Rupiah Hari Ini Jebol Rp18.000 per Dolar AS, Alarm Ekonomi Kian Nyaring?
Kamis, 04 Jun 2026, 17:02 WIBJAKARTA â Melemahnya rupiah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal dan tingginya permintaan terhadap mata uang AS di pasar global.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya impor, menambah tekanan inflasi, serta memperbesar beban sektor usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS. Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati respons otoritas moneter serta perkembangan sentimen global yang menjadi penentu arah pergerakan nilai tukar.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (4/6) sore, ditutup melemah 0,46 persen menjadi Rp18.049 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pergerakan rupiah.
Dari eksternal, investor cenderung berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
âWashington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah,â ujar Ibrahim di Jakarta.
Ketegangan juga dipicu laporan serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain serta serangan AS terhadap Pulau Qeshm di Iran yang berada dekat Selat Hormuz.
Di sisi lain, Israel dilaporkan memperluas operasi militernya di Lebanon selatan dengan menargetkan wilayah yang dikuasai Hizbullah.
Di AS, DPR yang dikuasai Partai Republik menyetujui resolusi untuk membatasi Presiden Donald Trump melanjutkan konflik militer dengan Iran. Namun, agar berlaku, resolusi tersebut masih memerlukan persetujuan Senat serta dukungan mayoritas dua pertiga suara di kedua kamar untuk mengesampingkan potensi veto presiden.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan AS, terutama laporan non-farm payrolls yang akan diumumkan pada Jumat.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak lonjakan harga minyak mentah terhadap fiskal dan sektor eksternal Indonesia.
Menurut dia, harga minyak yang tinggi berpotensi mendorong defisit fiskal mendekati batas 3 persen serta menekan neraca eksternal.
Selain itu, pasar juga mencermati kemungkinan meningkatnya intervensi pemerintah di sektor komoditas dan belum adanya kepastian terkait status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
Data perdagangan April juga menunjukkan surplus neraca perdagangan mulai menyusut karena kenaikan impor minyak yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor.
Sementara, inflasi pada Mei tercatat naik menjadi 3,08 persen, melampaui titik tengah target Bank Indonesia (BI) akibat kenaikan harga barang impor.
Sentimen lain datang dari pemeringkatan PT Danantara Investment Management oleh Moodyâs Ratings. Lembaga pemeringkat tersebut memberikan peringkat Baa2 untuk program global medium-term note yang akan diterbitkan perusahaan tersebut.
Namun, Moodyâs menetapkan prospek (outlook) negatif terhadap peringkat Danantara Investment Management. Menurut Moodyâs, penilaian itu mencerminkan keterkaitan yang kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham penuh.
Terkait outlook negatif tersebut, Moodyâs menilai penilaian ini berdasarkan kaitan kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemilik penuh Danantara.
"Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia. Peringkat Danantara Investment Management bisa turun, jika peringkat soveregin Indonesia melemah," ujar Ibrahim.
Adapun Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan berikutnya masih bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp18.050 - Rp18.120 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg di Jateng-DIY
-
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Berkala Kebijakan Penahanan Harga BBM
-
Pasar Jaya Kerahkan 33 Truk Angkut Sampah di Pasar Induk Kramat Jati
-
Cari Informasi Lebih Cepat Tanpa Pindah Aplikasi lewat Circle to Search
-
Pemkot Tangerang Larang ASN Keluar Kota saat "WFA"
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.