pada awal tahun ini, tetapi jumlah senjata yang tersedia untuk potensi penggunaan telah meningkat, menjadi 9.745.
"Meskipun kita memiliki jumlah senjata nuklir yang lebih sedikit, tingkat bahaya dan risiko nuklir justru meningkat," kata direktur SIPRI, Karim Haggag, kepada AFP.
Dia menunjuk pada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, termasuk runtuhnya kontrol senjata strategis dan persaingan antara kekuatan besar dengan senjata nuklir.
SIPRI memperkirakan, secara keseluruhan persediaan senjata nuklir kemungkinan akan mulai meningkat lagi dalam beberapa tahun mendatang "karena laju pembongkaran melambat, sementara penyebaran senjata nuklir baru semakin cepat".
Amerika Serikat dan Russia bersama-sama memiliki sekitar 83 persen dari persediaan senjata nuklir dunia, dengan lebih dari 5.000 hulu ledak masing-masing. Tiongkok memperluas persenjataan nuklirnya lebih cepat daripada negara lain mana pun, kata SIPRI. Mereka diperkirakan memiliki sekitar 620 hulu ledak.Â
"Meningkatnya persaingan geopolitik berarti adanya insentif yang sangat kuat bagi Tiongkok untuk meningkatkan ketergantungannya pada senjata nuklir," kata Haggag.
Laporan ICAN menunjukkan bahwa semua negara bersenjata nuklir, termasuk Inggris, Prancis, India, Israel, Korea Utara, dan Pakistan, meningkatkan investasi dalam persenjataan mereka.
Kesembilan negara tersebut secara bersama-sama menghabiskan hampir 17 miliar dolar AS lebih banyak tahun lalu dibandingkan tahun 2024 untuk senjata pemusnah massal.
Washington menghabiskan lebih banyak uang daripada gabungan semua negara lain, dengan menggelontorkan $69,2 miliar untuk senjata nuklir pada tahun 2025 -- peningkatan sebesar $12,4 miliar dari tahun sebelumnya, menurut ICAN.
Amerika Serikat diikuti oleh Tiongkok, yang diperkirakan telah menghabiskan $13,5 miliar tahun lalu, kemudian Inggris dengan $12,6 miliar dan Russia dengan $9,5 miliar, kata laporan itu.
Selama lima tahun terakhir, laporan tersebut menetapkan sembilan negara tersebut telah menghabiskan lebih dari 470 miliar dolar AS untuk persenjataan mereka.
Investasi tersebut diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.
Dengan meneliti proyeksi jangka panjang, ICAN menyoroti angka-angka dari Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat yang menunjukkan rencana untuk menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan dan memelihara sistem senjata nuklir hingga abad berikutnya.
Negara-negara lain juga memperkenalkan sistem senjata baru dengan masa pakai yang lama, kata laporan itu.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa rudal balistik antarbenua Sentinel baru yang direncanakan AS diperkirakan akan tetap beroperasi hingga setelah tahun 2100, sementara peningkatan produksi inti plutonium AS menunjukkan bahwa hulu ledak negara tersebut akan bertahan hingga tahun 2120.
Hal itu akan berarti investasi yang signifikan, dengan pengeluaran senjata nuklir AS selama dekade antara tahun 2025 dan 2034 saja diproyeksikan mendekati $1 triliun.
Para peneliti mengatakan bahwa jumlah yang sangat besar itu sangat mengejutkan pada saat sistem kemanusiaan global sedang terguncang akibat pemotongan pendanaan yang drastis.
Mereka mengatakan pengeluaran untuk senjata nuklir hanya dalam satu hari tahun lalu saja sudah cukup untuk menyediakan ketahanan pangan bagi lebih dari dua juta orang.
Alih-alih memberikan bantuan atau layanan kesehatan bagi penduduknya, negara-negara bersenjata nuklir malah berinvestasi dalam "persenjataan yang mereka sendiri tahu tidak dapat digunakan tanpa melakukan kejahatan perang," kata Snyder.Â
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Rumah Pintar di Daerah 3T
-
Latihan Airborne Operations Super Garuda Shield 2025
-
Liburan Makin Asyik, Dinas Perhubungan Bali Siapkan Uji Coba Taksi Laut
-
Pemerintah Longgarkan Proses Pengadaan Energi dari Amerika Serikat
-
Diplomasi Pendidikan Makin Kuat, Gala Alumni Australia Satukan Ratusan Tokoh Berpengaruh di Jakarta
-
RI Harus Tambah Program Cetak Sawah Demi Stabilkan Harga Beras
-
Digitalisasi Meteorologi: Teknologi Cuaca Jadi Penentu Panen, Petani Tak Bisa Lagi Hanya Mengandalkan Insting
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.