Berpotensi Melemah Lanjutan, 5 Juni 2026
Jumat, 05 Jun 2026, 08:30 WIBJAKARTA â Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan akhir pekan seiring meningkatÂnya sentimen risk-off di pasar domestik maupun global. Kondisi ini mencerminkan kecenderungan investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman di teÂngah ketidakpastian ekonomi, geopolitik, dan arah kebijakÂan suku bunga global.Â
Pengamat mata uang, Lukman Leong melihat perkemÂbangan situasi geopolitik di Timur Tengah juga masih akan menjadi katalis utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Karenanya, dia memproyekÂsikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Jumat (5/6), bergerak fluktuatif di rentang 17.950-18.100 rupiah per dollar AS dengan kecenÂderungan melemah.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada perdagangan, KaÂmis (4/6) sore, ditutup melemah 83 poin atau 0,46 persen dari sehari sebelumnya menjadi 18.049 rupiah per dollar AS. âPelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pergerakan rupiah,â ujar Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi.
Dari eksternal, lanjutnya, investor cenderung berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur TeÂngah. âWashington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, mesÂkipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah,â ujar Ibrahim di Jakarta.
Di AS, DPR yang dikuasai Partai Republik menyetujui resolusi untuk membatasi Presiden Donald Trump melanÂjutkan konflik militer dengan Iran. Namun, agar berlaku, reÂsolusi tersebut masih memerlukan persetujuan Senat serta dukungan mayoritas dua pertiga suara di kedua kamar unÂtuk mengesampingkan potensi veto presiden.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaÂan AS, terutama laporan non-farm payrolls yang akan diÂumumkan pada Jumat.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak lonjakan harga minyak mentah terhadap fiskal dan sektor eksternal Indonesia. Menurut dia, harga minyak yang tinggi berpotensi mendorong defisit fiskal mendekati batas 3 persen serta menekan neraca eksternal.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Konser di ICE BSD, aespa Akui Waktu di Jakarta Selalu Terburu-Buru
-
BPBD DKI Minta Warga Waspada Hadapi Cuaca Ekstrem
-
DLH Mimika Alokasikan Rp18 Miliar untuk Gaji Petugas Kebersihan, Total 182 Orang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.