Presiden AS Donald Trump Kaji Skema Kepemilikan Saham OpenAI untuk Publik

Minggu, 07 Jun 2026, 14:45 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan kecerdasan buatan (AI) mengenai kemungkinan skema yang memungkinkan masyarakat Amerika Serikat memperoleh manfaat langsung dari pertumbuhan industri tersebut.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Air Force One, Trump menjelaskan bahwa pemerintah tengah membahas konsep yang memungkinkan warga Amerika memiliki keterlibatan langsung dalam perusahaan-perusahaan AI yang berkembang pesat. Meski tidak menyebut nama perusahaan secara spesifik, sejumlah laporan menyebutkan bahwa OpenAI menjadi salah satu kandidat utama dalam pembahasan tersebut.

Ket. Foto: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan kecerdasan buatan (AI) mengenai kemungkinan skema yang memungkinkan masyarakat Amerika Serikat memperoleh manfaat langsung dari pertumbuhan industri tersebut. — Sumber: AFP

"Konsepnya adalah sebagian kepemilikan dapat diberikan kepada publik Amerika sehingga masyarakat pada dasarnya menjadi mitra perusahaan-perusahaan tersebut," ujar Trump.

Gagasan tersebut muncul setelah laporan CNBC menyebut pemerintahan Trump telah melakukan diskusi mengenai kemungkinan kepemilikan saham pemerintah dalam OpenAI. Sebagian saham yang diperoleh nantinya disebut berpotensi digunakan untuk mendukung pembentukan Dana Kekayaan Publik atau Public Wealth Fund yang sebelumnya diusulkan OpenAI.

Dalam proposalnya, OpenAI menyatakan hasil investasi dari dana tersebut dapat didistribusikan langsung kepada warga negara sehingga masyarakat dapat menikmati manfaat ekonomi dari pertumbuhan AI, terlepas dari tingkat kekayaan atau akses mereka terhadap pasar modal.

Menurut laporan Bloomberg, Chief Executive Officer OpenAI, Sam Altman, telah mendiskusikan konsep kepemilikan saham pemerintah pada perusahaan AI besar sejak awal 2025. Gagasan tersebut dinilai sebagai salah satu cara untuk memastikan manfaat ekonomi AI dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Rencana tersebut sejalan dengan ketertarikan Trump terhadap model kepemilikan pemerintah pada perusahaan strategis. Sebelumnya, pemerintah AS diketahui mengambil sekitar 10 persen kepemilikan saham dalam Intel Corporation sebagai bagian dari upaya mendukung perusahaan semikonduktor tersebut.

Di sisi lain, gagasan distribusi manfaat AI kepada publik juga mendapat dukungan dari kalangan progresif. Senator independen AS, Bernie Sanders, baru-baru ini mengusulkan pajak satu kali sebesar 50 persen terhadap perusahaan AI besar seperti Anthropic, OpenAI, dan xAI yang dibayarkan dalam bentuk saham.

Menurut Sanders, langkah tersebut akan memberikan masyarakat peran langsung dalam menentukan arah perkembangan teknologi AI sekaligus memastikan keuntungan ekonomi bernilai triliunan dolar dari sektor tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan publik.

Namun, usulan tersebut tidak lepas dari kritik. Investor teknologi dan mantan penasihat AI Gedung Putih, David Sacks, menyatakan dapat memahami mengapa gagasan itu menarik bagi banyak kalangan, termasuk sebagian kelompok konservatif. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi mempercepat integrasi antara korporasi dan pemerintah yang menurutnya perlu dihindari.

Perdebatan mengenai kepemilikan publik atas perusahaan AI semakin menguat seiring pesatnya pertumbuhan industri kecerdasan buatan. Dengan sejumlah perusahaan AI besar diperkirakan menuju penawaran saham perdana atau IPO dalam beberapa tahun mendatang, diskusi mengenai distribusi manfaat ekonomi AI kepada masyarakat diperkirakan akan menjadi salah satu isu penting dalam kebijakan teknologi Amerika Serikat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.